Resah Sang Kakak
"malam vins...."
tak ada jawaban di seberang sana. aku hanya bisa mendengar vins, sahabatku, terisak dalam tangis. "vins..., vins..., kamu kenapa? vins jawab aku. jangan bikin aku kebingungan seperti ini vins.."
vins tetap terisak, bahkan tangisnya kian meledak. aku hanya tercenung sembari mengira-ira gerangan yang terjadi dengannya.
"adikku, dia dikeluarkan dari pekerjaannya. ibuku tadi menangis, dia marah karena aku ngga beritahu dia tentang kondisi adikku. aku ingin bantu adikku, tapi aku ngga ngerti harus gimana. aku ngga punya koneksi biar dia bisa dapat kerjaan yang baik. aku juga ngga punya uang yang bisa kuberikan kepadanya, apalagi kondisi keuanganku tidak baik."
tertubi jawaban itu sama sekali tak kunantikan. otakku terasa beku. tak bisa aku berpikir dengan cepat. yang kulakukan hanya menghela nafas panjang dan mulai menenangkan diriku sendiri.
masih saja aku terdiam, ketika vins kembali menyerbu dengan kalimat-kalimatnya. "aku merasa saat ini aku bukanlah kakak yang baik baginya. aku sama sekali tidak bisa membantunya. aku sama sekali tidak bisa membuat adikku bahagia," kembali tangis yang telah reda itu menyeruak. bahkan kian tak terbendung lagi.
aku di seberang sini masih tergagap.
hingga akhirnya aku mulai bisa berdalih seperti orang bijak, " vins, mungkin, saat ini yang paling dibutuhkan adikmu adalah seseorang yang mau mendengar kegelisahannya. dia hanya memerlukan orang yang bisa menepuk pundaknya lantas memeluk erat tubuhnya, hingga guncangan ketika dia menangis bisa tertahan. dia seorang laki-laki di keluargamu. laki-laki yang dulu kau bilang tak boleh menangis ketika dera melanda. katamu, dia harus tabah dan kuat. dan ini adalah saat baginya untuk merunduk. mengakui bahwa untuk sesaat dia dikalahkan oleh kehidupan. vins, dia sedang membutuhkanmu agar dia bisa bangkit dan kuat untuk kembali menghadapi dunia ini."
helaan nafas, di seberang sana. isak tak lagi terdengar. diam dengan nafas panjang teratur.
kembali lagi, "vins, bagi adikmu, kau adalah kakak yang baik. dia memandangmu sebagai orang yang bisa diajak berbagi. kau lebih dari hanya seorang kakak yang bisa melindungi. tapi kau bisa dan mau menjadi sahabat yang tak lari meninggalkannya kala dia butuhkan dorongan. nah, sekarang, tarik nafas dalam-dalam, minumlah dulu lantas berdoalah. aku harap Tuhan mau menolongmu mencari solusi bagi adikmu. tidur yang nyeyak, biar kau bisa berpikir jernih."
vins masih saja diam. helaan nafas kembali terdengar di seberang.
"hidup memang berat ya Len."
aku tersenyum di seberang sini. "nikmati saja hidup. jangan resah berlebih seperti malam ini sayang. aku akan berusaha selalu ada untukmu sobat. nah, sekarang nikmati doamu dan tidurlah yang nyeyak. mimpilah yang indah agar esok pagi kau bisa kembali tersenyum."

0 Comments:
Post a Comment
<< Home