MigraiN
21.07
depan komputer produserku
Aku masih saja terbengong-bengong di depan komputer Mas Drajat, produserku. Ada dua berita yang seharusnya aku selesaikan sebelum jam 10 malam ini. Produser reportase malam sudah menunggu di ruang redaksi bersih. Namun, kepalaku yang berdenyut keras membuatku tak bisa berkonsentrasi menghadapi kewajiban yang harus segera kuselesaikan malam ini.
Beberapa kali aku menghela nafas, mencoba menahan rasa sakit di kepalaku akibat migrain yang kambuh. "Ampun!" Aku sama sekali nggak pernah bisa menahan sakitnya ketika migrain sialan ini muncul tanpa sebuah peringatan. Membuat leherku serasa kaku dan mataku menegang. Belum lagi ngilu di gigi gerahamku. "Ya ampun...!" Aku hanya berharap migrain sialan ini segera enyah dari kehidupanku malam ini. Masih banyak tugas yang harus aku selesaikan. Aku sama sekali tidak ingin diganggu oleh si migrain.
Dua cangkir kopi pahit dan kental sudah kutenggak, namun tetap saja, migrain sialan ini tak juga lenyap dari kepalaku. Sore tadi sebelum berangkat ke kantor aku sudah sempatkan untuk minum paracetamol, tapi kenyataannya, obat penahan sakit itu tidak bisa menundukkan sang migrain sialan itu. Yach... kini aku hanya bisa berpasrah diri dan menyatakan tunduk terhadap migrain sialan yang sudah menjajah kepalaku.
