Tuesday, September 30, 2008

dua lelaki...

ada dua lelaki dalam kehidupanku saat ini.
bukan berarti aku selingkuh ya... CATAT!
keduanya aku sayangi dan mereka berdua pun demikian terhadapku.
yang pertama tentu saja suamiku tersayang, Yahya.
yang kedua... hm... tidak etis kalau kusebutkan namanya. panggil saja dia A.
hubunganku yang sudah lama terputus dengan A kembali terjalin sekitar tiga bulan lalu. dulunya kami pernah pacaran, mmm... atau mungkin bisa dikatakan dia adalah cintaku yang tidak pernah kesampaian.
nah, kembali ke cerita saat ini.
tiga bulan lalu aku kembali bertemu dengannya saat bertandan ke kotanya untuk urusan pekerjaan.
ada rasa yang aneh saat aku bertemu dengan A setelah empat tahun hilang kontak.
kagok dan yang pasti salting, mengingat hubungan kami yang tidak berjalan dengan baik di masa lampau.
tapi, di moment itulah, aku berusaha untuk memaafkan kesalahan yang pernah dilakukannya padaku. kembali membuka hatiku untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan A. aku juga bersyukur bahwa dia akhirnya bisa menjadi suami dan bapak yang baik untuk keluarganya.
meski harus kuakui, aku tidak bisa menyembunyikan rasa sayangku padanya, demikian juga sebaliknya.
aku bersyukur juga memiliki Yahya, yang juga sangat menyayangiku apa adanya. dan karena aku sangat sayang pada Yahya, aku harus bisa menempatkan diri di hadapan A. yah... aku sayang keduanya. Yahya sebagai suamiku. A kini sebagai sahabatku.

Sunday, August 31, 2008

8

Delapan tahun sudah aku bergelut dengan profesiku sebagai jurnalis. Sejauh ini, aku bukanlah seorang jurnalis yang sukses seperti kawan-kawanku. Kebanyakan dari mereka sudah duduk manis di depan meja. Mulai mendapat kesempatan menjadi redaktur dan juga produser. Aku masih jauh dari itu semua.

Selama delapan tahun aku berkutat dengan narasumber, naskah, foto dan gambar bergerak, masih saja aku belum bisa mendapatkan apa yang kuinginkan. Saat kutapakkan kaki di dunia jurnalisme, aku sama sekali tidak memiliki pemikiran bahwa jurnalisme itu penuh dengan kebohongan. Tidak ada lagi yang benar-benar mewakili rakyat. Semuanya adalah kepentingan bisnis dari pemilik media semata.

Delapan tahun hampir berlalu. Aku mulai menilik kembali perjalananku. Aku kemba bertanya pada diriku sendiri. "Akankah aku akan menjadi seorang jurnalis? Akankah aku bisa menjelaskan semua permasalahan yang ada pada mereka -- orang-orang yang tidak tahu apa-apa?"
Hmmm... sejauh ini, aku sama sekali jauh dari mengerti keinginanku di masa depan.
Tapi, kalau boleh aku jujur, aku sangat ingin bisa melepaskan diri dari name tag jurnalis yang saat ini tersemat di dadaku.
Seperti yang sudah kubilang ke Yahya, "Mamas Sayang, istrimu ini sudah jenuh dengan ketololan bangsa ini. Aku sudah tidak ingin lagi bekerja dan menjadikan semuanya sia-sia. "
Dan Yahya pun bertanya padaku, "Istriku Sayang, apa yang saat ini kamu inginkan?"
Aku pun lantas terdiam sejenak, sebelum akhirnya sembari tersenyum, aku pun menjawab, "Sayang, aku ingin jadi istri, ibu dan penulis yang baik."

Yah, butuh waktu delapan tahun bagiku untuk memaknai kehidupanku sebagai jurnalis.

Tuesday, May 27, 2008

Cinta Sejati...

seperti apa cinta sejati itu untukmu?

mmm... pertanyaan itu pernah diungkapkan oleh salah satu sahabatku padaku beberpa tahun silam saat aku masih membujang. saat itu dia terheran-heran dengan sikapku. aku tidak punya pasangan tetap, dalam artian, aku tidak punya pacar tetapi punya banyak "kawan dekat".

well, buatku, sebenarnya cinta sejati itu tidak hanya harus dengan pasangan kekasih. tetapi aku lebih melihat cinta sejati yang kumiliki itu adalah dengan sahabatku itu, yang notabene berjenis kelamin sama denganku, yaitu perempuan. kenapa? aku dan dia selalu bersama dalam suka dan duka. kami berdua tidak pernah meninggalkan satu sama lain. kesedihannya adalah kesedihanku demikian juga sebaliknya. kebahagiaannya merupakan kebahagiaanku, demikian juga kebahagiaanku adalah kebahagiaannya.

bahkan, saat aku bertemu dengan calon suamiku -- saat itu aku masih bujang, catat -- kami berdua juga berusaha untuk jadi orang yang saling mendukung. yah..., meski harus diakui bahwa waktu untuk bersama kian menyempit. jadi... sebenarnya, siapa cinta sejatimu? dan saat ini, aku harus mengakui, bahwa cinta sejatiku itu hanya buatmu sahabatku...

cinta sejati yang kumiliki untukmu adalah cinta yang membuatku tidak memiliki rasa cemburu, cinta yang membuatku tidak pernah merasa sakit, cinta yang membuatku melakukan apa pun tanpa ingin mendapatkan balasan yang setimpal.

Thursday, May 22, 2008

Puji Tuhan, Haleluya

Ada banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup di dunia ini. Dan saat ini aku sedang belajar untuk mensyukuri apa pun yang aku miliki dan aku peroleh meski pahit dan tidak sebanyak yang diperoleh orang lain.

Semalam, ada pengumuman besaran bonus yang diterima oleh karyawan dari kantor. Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, aku selalu tidak pernah berharap banyak. Alasannya... Well, banyak faktor yang tidak etis kalau kusebutkan secara terbuka. Dan memang dari kejadian di setiap tahun itulah, aku selalu berusaha -- karena sampai sekarang masih belum sukses melakukannya -- untuk selalu bisa mensyukuri apa yang sudah diberikan Allah kepadaku. Puji Tuhan, Halleluya...

Ada banyak rejeki diluar kisaran uang yang sudah aku nikmati saat ini. Ada banyak hal yang membuatku bisa tersenyum dan bahagia. Yap, dan pasti bukan uang yang membuatku merasa senang dan bahagia. Masih ada kesuksesan lain yang saat ini patut kusyukuri. Sekali lagi, puji Tuhan, Halleluya...

Oya, hari Senin yang lalu -- aku nulis ini di hari Jumat, aku baru kembali dari Surabaya. Seperti biasa, nengokin Theresa sayang. Ya ampun... banyak banget perubahan dan kemajuan yang sudah dicapai sama Theresa. Makin pintar ngomong, menyanyi dan menari. Yang paling membuatku terkesan, Theresa kian pandai menjaga dirinya, meski saat ini umurnya masih 2,5 tahun. Dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. Tapi, ya..., namanya juga anak manja, Theresa masih suka merajuk. Nah..., mana yang paling penting dalam kehidupan, mendapat banyak uang atau melihat anak tumbuh dan perkembang dengan baik. Wuah... kalau menurutku sih, melihat Theresa makin pintar dan sehat.

Friday, May 02, 2008

Wuah.... Akhirnya...

huahaha...
setelah sekian lama -- mungkin berbulan-bulan mencari, akhirnya kau bisa membuka lagi bloggerku ini. hihihi... bukannya apa-apa, aku lupa log in-nya. weh..! bener2 ngga banget deh. dasar sudah tua dan pikun.

Saturday, May 05, 2007

Papa, itu siapa ya...?

Dia cuma lirak lirik malu-malu. Di matanya aku bisa membaca kebingungannya. Tapi saat mobil-mobilan mungil berwarna biru dan merah kuserahkan, maka mereka berdua langsung asyik bermain bersama.

Yap, begitulah interaksi Theresa dengan Yahya yang sudah lima bulan tidak bersua. Beruntung, aku ingat kalau aku membawakan oleh-oleh mobil-mobilan untuk Theresa. Maka jadilah mobil-mobilan itu jembatan penghubung mereka berdua. Theresa terlihat senang saat dia diajari menjalankan mobil oleh Yahya. Dia sampai tertawa terbahak-bahak begitu dilihatnya mobil-mobilan itu berjalan dan akhirnya menabrak tembok.

Hm... tapi dibalik itu semua aku jadi khawatir. Karena aku takut Theresa jadi lupa sama papanya, dan dia malah memanggil om pada Yahya. Weleh....!!! Tapi ya, mau tidak mau fakta yang seperti itu sudah ada. Theresa memanggil kedua orangtuaku dengan sebutan rama (bapak) dan ibu. Tapi ya, namanya anak-anak yang baru bisa ngomong.

Kedekatan antara ayah dan anak itu akhirnya bisa mereka dapatkan saat kami pergi ke Wisata Bahari Lamongan. Yahya selalu menggandeng Theresa kemana pun kami pergi. Dan moment yang sangat disenangi Yahya adalah saat kami masuk ke dalam rumah kaca. Di situ dia merasakan kedekatannya dengan Theresa yang senantiasa dia gendong.

bersambung......

Friday, March 23, 2007

Ada Apa Dengan Oktober...?

Tiap kali aku akan menuliskan bulan secara nominal, aku akan menuliskan angka 10 bukannya 3. Padahal saat ini masih bulan Maret. Dan kesalahan penulisan itu tidak hanya sekali saja terjadi. Berulang kali! Sampai-sampai aku bengong sendiri.

Aku baru menyadarinya ketika aku sedang menulis di buku harianku. Aku perhatikan ada beberapa tulisanku yang harus aku coret lantaran aku menuliskan angka sepuluh bukannya tiga. Well, ada apa dengan Oktober...?

Kalau mau dirunut kebelakang, tanpa aku sadari sebetulnya aku memiliki sebuah insting atau mungkin "kemampuan" yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Hanya saja, kemampuanku yang satu itu tidak pernah aku latih. Aku hanya membiarkannya tumbuh dan tak ingin memupuknya.

Aku tidak mau kecewa dan merasa lebih tahu dibandingkan yang lainnya. Aku juga tidak mau melihat hal-hal yang sama sekali tidak ingin aku lihat. Aku sudah beberapa kali merasa bahwa aku dilihat dan diperhatikan oleh banyak mata. Padahal orang-orang sedang tidak melihat kepadaku. Itu hal yang sangat tidak mungkin kan....

Well, masih banyak kejadian yang hingga saat ini pun sama sekali tidak bisa dijelaskan. Karena itulah, aku membiarkan semuanya berjalan begitu saja tanpa mau memoles kemampuanku itu. Aku takut efek sampingnya...