Monday, October 04, 2004

DeJaVu

03 oktober 2003
20.30
Stasiun Gambir, Jakarta

Gerbong kereta api Argo Anggrek perlahan mulai bergerak. Seorang laki-laki bernama Anton, berada di gerbong kereta api itu. dia saat ini sedang berdiri di pintu sembari melihat keluar. Tangannya memegang erat tanganku yang berjalan semakin cepat seiring laju kereta api.
"Aku akan datang lagi. Ingat, aku sangat mencintaimu. Aku akan bertanggungjawab terhadap dirimu hingga kita tua nanti."
Aku mengangguk dalam-dalam. "I love you....," ucapku sebelum kereta api itu benar-benar memacu geraknya.
"Februari sayang, ingat Februari tahun depan aku akan meminangmu," seru Anton. Suaranya ditingkah derak ban kereta dengan rel, namun aku bisa membaca gerak bibirnya.

Setahun kini telah berlalu. Banyak peristiwa yang aku lalui dalam setahun itu. Hubunganku dengannya yang merupakan tujuanku, bubar di tengah jalan. Hubunganku dengannya dilanda badai ketika kami sama-sama berada dalam krisis. Dia harus kehilangan kedua orangtuanya. Sedang aku, terhenyak oleh kenyataan bahwa aku harus memulai kembali tinggal di Jakarta, sementara aku sudah menyiapkan diri untuk kembali tinggal di Surabaya. Maka, kehidupan kami pun jadi pasang surut. Rasa cinta yang ada di dalam hati kami masing-masing terpaksa kami kubur. Lantaran, keluarga besarnya menganggap aku tak layak menjadi istrinya.

"Kenapa harus dia sih? dia itu tidak bisa menjadi orang timur. Dia terlalu spontan, tidak bisa menata diri sendiri. Dia tidak bisa menghargai kamu sebagai laki-laki...." Masih banyak lagi perkataan keluarganya yang membuat harga diriku tersinggung. Mereka tidak pernah tahu, enam tahun yang telah aku lalui bersamanya. Aku selalu setia mendampinginya di masa-masa krisisnya. Aku tak pernah segan memberikan apa yang kupunya untuknya. Semuanya! Sayang, semua itu harus pupus di tengah jalan.

Kini aku sedang menikmati apa yang kupunya. Aku menikmati rancangan yang diberikan penguasa jagad raya ini terhadapku.

03 Oktober 2004
08.30
Stasiun Gambir

Seorang laki-laki sedang duduk di atas koper di halte suttle bus stasiun gambir. Dia memandang ke arah penjual nasi yang menggelar dagangan di depan laki-laki itu. Aku melangkah mendekati laki-laki yang bernama Anton itu. Dia memandang ke arahku, antara tersenyum dan tertegun. Aku berjalan ringan ke arahnya.
"Pagi...., bagaimana perjalananmu? Capek ya, sudah makan pagi atau belum?" ujarku sembari menyalami tangannya.
"Kamu tidak pernah berubah. Tetap riang dan semangat ya. Aku senang bisa melihatmu tertawa," lantas dia memelukku erat-erat, sambungnya,"Aku juga minta maaf atas apa yang dilakukan oleh keluargaku kepadamu. Mereka tidak berhak memberikan stempel itu kepadamu. Aku senang, akhirnya kamu bisa menemukan laki-lakimu. Orang yang selama ini kamu cari dan tidak bisa kamu temukan di dalam diriku. Maafkan aku yang tidak bisa membelamu di depan mereka semua." Lantas dia memelukku erat-erat. "Aku tak bisa melepaskanmu, tapi aku akan berusaha untuk bisa menerima yang ada saat ini. Berikan aku kesempatan ketiga seperti saat kamu memberikannya satu taun yang lalu," sambungnya.
"Aku tidak bisa memberimu kesempatan untuk ketiga kalinya. Aku sudah memutuskan, meski aku sempat berharap, untuk pergi meninggalkanmu. Aku sudah bukan lagi milikmu. Maafkan aku."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home