Sunday, August 29, 2004

Rindu Rumah

Wajah mereka senantiasa tersenyum kala aku berpamitan dan kemudian melambaikan tangan. Meski aku tahu mereka tak pernah tega melepas aku pergi ke Jakarta, tiap kali aku pulang. Pandangan mata tak tega itu, selalu saja terbayang ketika aku akan meninggalkan rumah menuju ke sebuah lokasi yang jarak ratusan kilo meter dari rumah.

Namun, aku coba buktikan kepada mereka bahwa aku bisa. Dan aku sudah buktikan itu. Walau begitu, tetap saja pandangan tak tega itu membuatku selalu rindu rumah. Aku merindukan kecerewetan ibuku, yang selalu kuhindari kala aku berada di dekatnya. Aku rindu ke-diaman ayahku, yang sering kali membuatku jengkel.

Kerinduan itu, sempat membuncah kala aku dirundung masalah. Ingin rasanya terbang ke rumah. Merasakan hangatnya selimut bututku yang umurnya sama denganku saat ini, 27 tahun. Terkadang aku ingin bisa melayang, tidur bersama dengan ibu, seperti tiap kali aku merasa ketakutan kala terbangun di tengah malam. Aku juga masih sering melamunkan saat-saat dimana ibu dengan setia membacakan Bobo untukku menjelang tidur.

Ah, rindu rumah. Kerinduan itu tak akan bisa ditebus dengan apapun. Tak ada yang bisa menggantikan kenangan manis itu. Tak ada yang bisa mengubah sejarah manis di rumahku, meski kini aku tinggal ratusan kilo meter darinya. JAuh dari ayah dan ibu.

miss You Ma, miss You Pa. I Love you.

Saturday, August 28, 2004

Rest In Schock!

Rest In Schock!

Sepertinya di kantorku sedang ada wabah sakit jantung. penyakit itu bukannya diderita oleh para manusia yang bekerja di kantorku, tetapi oleh beberapa program yang baru saja ditayangkan. dua di antara program yang menderita sakit jantung adalah program dimana aku bertugas, Sportivo.
Aku dan rekan-rekanku harus merelakan kematian mendadak Gila Bola as GIBOL! dan Legenda Liga, lantaran keduanya terkena SERANGAN JANTUNG, dari bagian programing!
Executive Produser-ku, puyeng kepalanya. Bagaimana tidak, kedua program itu, bisa dikatakan masih prematur, usianya masih delapan episode as dua bulan jalan. tiba-tiba saja tanpa alasan yang jelas, keduanya dibubarkan -- ini istilah kasar ya. padahal kedua program itu, memiliki nilai share penonton yang mulai menunjukkan kenaikan yang signifikan.
aku sebagai buruh di stasiun televisi, hanya bisa mengelus dada tanpa bisa berkomentar. aku tak punya kuasa apapun terhadap kebijakan yang dibuat oleh raksasa entertainment.
kata beberapa rekanku, serangan jantung yang diderita oleh GIBOL! dan Legenda Liga itu, sudah membunuh inspirasi, kreatifitas dan ide gila yang ada di otak mereka. tapi, menurutku, yang paling parah, serangan jantung itu, bisa membunuh semangat kerja dan semangat juang rekan-rekanku. mereka bekerja siang malam, bahkan ada yang tak pulang ke rumah, karena senang bisa bekerja dan bisa menyalurkan inspirasinya.
aku hanya bisa berkata: "s'moga GIBOL! dan Legenda Liga bisa beristirahat dengan tenang di sisi Bapa. GIBOL! akan selalu dikenang dengan kegilaan kru-nya yang tidak pernah mengeluh kala bekerja. dan s'moga Legenda Liga menjadi legenda yang selalu dikenang oleh penggemar dan stasiun TV yang membunuhnya. don't Rest In Schock, please Rest In Peace!"

Friday, August 27, 2004

Palembang Pusink

PON!
Pekan Olahraga Nasional!
Bakal digelar di kota pempek, Palembang, 2- 14 September mendatang. Cuma, PON kali ini, sedikit bikin aku jutek. lantaran tugas yang diembankan kantor ke pundakku, tak hanya liputan. tapi juga mencari rumah kontrakan, laundry etc.. etc.. etc...
Bingung, sedikit, karena selfcontrol-ku baru setengah. aku sudah tahu kalau di sana bakal tidak ada penginapan. dan aku bertanggungjawab terhadap nasib tujuh rekanku yang lain, yang satu tim dalam peliputan.
Tapi, meski pusing tujuh keliling, aku merasa senang. sebab, berangkat ke PON tidak pernah ada di jadwal DLK (Dinas Luar Kota)-ku. setidaknya aku akan pernah menginjakkan kakiku ke kota lain di Sumatera selain Bandar Lampung. Dan setidaknya aku punya kesempatan berkunjung ke kota kelahiran sahabatku yang saat ini sedang pulang kampung. dia harus kembali ke Palembang karena melahirkan awal bulan ini. Kata suaminya, si Kecil yang nama lengkapnya hanya kuingat Audi.....Aisyah.., itu, sangat lucu.
Berangkat ke PON, buat aku bukan sesuatu yang istimewa. tapi berkunjung ke suatu tempat yang baru, itu yang membuat PON ini istimewa. Selain itu, aku menganggap ini adalah salah satu bagian dari kepasrahanku menerima tugas dari kantor. aku malas untuk memikirkan kapan aku dapat jatah DLK, seperti beberapa kawanku yang lain. aku lebih baik memikirkan pekerjaan yang aku harus lakukan saat ini dibandingkan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Tuesday, August 24, 2004

Sahabat?

Sahabat...
malam ini, aku mungkin akan kehilangan seorang sahabat. aku kecewa dengan diriku sendiri. seorang sahabat baikku, teman berbagi suka dan duka telah meragukan arti persahabatan yang selama ini, aku jalin dengannya. hanya karena seorang laki-laki yang bagiku bukan siapa-siapa. dengan semena-mena dia menuduh aku telah mengambil laki-lakinya. God! aku bukan perempuan yang seperti itu, dan aku bukan tipe sahabat yang dengan seenaknya akan menusuk dari belakang.

Sahabat....
namun, kemudian aku melihat kembali perjalanan yang kulalui bersamanya. aku toh tak pernah bisa merasa dekat dengannya. aku selama ini hanya dijadikan tempat sampahnya kala dia sedang dirundung duka. dia hanya membutuhkan aku ketika sedang dilanda amarah dengan laki-lakinya. hhhh.....

Sahabat....
aku akan membiarkanmu pergi meninggalkanku. atau aku yang akan meninggalkanmu. sebab, aku sudah tidak ingin lagi terkekang dalam kemunafikan yang kau bangun bersama dengan laki-lakimu. selama ini aku telah memegang banyak sekali rahasia antara kau dan laki-lakimu. tapi, yang aku dapatkan hanya sebuah ketidakpuasanmu. kau menuduhku melanggar kepercayaan yang selama ini kau berikan kepadaku. Gila!

Sahabat....
mulai saat ini kau bukan lagi orang yang bisa berbagi suka dan duka bersamaku. Aku tidak pernah keberatan dengan itu semua. jalanmu dan jalanku memang berbeda. dan aku tidak ingin mengikuti jalur yang kau tempuh. aku punya jalanku sendiri melawan keragu-raguanmu terhadapku. aku akan pergi meninggalkanmu. toh, selama ini aku juga tak terlalu ambil peduli dengan apa yang terjadi denganmu. karena segala sesuatu yang menyangkut dirimu, kau juga yang putuskan.

Saturday, August 21, 2004

KauL

"Seminari berusia 200 tahun ditutup karena skandal seks.
Banyak kasus disumpal dengan 'dana kolekte' dan bisnis judi"
Gatra No 41 tahun X

Sebuah seminari di Austria ditutup lantaran banyak diantara biarawannya melakukan kehidupan seks di kalangan mereka sendiri. Aku tercenung dengan kenyataan tersebut. Petikan artikel yang aku baca di Gatra membuat aku tersadar dengan kehidupan nyata yang memang susah untuk dikendalikan meskipun oleh para hamba Tuhan. Mereka yang adalah orang-orang pilihan. sebab, untuk bisa masuk ke dalam sebuah seminari bukanlah hal yang mudah. Mereka harus diseleksi terlebih dahulu oleh para pastur dan uskup. Bahkan untuk bisa masuk ke dalam sebuah seminari, para Uskup dan pastor kepala memerlukan waktu untuk mendapatkan "bisikan" dari Tuhan, bahwa Sang calon Biarawan memang layak dan pantas masuk.

Beban berat akan dipikul oleh para biarawan itu. Sebab, mereka masuk ke dalam kaul yang mengutamakan kesucian (yang dalam arti harafiah mereka tidak boleh melakukan hubungan seks dengan orang lain). Mereka sengaja tak boleh menikah agar bisa berkonsentrasi melayani umat dan juga Tuhan. Namun, kesucian secara harafiah itu, memang tak bisa dipertahankan oleh semua orang dengan baik. Keinginan untuk melampiaskan kebutuhan seks memang sering kali bisa membuat orang jadi gelap mata. Seks adalah candu. Aku pribadi bisa menyadari sulitnya seseorang bisa menahan dorongan biologisnya. Namun, ketika mata dunia melihat, para hamba Tuhan itu melakukan hubungan seks di dalam seminari, mereka akan menghujat. Demikian juga hal-nya aku. Tak bermoral!

Kasus di Austria bukan yang kali pertama kudengar. Masih ada kasus lain di Amerika, yang mengungkapkan bahwa para biarawan di sebuah seminari memperkosa para biarawati. Sungguh tak adil. Ketika mereka para orang pilihan itu menyalahgunakan kepercayaan umatnya.

Tuesday, August 17, 2004

PoSe

Ragu aku membuka kaosku. Sekarang hanya tinggal Be Ha yang melekat di dadaku. Sang fotografer memintaku untuk menanggalkannya juga. Well, masih juga dengan keraguan aku membuka pengait Be Ha-ku. Lebih baik, begitu kata Sang Fotografer yang sedang sibuk menyiapkan kamera Nikon F90X, memasang flash SB 25 di body-nya.

Lantas dia memintaku duduk di atas meja yang disampingnya terdapat dua buah lampu baca. Tak lama kemudian Sang Fotografer memintaku berpose. Dia mencoba mengambil detail tubuhku. "Aku akan memotret kamu sebagai sebuah seni, bukannya foto porno seperti yang ada di iklan 0800-sekian-sekian," katanya di balik kameranya. Dia terus mengambil gambarku, sampai dua roll film Fuji Superia asa 400-nya habis. "Istirahat dulu ya. Capek. Aku sekalian mau nyari ide pose yang bagus," sambungnya.

Sepuluh menit istirahat yang diselingi perbincangan membuat kepala Sang Fotografer lumayan terisi dengan ide-ide gila. Tiba-tiba saja dia memintaku membuka celana panjang Lee Cooper-ku. Aku sempat terperanjat. Namun, cepat dia mengatakan, dirinya tidak akan memintaku membuka celana dalamku. So, sekali lagi aku menanggalkan busanaku.

Kini, dia memintaku berpose di taman rumahnya, yang kebetulan sedang sepi. Wah, aku sama sekali tak membayangkan, akan dipotret dengan hanya memakai celana dalam di luar ruangan. But, hei, ini adalah sebuah eksperimen juga untukku. Tak seberapa lama, kembali Sang Fotografer sibuk mengarahkan aku untuk bergaya. Pantatku terasa geli ketika harus duduk di atas rumput taman yang baru saja dipangkas. Belum lagi, rasa risih yang kurasakan jika Sang Fotografer memintaku berbaring. Penyiksaan! But, hei, sekali lagi, ini adalah sebuah tantangan yang harus kujalani dengan tetap tersenyum di hadapan kamera. Setengah jam berpose, Sang fotografer mengatakan, "Selesai! Good job Miss."

Kini, giliranku yang diperbolehkan mengatur poseku sendiri. Maka dengan iseng aku meminta dia mencopoti semua pakaiannya -- kecuali celana dalamnya tentu, dan memintanya mengambil tripod. Maka, jadilah, aku berpose dengannya di taman rumahnya dengan hanya memakai celana dalam.

Seminggu berlalu, aku sedang berjalan di trotoar ketika ponsel-ku berbunyi. "Hai Miss, ingin lihat hasilnya? Aku sekarang ada di depan apartemenmu," ujar Sang Fotografer. Maka aku bergegas menyetop sebuah taxi. Sepuluh menit kemudian, aku mendapati Sang Fotografer tersenyum di depan apartemenku.

Aku duduk di sofa yang menghadap ke televisi. Kubuka amplop coklat berisikan puluhan lembar fotoku. "Waaah...! Bagus sekali. Aku seksi juga ya," ucapku sambil masih terus memandangi foto-fotoku. Dan itulah kali pertama aku berpose dengan hanya menggunakan celana dalam untuk Sang Fotografer.

Thursday, August 12, 2004

uLaNg TaHuN

13 Agustus 2004
00.15

"Hai, met ulang tahun ya..."

"Thank's...., aku sudah menunggu telpon kamu kok. biasanya kamu kan jadi orang pertama yang ngucapin ulang tahun ke aku. cuma sayang, tahun ini kamu telat 15 menit. hehehe...."

"maaf kawan, aku sedang sibuk dengan naskahku. aku hampir saja kelupaan tadi. tapi beruntung aku melihat jam dan teringat kamu. jadi aku langsung saja cabut ke meja telepon. maaf sekali lagi kawan, karena aku hampir saja kelupaan,"

"ah, tak apa-apa, lupa itu kan salah satu ciri manusia. dan beruntunglah kamu masih bisa lupa, bayangkan kalau kamu terus mengingat-ingat masa lalu yang sedih. wah, bisa-bisa tiap hari kamu akan menangis,"

"kesedihan kadang patut untuk dikenang sebagai pelecut kita saat sedang susah. atau kadang kita bisa mentertawakan kesedihan kita yang lalu. well, sekali lagi aku harus meminta maaf lantaran aku sama sekali tak ingin melupakan ulang tahunmu kali ini kawan,"

"ah, sudahlah, jangan lagi kita berbincang tentang lupa dan kesedihan. tapi aku harus merasa sedih malam ini, karena sudah dua kali ulang tahunku kau tak pernah bisa pulang ke Surabaya untuk merayakannya bersamaku. dan rasanya untuk ulang tahunku kali ini, kau juga takkan punya waktu untukku, sobat tuamu ini. kau pasti lebih memilih pergi hiking dibandingkan menghabiskan malam di depan Gedung Dewan denganku. ayolah, aku rindu sekali menikmati malam di warung Bu Madura bersamamu. Tertawa melihat bencong-bencong yang lalu lalang bersama pasangannya.

"doakan saja aku bisa pulang kawan. pekerjaanku menumpuk. masih ada beberapa naskah yang belum aku selesaikan. editor bukuku sudah mulai cuap-cuap lagi. aku telat kasih setor itu draft bukuku. pusing kepalaku. mungkin aku baru bisa pulang bulan depan. dan aku pasti akan sediakan waktu untukmu. yang pasti aku tak ingin acara jalan-jalan bersama ayahku terlewatkan. jadi aku akan menelponmu kalau aku sudah bisa pastikan kapan aku akan jalan bareng ayahku,"

"oke lah kalau begitu. aku akan tunggu kabar darimu lagi kawan. selamat berjuan di jakarta. jangan lupa aku akan selalu ada untukmu, meski kau sering lupa akan aku,"

"jangan begitu kawan. aku takkan pernah lupakan kau. aku hanya telat ucapkan selamat ulang tahun kepadamu, dan kau sudah menghakimiku sampai sedemikiannya,"

"hahaha...., sudahlah, tak usah diperpanjang masalah ulang tahunku. yang penting sekarang bekerjalah dengan baik. dan kumpulkan uang yang banyak. agar kita bisa jalan keliling indonesia seperti yang kita pernah impikan. jalan-jalan dengan uang sendiri,"

"baiklah kawan. aku akan balik lagi dengan naskah brengsekku itu. selamat tidur, mimpi indah, sampaikan salamku pada putri impianmu,"

"hahaha..., oke, oke.... selamat bekerja kawan, jangan lupa minum vitamin,"

Tuesday, August 10, 2004

"forgiven but not forgotten...."
Jaka Susila, Maret 2004

Semua perlakuan buruk, sumpah serapah bahkan kesalahan seseorang seringkali bisa dimaafkan dengan mudah. Namun, akankah perlakuan itu bisa dilupakan begitu saja? "Belum tentu," begitu kata Jack -- sapaan akrab Jaka Susila kepadaku.

Kapasitas memori yang dimiliki manusia terhadap keburukan seseorang lebih banyak dibandingkan kapasitas ketika seseorang berbuat baik terhadapnya. Karena itu, tak salah ketika ada yang memiliki ide membuat pepatah, gajah di pelupuk mata tak nampak, tetapi semut di seberang lautan tampak.

Toh, masih menurut Jack, orang juga tak bisa memaafkan dengan tulus dan iklas. Karena manusia tak pernah sempurna. "Ah, semua juga tahu Jack, kalau nggak ada manusia yang sempurna," sergahku. Jack tersenyum. "Kau akan temukan arti orang tak bisa memaafkan dengan tulus nantinya, kawan. Percayalah,"

Sunday, August 08, 2004

Resah Sang Kakak

"malam vins...."

tak ada jawaban di seberang sana. aku hanya bisa mendengar vins, sahabatku, terisak dalam tangis. "vins..., vins..., kamu kenapa? vins jawab aku. jangan bikin aku kebingungan seperti ini vins.."
vins tetap terisak, bahkan tangisnya kian meledak. aku hanya tercenung sembari mengira-ira gerangan yang terjadi dengannya.

"adikku, dia dikeluarkan dari pekerjaannya. ibuku tadi menangis, dia marah karena aku ngga beritahu dia tentang kondisi adikku. aku ingin bantu adikku, tapi aku ngga ngerti harus gimana. aku ngga punya koneksi biar dia bisa dapat kerjaan yang baik. aku juga ngga punya uang yang bisa kuberikan kepadanya, apalagi kondisi keuanganku tidak baik."

tertubi jawaban itu sama sekali tak kunantikan. otakku terasa beku. tak bisa aku berpikir dengan cepat. yang kulakukan hanya menghela nafas panjang dan mulai menenangkan diriku sendiri.

masih saja aku terdiam, ketika vins kembali menyerbu dengan kalimat-kalimatnya. "aku merasa saat ini aku bukanlah kakak yang baik baginya. aku sama sekali tidak bisa membantunya. aku sama sekali tidak bisa membuat adikku bahagia," kembali tangis yang telah reda itu menyeruak. bahkan kian tak terbendung lagi.

aku di seberang sini masih tergagap.

hingga akhirnya aku mulai bisa berdalih seperti orang bijak, " vins, mungkin, saat ini yang paling dibutuhkan adikmu adalah seseorang yang mau mendengar kegelisahannya. dia hanya memerlukan orang yang bisa menepuk pundaknya lantas memeluk erat tubuhnya, hingga guncangan ketika dia menangis bisa tertahan. dia seorang laki-laki di keluargamu. laki-laki yang dulu kau bilang tak boleh menangis ketika dera melanda. katamu, dia harus tabah dan kuat. dan ini adalah saat baginya untuk merunduk. mengakui bahwa untuk sesaat dia dikalahkan oleh kehidupan. vins, dia sedang membutuhkanmu agar dia bisa bangkit dan kuat untuk kembali menghadapi dunia ini."

helaan nafas, di seberang sana. isak tak lagi terdengar. diam dengan nafas panjang teratur.

kembali lagi, "vins, bagi adikmu, kau adalah kakak yang baik. dia memandangmu sebagai orang yang bisa diajak berbagi. kau lebih dari hanya seorang kakak yang bisa melindungi. tapi kau bisa dan mau menjadi sahabat yang tak lari meninggalkannya kala dia butuhkan dorongan. nah, sekarang, tarik nafas dalam-dalam, minumlah dulu lantas berdoalah. aku harap Tuhan mau menolongmu mencari solusi bagi adikmu. tidur yang nyeyak, biar kau bisa berpikir jernih."

vins masih saja diam. helaan nafas kembali terdengar di seberang.

"hidup memang berat ya Len."

aku tersenyum di seberang sini. "nikmati saja hidup. jangan resah berlebih seperti malam ini sayang. aku akan berusaha selalu ada untukmu sobat. nah, sekarang nikmati doamu dan tidurlah yang nyeyak. mimpilah yang indah agar esok pagi kau bisa kembali tersenyum."

Saturday, August 07, 2004

PerGi....

"biarkan aku pergi saat ini!" setengah tahun silam, aku teriakkan kata itu berulang-ulang. aku tenggelam dalam tangis yang tiada habisnya. Genoa, orang yang selama ini menjadi rumahku tak bisa lagi aku temui. "Ge..., kenapa, kenapa kau tinggalkan aku sendiri Ge?" hingga saat ini aku masih belum bisa mengambil hikmah dari kepergiannya. aku hanya berpikir kepergiannya saat itu merupakan jalan terbaik untuknya. namun untukku? apa aku bisa sebahagia Genoa?

hingga saat ini aku masih mengira-ira apakah dia berada di sampingku ketika aku merasa kesepian. entah..., hanya Dia yang tahu. sebab, Dia, si empunya alam raya ini, yang memiliki kuasa atas diri Genoa.

malam ini, di kantorku yang sepi, aku berkhayal bisa meneleponmu. lantas kita berbincang dan merancang sesuatu untuk masa depan kita. tapi, hal itu sangat tak mungkin untuk dilakukan.

Ge..., jika saatku tiba, akankah cinta untukmu tetap ada?

Friday, August 06, 2004

wake up

good morning....

gila, pagi ini gelapan aku terbangun. antara sadar dan tidak aku segera lompat dari tempat tidur. kepalaku berdenyut keras, lantaran aku hanya tidur tiga jam. seharusnya pagi ini aku pergi ke rumah salah seorang atasanku, namun kawan yang kutunggu tak juga muncul sehingga kuputuskan saja untuk tinggal di kantor. browsing sajalah...

belakangan aku senang sekali begadang di kantor. malas pulang ke kos. aku sedang tidak merasa nyaman dengan teman-teman se-kosku yang biasanya ramai sepanjang malam. aku juga sedang tidak ingin setia mendengarkan kisah pribadi mereka seperti biasanya. seperti kematin siang ketika aku bangun dan makan bersama dengan mereka. tiba-tiba di sela acara makan siang bersama itu, salah seorang kawanku bercerita, "aku habis make love sama Boim. mmm, asyik banget ternyata. ketika aku butuh seseorang dia hadir dan kami saling bercumbu."

Boim, yang disebut kawanku adalah sahabatku. aku ngga habis pikir saja dengan kehidupan, sebab sahabat cewekku itu sudah punya pacar yang dikenal baik oleh Boim. bahkan mereka sering hang out. "well, what ever you like lah," begitu kataku menimpali kawanku.

saat itu, aku hanya berpikir itu merupakan waktu kawanku untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang perempuan yang memiliki body seksi. tak hanya itu, aku juga menganggap bahwa kawanku itu sedang memanfaatkan pesona-nya yang memang selalu menarik perhatian laki-laki.