Thursday, September 30, 2004

MigraiN

21.07
depan komputer produserku

Aku masih saja terbengong-bengong di depan komputer Mas Drajat, produserku. Ada dua berita yang seharusnya aku selesaikan sebelum jam 10 malam ini. Produser reportase malam sudah menunggu di ruang redaksi bersih. Namun, kepalaku yang berdenyut keras membuatku tak bisa berkonsentrasi menghadapi kewajiban yang harus segera kuselesaikan malam ini.

Beberapa kali aku menghela nafas, mencoba menahan rasa sakit di kepalaku akibat migrain yang kambuh. "Ampun!" Aku sama sekali nggak pernah bisa menahan sakitnya ketika migrain sialan ini muncul tanpa sebuah peringatan. Membuat leherku serasa kaku dan mataku menegang. Belum lagi ngilu di gigi gerahamku. "Ya ampun...!" Aku hanya berharap migrain sialan ini segera enyah dari kehidupanku malam ini. Masih banyak tugas yang harus aku selesaikan. Aku sama sekali tidak ingin diganggu oleh si migrain.

Dua cangkir kopi pahit dan kental sudah kutenggak, namun tetap saja, migrain sialan ini tak juga lenyap dari kepalaku. Sore tadi sebelum berangkat ke kantor aku sudah sempatkan untuk minum paracetamol, tapi kenyataannya, obat penahan sakit itu tidak bisa menundukkan sang migrain sialan itu. Yach... kini aku hanya bisa berpasrah diri dan menyatakan tunduk terhadap migrain sialan yang sudah menjajah kepalaku.

Monday, September 27, 2004

satu bulan

sebulan lalu, aku mengenal seseorang yang sama sekali tidak aku perhatikan. sebulan lalu, aku hanya tahu namanya, itu pun aku sempat lupa. namun, apa yang terjadi saat ini? banyak orang yang tak akan percaya. dia sudah menjadi kekasihku. banyak yang tidak menyangka ini akan terjadi. banyak yang tidak mengira semuanya bisa kujalani bersamanya.

ah, sebetulnya tak perlu orang lain yang kebingungan, sebab kami -- aku dan dia -- juga masih tak percaya dengan apa yang terjadi. rasa sayang dan cinta kami tumbuh begitu saja, dan kami dengan segera mencoba merawat agar apa yang kami punya bisa berbunga dan berbuah hingga bisa kami petik. kami ingin cinta itu, bisa tumbuh dan akarnya bisa kuat menembus ke bumi. kami ingin apa yang kami miliki saat ini bisa berjalan selamanya. kami tak ingin cinta yang kami pupuk sirna begitu saja.

i love you Ya....

Saturday, September 25, 2004

Jangan Berkhianat

03.09
29 September 2004
Kantorku yang dingin di Mampang, Jakarta

"aku mencintaimu. aku tahu seharusnya aku tidak boleh berkhianat atas persahabatan yang kita miliki saat ini. tapi aku mencintaimu."

Kala seorang sahabat yang biasanya berbagi segala, tiba-tiba menyatakan rasa sayang dan cintanya, bisa jadi dia dikatakan melakukan penghianatan. Hubungan baik itu, tak lagi murni sebagai hubungan perkawanan. Ada rasa di antara mereka, yang membuat satu atau keduanya menjadi saling tidak bisa bersikap wajar. Ada rasa di antara mereka berdua yang bisa membuat persahabatan itu diliputi rasa cemburu. Padahal, persahabatan seharusnya berjalan dengan penuh keiklasan. Tak boleh ada rasa marah yang dipendam. Tak boleh ada rasa saling memiliki.

Persahabatan, bagaimana pun bentuknya, terkadang bisa jadi hancur karena salah satu diantara mereka berkhianat. Pernyataan cinta dan sayang, bisa membuat keduanya rikuh dan tidak bersikap sewajarnya. Aku sendiri, sudah menyaksikan bagaimana sakitnya jika persahabatan disusupi dengan penghianatan lantaran cinta. Keduanya harus siap merelakan kepergian sahabatnya, suka atau tidak suka.

Sunday, September 19, 2004

sejarah

tidak akan ada seorang pun yang bisa mengubah sejarah. sebab tak ada mesin waktu yang bisa mengembalikan seseorang ke masa lalu.
sejarah telah membuat hidup kian berwarna. ada kisah sedih, cerita gembira dan kenangan pahit. namun, itu semua harus kita hadapi dan kita ingat.
suatu saat, mungkin akan ada orang yang bertanya tentang kenangan-kenangan itu, entah siap atau tidak. jika kisah indah yang ditanyakan, aku percaya semua orang pasti dengan gembira akan berceloteh. namun, apa jadinya jika pertanyaan itu diajukan untuk sebuah kisah sedih? aku tidak bisa menjawabnya, sebab banyak kemungkinan yang akan terjadi.

Thursday, September 16, 2004

berpasangan

17-09-2004
01:58
kantor trans tv, mampang, jakarta

berpasangan...
bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan saat ini. apalagi aku sudah lama sekali tidak bergantung dengan seseorang dalam artian kekasih. dan saat ini, setelah sekian bulan aku kembali lagi punya seseorang yang memperhatikan aku. aku harus kembali mencoba untuk bisa berbagi dengan orang lain. aku juga harus berusaha untuk tidak membuat seseorang merasa khawatir terhadap diriku. bukan hal yang mudah. itu harus kuakui. sebab, aku sudah terbiasa melakukan segala sesuatu sendirian saja. aku jarang meminta pertimbangan orang lain dalam mengambil keputusan. segalanya aku lakukan sendirian saja. sesuka hatiku.
seperti malam ini, saat aku tiba-tiba ingin pergi ke kantor lantas menelepon kekasihku yang baru. di situ aku mendengar sebuah kekhawatiran. di situ juga aku mendengarkan adanya perhatian. namun yang aku rasakan adalah, aku tidak bisa menjadi perempuan yang mandiri seperti biasanya. aku harus "melapor" -- aku masih belum memiliki kosakata yang tepat untuk kata ini) -- kemanapun aku pergi. aku tidak merasa terkekang, hanya masih belum terbiasa dengan kebersamaan dalam berpasangan. aku terbiasa sendiri.
berpasangan kembali ternyata membutuhkan penyesuaian yang tak mudah. aku harus bisa menjaga perasaan seseorang. membuat dirinya menjadi "barang" yang mudah retak, sehingga harus dirawat dan dijaga baik-baik.
berpasangan...
sekali lagi aku memiliki kekasih....

Wednesday, September 08, 2004

capek...

capek....
bosan....
senang....

well, itu semua bercampur saat aku liputan hari ini, di PON Palembang. mulai bergerak sejak pukul 07.00, aku harus menjemput dua rekan kerjaku yang baru saja datang dari Jakarta.
usai menjemput Djim dan Idos dan mengantar mereka ke lokasi liputan, aku langsung bergerak menuju ke venue angkat berat. di situlah rasa marah dan kesal menyeruak. aku harus bersitegang sejenak dengan panpel PON, lantaran mereka tak memberikan jadwal pertandingan untukku. katanya, "mbak datangnya siang sih, coba kalau datangnya pagian, pasti dapat jadwalnya."
"wah, kalau harus datang pagi-pagi ke setiap venue di PON, bisa-bisa ngga keliput semuanya dong," gerutuku pada mbak-mbak yang ada di media center.
setelah puas menggerutu dan mengomel, aku segera meluncur ke venue kedua, yakni terjun payung.
well, di sinilah semua yang berbau kesenangan untuk terjadi. kesempatan untuk bisa PTC alias on cam oun terjadi. heran, aku bisa PTC dengan mudah. padahal aku dikenal sebagai reporter yang paling wegah dan ogah untuk on cam. "nggak kamera face dan malas ngapalin naskah," begitu kataku suatu hari pada seorang teman yang bertanya kenapa aku ngga pernah on cam.
seharian aku berada di lokasi itu. setelah capek keliling di seputaran bandara sultan mahmud baharuddin, aku langsung cabs ke media center.
sampai media center aku langsung pusing. kata produserku...(ah, susah ngomongnya. mendingan ngga usah dipikirin deh...
aku cuma ingin mengalir saja....

Sunday, September 05, 2004

mengenali...

itu adalah sebuah kata yang sulit bisa kulakukan saat ini. aku sangat enggan untuk mengenali orang lain. aku hanya bisa melihat dan tak ingin mengenali siapa pun disekelilingku. terlebih laki-laki. bukannya aku tak ingin memiliki pacar seperti orang lain, tapi aku merasa capek dengan keadaan. aku takut dikekang dengan kewajiban seorang pacar.

selama beberapa bulan menyendiri, aku mulai bisa menikmati ritme hidupku. tak ada lagi rasa rindu yang selama ini aku rasakan sangat menyiksa jika aku harus pergi jauh dalam rangka menjalankan tugas. aku bisa lebih konsentrasi ke dalam pekerjaanku. selain itu, aku bisa mengatur hidupku, tanpa ada campur tangan orang lain, yang seringkali mengkhawatirkan kondisiku.

namun, di sela kondisiku yang enggan untuk mengenali seorang laki-laki, tiba-tiba saja aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku sedang jatuh cinta. aku merasa ingin sekali bisa mengenali laki-laki itu. aku ingin bisa selalu berdekatan dengannya. rasa itu saat ini membuatku merasa tersiksa. aku hanya ingin menikmati hidup tanpa memiliki rasa cemburu dan rasa rindu.