Tuesday, November 30, 2004

Tune In

Dua hari ini aku sudah mulai joint to the new club, Aku Mau Sembuh! Wah, bener-bener aku minta disembuhin. Soalnya aku ngantuk banget, sejak dari pagi. Jadi aku mau disembuhin dari rasa kantuk sialan ini. Abis aku jadi ngga bisa konsen kerja, sedari tadi pikiranku segera pulang ke rumah dan tidur!

Tentang Aku Mau Sembuh sendiri, aku sampai hari kedua ini, masih berusaha untuk enjoy to the club. Kalau ngga gitu, aku nanti ngga akan punya semangat membara seperti yang biasanya aku miliki. Yach, perasaan bosan yang datang diawal memang sangat mengganggu. Karena bisa bikin aku ngga konsen kerja dan cepet bosen.

But hey, let's get the gear and strat working Girl!

Wednesday, November 17, 2004

Hhhhh.....

Hhhhh.......
Aku tidak pernah bisa berbuat yang terbaik buat semuanya.
Bahkan untuk diriku pun aku selalu membuat kesalahan.
Aku dilahirkan sebagai mahluk yang tidak sempurna.
Hhhhh....
Hal yang sama selalu terjadi berulang-ulang.
Rasanya aku memang tak pantas dapatkan dia.
Aku mungkin memang harus sendirian.
Hhhhh.......
Aku tidak ingin lagi ada di sini Tuhan!
Aku ingin pergi meninggalkan semuanya!
Bukan karena aku menyerah,
Aku hanya ingin sendiri!
Agar tak ada lagi yang aku sakiti.

Saturday, November 13, 2004

lebaran

Di malam takbiran ini, di kantor hanya tinggal beberapa gelintir manusia saja. Mereka adalah orang-orang yang sedang mendapat tugas untuk menyiapkan reportase pagi dan program pulang kampung. Selain itu, juga teman-teman yang sengaja tidak pulang kampung sebab mereka enggan berdesak-desak mencari tiket.

Aku adalah salah satu di antara mereka. Aku sendiri tidak merayakan lebaran. Namun, sebagian besar keluarga besarku merayakannya. Sejak tahun lalu, aku lebih memilih untuk tetap tinggal di Jakarta ketika Lebaran datang. Maklum, aku termasuk orang yang malas berjubel dengan banyak orang. Pening kepala kalau sudah melihat sedemikian banyak orang berdesak-desakan.

Aku bersyukur, keluargaku tidak mempermasalahkan keputusanku ini. Mereka nampaknya sudah cukup mengerti dengan kondisiku di Jakarta. Meski begitu, tetap saja aku merindukan Lebaran di rumah nenek. Makan ayam lodho -- masakan khas Trenggalek miri kare dan nasi gurih, buatan nenek. Yang paling nikmat lagi, kalau ada urap-urap plus penyek kacang. Nyam..., bisa jadi aku nambah sampai tiga porsi. Yang paling seru adalah ketika harus berebut makanan dengan sepupu-sepupuku.

Hmmm..., pasti besok pagi mereka sudah berkumpul di rumah nenek.

Thursday, November 11, 2004

...Kenalilah dirimu maka kau akan mengenal Tuhanmu...

S'moga kata-kata itu benar adanya bagiku. Aku tak pernah mau menyebut Tuhan itu ada. Aku lebih senang menyebut pencipta langit dan bumi. Dan biasanya Dia kupanggil Si Empunya Jagad Raya. Karena aku tak pernah tahu wujudnya. Aku hanya percaya bahwa ada orang atau sesuatu yang menciptakan alam raya ini beserta isinya, termasuk aku.

Wednesday, November 10, 2004

Pindah Kesatuan

Akhirnya pengumuman rolling muncul juga. Sebetulnya sudah seminggu sih, cuma aku-nya saja yang baru ke kantor. Setelah setengah tahun berkutat dengan yang namanya atlet, enam bulan kedepan nampaknya produser lebih mempercayai aku untuk bergaul dengan para pecandu narkoba. Sebab, aku dipindahkan ke program Aku Mau Sembuh. Program ini isinya tentang para pecandu narkoba yang masih dan sudah sembuh dari kecanduannya.

Aku pribadi masih belum pernah melihat seperti apa program tempatku bernaung mulai 1 Desember nanti. Aku hanya berharap satu hal, yakni aku tidak akan cepat bosan di program tersebut. Susah, karena saat ini saja, aku sudah memiliki persepsi yang membosankan terhadap program yang satu itu. Tapi, ada satu sisi yang aku senangi, yakni aku bisa satu program dengan teman gilaku Ririen. Well, setidaknya aku bisa berguru padanya, bagaimana menjadi junkies yang baik dan benar. Huahahaha....

Monday, November 08, 2004

bunda...
aku seorang anak yang tak mampu berterimakasih
aku tak bisa berikan apapun untukmu
yang aku punya hanyalah setumpuk rindu untukmu

Sunday, November 07, 2004

perut

Perut!
Buatku organ tubuh yang satu itu adalah bagian tersensitif di dalam tubuhku. Pasalnya, dia bisa mendeteksi tingkat depresi yang ada di dalam otakku. Seperti halnya pagi tadi sebelum aku berangkat tidur, ketika seorang kawan memberitahukan bahwa dia tak bisa memberikan uang yang telah dipinjamnya kepadaku. Ada rasa marah, lantaran dengan seenak hati saja dia berkata, aku balikin nanti tangal 1 desember, karena aku ingin pulang. Menyebalkan! Tak sebanding dengan permohonannya yang mengiba-iba padaku ketika dia membutuhkan uang itu.

Aku sendiri sebetulnya sudah punya rencana dengan uang yang hanya beberapa ratus ribu itu. Aku mau membetulkan dinamo starter motorku.

Aku tidak pernah merasa semarah ini. Aku merasa, orang bisa seenaknya begitu, tak bisa sedikit mengerti kebutuhan orang lain. Dan itulah yang membuat aku marah.

Hasilnya, aku pun berangkat tidur dengan perasaan sangat sebal. Dan ketika bangun sore ini, aku masih bisa merasakan kemarahan yang ada. Hingga membuat perutku pun mual dan akhirnya kau terpaksa berlari ke kamar mandi lantaran mau muntah.

Saturday, November 06, 2004

sambutlah aku karena aku sangat merindukan kehadiranmu
peluklah aku dengan kelembutan yang kau miliki
karena aku senang bersentuhan denganmu
beri aku kehangatan karena aku telah sekian lama berpisah darimu
aku sedang melamunkan bau apek khas yang muncul kala aku menciummu
terimakasih kau sudah ijinkan aku merebahkan diri diatas tubuhmu yang empuk
oh... kasurku

Tuesday, November 02, 2004

"jelajahi saja sukmamu
terawangi saja kalbumu
tak akan ada yang mampu selain kamu

Bapa, jika Kau ada...
lunglai ragaku
layu pula jiwaku
mengembara di dalam diriku
mencari setitik oksigen dalam ruang benakku"


Sepanjang hidupku aku tak pernah berpikir akan adanya sang empunya jagad raya ini. Pikiranku selalu ada dalam konteks, bahwa alam raya yang saat ini aku pijak bisa diciptakan oleh siapa saja.

Namun, suatu kali, aku harus tersungkur dan terpuruk. Untuk mengangkat kepala saja rasanya aku sudah tidak bisa. Semua otot dan tulangku serasa lunglai. Tiada daya yang aku punya. Yang aku bisa hanyalah menangis. Terisak namun tak ada air mata yang menetes, suara sesenggukan pun nyaris tak ada. Dadaku serasa sesak. Aku penuh pengharapan bisa melupakan sakit yang aku derita saat itu. Namun, aku tahu, aku tak punya daya untuk menyembuhkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Sang Empunya Jagad Raya untuk membantuku.

Maka, kepasrahan mulai merasuki diriku. Aku mencoba berserah kepadanya. Sebab, aku sendiri tak bisa berkelana di dalam ruang benakku. Aku tak cukup punya keberanian untuk bisa menyadari kesalahanku.

Selama 20 tahun aku mencari dan mencoba untuk bisa menjalani apa yang aku punya. Namun, baru kali itu aku merasakan nikmatnya bisa berpasrah diri pada-Nya. O... Sang Empunya Jagad Raya..., kini kepasrahan itu kian sering menghinggapi diriku. Maka ijinkanlah aku untuk sekali lagi bisa berenang di dalam ruang benakku. Biar bisa kurasakan kedamaian di dalam sukma dan kalbuku.

Monday, November 01, 2004

syukur

03.32 WIB
Depan Terminal Kampung Rambutan
Hari ke-17 puasa Ramadhan


Seorang bapak dan dua anaknya masuk tergesa ke dalam sebuah depot 24 jam,di depam terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Segera dia memesan nasi pepes ikan dan segelas air putih. Sedang dua anaknya memilih menu yang lebih simpel, pecel lele. Dua orang pelayan tergesa melayani ketiga tamu tersebut.

Tak lama berselang, sekali lagi, laki-aki berperawakan kekar itu memanggil sang pelayan. "Buatkan dua gelas jus mangga dan ambilkan satu gelas es. Sekalian sama krating daeng nya," ujarnya lagi. MAsih merasa belum cukup, laki-laki itu, sekali lagi memesan menu lagi, yakni roti bakar keju. Dan, akhirnya dia kembali beralih ke aktifitas yang sebelumnya dilakukannya, makan.

Sembari makan, sempat beberapa kali laki-laki itu berkata kepada kedua anak laki-lakinya agar segera menghabiskan makanan mereka. "Cepat, nanti keburu imsak," ucapnya.

Aku yang duduk di meja belakang ketiga anak manusia itu hanya memandang saja. Sempat sesekali aku memperhatikan betapa lahapnya ketiga orang itu makan. Aku merasa sangat beruntung dengan kondisi ketiganya. Si empunya jagad raya ini, ternyata masih memberikan rejeki yang berlimpah kepada sang bapak yang juga bisa dinikmati oleh kedua anaknya.

Tak hanya itu, aku juga merasa iri, dengan kasih sayang yang dimiliki oleh kedua anak itu. Sang bapak rela, bersusah payah mengajak keduanya makan sahur bersama, meski hanya di sebuah depot. Di matga kedua anaknya yang sayu lantaran masih menyimpan kantuk, bisa kulihat ada sinar kebanggaan terhadap sosok sang bapak.

Sekali lagi, aku hanya bisa menikmati sepenggal drama di dalam kehidupan manusia. Aku tidak mungkin bisa menikmati apa yang dipertontonkan oleh ketiga anak manusia itu. Namun aku turut bersyukur, sebab, ketiganya masih bisa menikmati kebersamaan dalam keluarga. Sebuah aktifitas yang saat ini sangat sulit bisa kudapati. Apalagi setelah aku pergi merantau ke Jakarta. Aku hanya beruntung, bisa sering pulang ke Surabaya dan menikmati secuil kebersamaan dengan keluargaku sendiri.