Rindu Rumah
Wajah mereka senantiasa tersenyum kala aku berpamitan dan kemudian melambaikan tangan. Meski aku tahu mereka tak pernah tega melepas aku pergi ke Jakarta, tiap kali aku pulang. Pandangan mata tak tega itu, selalu saja terbayang ketika aku akan meninggalkan rumah menuju ke sebuah lokasi yang jarak ratusan kilo meter dari rumah.
Namun, aku coba buktikan kepada mereka bahwa aku bisa. Dan aku sudah buktikan itu. Walau begitu, tetap saja pandangan tak tega itu membuatku selalu rindu rumah. Aku merindukan kecerewetan ibuku, yang selalu kuhindari kala aku berada di dekatnya. Aku rindu ke-diaman ayahku, yang sering kali membuatku jengkel.
Kerinduan itu, sempat membuncah kala aku dirundung masalah. Ingin rasanya terbang ke rumah. Merasakan hangatnya selimut bututku yang umurnya sama denganku saat ini, 27 tahun. Terkadang aku ingin bisa melayang, tidur bersama dengan ibu, seperti tiap kali aku merasa ketakutan kala terbangun di tengah malam. Aku juga masih sering melamunkan saat-saat dimana ibu dengan setia membacakan Bobo untukku menjelang tidur.
Ah, rindu rumah. Kerinduan itu tak akan bisa ditebus dengan apapun. Tak ada yang bisa menggantikan kenangan manis itu. Tak ada yang bisa mengubah sejarah manis di rumahku, meski kini aku tinggal ratusan kilo meter darinya. JAuh dari ayah dan ibu.
miss You Ma, miss You Pa. I Love you.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home