Sunday, January 23, 2005

dua cerita

cerita

oke, mulai minggu ini, aku akan kebagian tanggung jawab yang gedhe di programku. tapi masa ampun..., malasku itu lho yang ngga ketulungan. soalnya aku lagi ingin malas-malasan aja. ngga perlu kebingungan dengan segala pertetebengekan kerjaan yang bejibun. but hey, itu namanya kepercayaan yang ngga boleh disia-siakan.
minggu ini aku bakal ngerjain dua proyek. yang pertama adalah pengobatan alternatif HIV/AIDS. di sini aku nantinya bakal jadi VJ alias video journalist yang kudu meliput sendirian. duh... malasnya...! but have to do it. oke girl keep moving!
yang kedua aku harus ngerjain proyek rere -- auditional drummer-nya ADA Band. aku udah mulai ngerjain proyek ini sejak minggu kemarin barengan ma Erna. untuk proyek ini aku didhapuk jadi campers. waa... akhirnya aku jadi campers, dan ngga perlu pusing dengan naskah yang aku memang jadi malas membuatnya saat ini.
kayanya virus malas ini sudah menghinggapi diriku selama dua minggu terakhir ini. padahal aku sendiri inginnya memiliki semangat membara. biar semua kerjaan bisa cepat selesai.

cerita lain

hari ini yahya pergi ikut rombongan menristek ke pare-pare. dia bakal ada di sana sampai besok hari senin. ya ampun... tahu ngga sih, sebelum pergi ternyata redakturnya ngga pernah bisa ngerti kalau anak buahnya tuh perlu istirahat. bayangin aja, yahya harus berangkat jam 5 pagi dari rumah dan dia diberi liputan malam yang selesainya jam 1. belum lagi dia harus menulis beritanya. hasilnya, dia ngga sempet istirahat sama sekali. ngga manusiawi!
aku jadi kasihan banget ngelihat dia. tapi setidaknya aku bisa bantuin dia sedikit. hehehe... aku cuma bantu siapin baju dan perlengkapan yang akan dibawanya ke Pare-pare. Plus, jam empat pagi di tengah hujan gerimis aku ngebut dari Mampang ke Jalan Dewi Sartika buat jemput Yahya. Wiii.... dingin...!
ada yang lucu dengan kepergian yahya kali ini. aku memang orangnya paling suka kangen sama dia. dan kali ini aku lampiaskan kangen itu dengan memeluk baju kotor Yahya. Huahaha....! well, setidaknya aku bisa mencium aroma tubuhnya kan...!
aku jadi ingat masa kecilku dulu. Ayahku sering kali tugas luar kota. dan aku jadi suka kangen sama beliau, karena aku sangat dekat dengan ayahku. solusinya, ibuku selalu menyimpan satu baju kotor ayah untuk kubawa tidur. jadi aku ngga akan mengganggu ibu untuk minta dikelonin karena sudah ada pengganti ayahku.

Friday, January 21, 2005

Tiga Hari

Weii...akhirnya libur tiga hari datang juga. Tapi bosen langsung saja menghantam di hari pertama. Abis bingung mo ngapain di kontrakan selama tiga hari. Untungnya Yahya ngajak aku untuk ikut dia liputan konser jazz. Hihihi.. dia ngga ngeh sama sekali tentang jazz, sementara aku senang banget ma tuh musik. Plus yang paling menyenangkan aku bisa motret juga.

Besok mau ngapain lagi ya...? Kayanya bakal nonton DVD seharian deh. Kan besok baru hari Sabtu. Dan paling-paling aku bakal bersihin kamar yang sudah mulai berantakan. Hihihi... tau ngga sih, selama satu minggu bak kamar mandi belum aku kuras. Sampe-sampe untuk mandi aja aku lebih memilih memakai bak. Abis air di dalam bak sudah coklat. Yaiks.... JOROK ABIS!

Yang lucu, pas tadi Yahya datang ke kontrakan dan aku bilang hari ini tugas dia harus ngebersihin kamar mandi, dia langsung ngakak...! "Huahahaha...., kok jadi aku ikut kebagian ngebersihin ya?" But hey, dia janji besok mau bantu ngebersihin kamar sebelum pergi ke kantor. Thank's God!

Friday, January 14, 2005

akhirnya

akhirnya setelah sekian lama tak mengerjakan apa-apa, aku bakal sibuk selama tiga minggu ke depan. yah, terkadang pekerjaan membuat kita tak tahu apa yang akan terjadi beberapa saat yang akan datang.
beberapa minggu lalu, aku merasa sangat menjadi pengangguran, karena memang tidak ada proyeksi liputan untukku. tapi mulai akhir minggu ini, aku sudah harus kembali tune in ke dalam tim-ku lagi. sabtu ini saja misalnya, aku sudah harus bergegas menyiapkan keperluan untuk reka ulang. lalu minggu depan aku sudah harus menyiapkan tantangan untuk seorang ahli pengobatan alternatif yang mampu menyembuhkan HIV/AIDS. semoga dia berhasil.
tapi...., ketika aku sudah mulai tune ini, aku malah kena masalah, flu datang tanpa diundang. sepagian hidungku meler ngga ada hentinya. bersin-bersin pun mewarna setiap menit yang kulalui. menyebalkan. karena aku merasa ngantuk setiap saat. biasalah... efek flu pasti seperti itu. jadi aku sangat tidak senang ketika flu sudah menyergapku.
mungkin akibat aku tidak bisa tidur semalaman dan aku juga sempat tertidur di lantai selama satu jam. hehehe...biar tubuhku besar aku tidak pernah tahan berlama-lama tidur di lantai.

Thursday, January 13, 2005

Iwan.....

Ya ampun....
Aku sama sekali ngga menyangka kalau akan ditelepon oleh Iwan. Dia itu cowok yang selama dua tahun ini jatuh cinta setengah mati padaku. Itu kata teman-temanku lho...
Antara kebingungan dan juga senang dia menelepon. Aku bingung karena Iwan langsung saja nerocos bahwa dia merasa kangen sekali padaku. Padahal aku... memiokirkannya pun tidak. Aku hanya memandang dia sebagai kawan baik. Lain itu tidak ada lagi.
Ketika Iwan menelepon, aku juga merasa senang, karena aku bisa mengajak dia berbisnis, apalagi dia dekat dengan Sujiwo Tedjo. Yang aku perlukan adalah bisa berdekatkan dengan Mas Tedjo.
Wah, kalau sudah begitu aku jadi salah tingkah.
Bagaimana ya, kalau dia tahu aku sudah punya Yahya? Waduh, dia pasti bakal patah hati. Tapi aku doakan dia tidak sampai pingsan kalau tahu yang sebenarnya.

Wednesday, January 12, 2005

Hhhhh...

Selama satu minggu ini aku luntang-lantung di kantor seperti orang yang ngga punya kerjaan. Karena memang iya! Masalahnya, aku diminta menanangi penyembuhan HIV/AIDS secara alternatif. Menghubungi narasumber dari penyembuhan alternatifnya sih mudah, karena dia yang menantang. Tapi menghubungi narasumber penderita HIV/AIDS-nya yang susah, lantaran kedua HP yang dimilikinya sama sekali tidak aktif. Maka, aku tidak lagi bisa berbuat apa-apa, selain menunggu pekerjaan.

Untungnya, aku masih memiliki pekerjaan lain yang bisa membuat rasa bosan ini sedikit hilang, yakni menemani Dodot mengedit gambar di Pejaten. Setidaknya, aku masih merasa berguna (ciieee...!).

Sore ini aku diundang oleh sahabat yang juga saudaraku, Sus. Dia akan merayakan pertunangannya dengan Omar yang baru dikenalnya selama tiga minggu. Mereka berdua baru saja pulang dari Surabaya untuk memberikan kabar ini pada orangtuanya. Duh senangnya... Tapi dibalik itu semua, aku juga merasa iri. Soalnya mereka pasangan yang serasi satu dengan yang lain. Omar bahkan terlihat sangat mencintai Sus. Well, aku doakan mereka agar selalu hidup bahagia, meski mungkin permasalahan akan selalu muncul. Aku berharap tetap bisa keep in touch sama Sus, karena dia berencana akan tinggal di luar negeri.

Monday, January 10, 2005

Adil vs Tidak Adil

"Ya Tuhan.. kenapa aku selalu kau tempatkan dalam keadaan ini. Aku sudah berusaha keras untuk hidupku. Aku sudah mencoba untuk bisa survive. Tapi apa yang Kau berikan padaku, KETIDAKADILAN! Kamu adalah yang maha segalanya, dan apakah maha ketidakadilanmu itu harus aku alami Tuhan....!!"


Itu adalah sepenggal keluh kesah seorang perupa di Jakarta. Laki-laki paruh baya itu, sengaja memilih menjadi perupa lantaran hanya itulah satu-satunya keahlian yang dia miliki. Sementara dia harus menghidupi dua orang anaknya. Maka, suatu kali dia mengeluh tentang keadaannya lantaran sudah tak lagi mampu berpikir jernih. Beruntung dia tidak pernah berpikir untuk melakukan pencurian atau menggarong orang untuk mendapatkan uang.

Aku, aku mungkin tak terlalu mengenal perupa itu. Aku hanya mendengarkan keluh kesahnya di seberang tempat dia duduk. Namun, aku juga sempat mengalami masa seperti dia, merasakan bahwa Tuhan sama sekali tidak adil dalam kehidupan ini. Tak hanya dalam kehidupanku tetapi dalam kehidupan orang lain.

Suatu kali, di tahun 2002, aku pernah meliput seorang bocah berusia enam tahun yang buta, tuli, bisu dan lumpuh. Penderitaan itu masih belum seberapa, anak laki-laki yang berkulit kuning langsat itu, tak pernah diinginkan oleh kedua orangtuanya. Dia diserahkan kepada seorang Mami (perawatnya itu adalah banci), ketika dia barus berusia satu minggu.

Aku masih ingat ketika aku datang ke rumah di kawasan Wonokromo, Surabaya, di tengah hujan, lantas masuk ke dalam rumah seukuran 3x6 meter. Aku melihat sang bocah -- aku lupa namanya -- sedang berbaring sambil memegang sisir warna merah. Aku tertegun melihat dia. Sejenak aku kehilangan kata-kata. Aku hanya membayangkan betapa merananya dia, lantaran tak bisa melakukan apa-apa. Hanya berbaring dan memainkan sisir kesayangannya -- begitu kata Mami.

Seminggu setelah pertemuanku itu, bantuan dana berdatangan ke rumah Mami. Dia berterimakasih padaku karena aku berhasil membuat kelegaan ekonomi baginya. Namun, dua hari berselang, kebahagiaan itu tiba-tiba saja hilang. Sekali lagi aku dibuat terhenyak oleh kenyataan. Volume otak bocah laki-laki itu, ternyata makin lama makin mengecil. Dan itu membuat kemampuan organ tubuhnya kian melemah.

Malam hari setelah aku mengetahui hal itu dari Mami, aku langsung merutuk-rutuk. Aku merasa Tuhan sangat tidak adil kepada bocah itu. Aku tidak pernah bisa mengetahui maksud-Nya menciptakan bocah laki-laki itu. Tapi, aku berharap bahwa dibalik ketidakadilan Tuhan terhadap anak itu, Dia sudah menciptakan orang-orang yang berhati mulia.

Dalam perjalanan waktu dua tahun setelah aku meliput sang bocah, sering aku memikirkan nasibnya saat ini. Sebab, aku sudah tak lagi bisa berkomunikasi dengan Mami. Kadang, ketika aku pulang ke Surabaya, aku sempatkan lewat di depan rumah itu. Menoleh sejenak ketika melintasi rumah itu, dan berharap jika bocah laki-laki itu sudah tiada, dia akan menerima keadilan yang tak didapatkannya di dunia fana.

Friday, January 07, 2005

bapak-bapak baru

"Gua kemarin telpon lu, tapi ngga lu angkat. ya udah gua telpon aja Rizky-- Rizky Amron," kata Mas Bagyo pada Rizky.
"Wah, sori bos, kemarin HP-nya kutinggal di kamar. Aku sedang di luar sama anak dan istriku. Emang ada apa bos," jawab Rizky.
"Anakku sakit, kena radang. Tapi untung Rizky kasih tahu kalau aku bisa bawa di ke Hermina -- RSIA Hermina. Duh, panas tinggi, takut banget aku, apalagi pas malam tahun baru. kan ngga ada dokter yang buka."
"Sekarang gimana kondisinya. Dah baikkan belum? Wah, gawat juga tuh, baru dua bulan kan Mas?"
"Iya, makanya aku takut banget kalau terjadi apa-apa. Tapi untung, sekarang sudah mendingan. eh, ngomong-ngomong anakmu sudah berapa bulan Riz?"
"Lima bulaln jalan. Dia sudah bisa tengkurap dan sekarang sudah tahu bapaknya lho. Kalau aku panggil dia sudah tahu."

Begitulah sepenggal percakapan yang kuikuti kala aku sedang duduk bersama dengan empat kawan yang baru beberapa bulan menjadi Bapak. Aku mendengar ada nada kegelisahan dan kekhawatiran di dalam nada suara mereka, saat anak pertamanya sakit. Aku juga mendengar nada bangga dan bahagia kala sang anak sudah bisa melakukan sesuatu, terutama ketika sang anak mulai mengenali bapak-bapak mereka.

Perbincangan yang mereka lakukan tak hanya terputus dengan perkembangan yang dialami oleh anak-anak mereka saat ini. NAmun, mereka juga sudah membicarakan lokasi yang tepat untuk membesarkan anak-anak mereka. Ada kekhawatiran dalam diri mereka masing-masing jika nanti anaknya tidak bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang baik.

"Kalau aku memilih Bogor untuk membesarkan anakku. Makanya sekarang aku sedang menyicil rumah di sana," kata Mas Didit, "Aku rasa Jakarta kurang bagus sebagai tempat mendidik anak. Apalagi melihat lingkungannya saat ini. Wah, aku rasa ngga bagus untuk dijadikan tempat bertumbuhkembang anak-anak," sambungnya lagi.

My God..., aku sebagai satu-satunya perempuan disitu merasa kagum dengan mereka, bapak-bapak baru. Sebab, mereka sudah memikirkan apa yang terbaik buat anak-anaknya, meski mereka sendiri tak tahu apa yang akan dihadapi nantinya. Setidaknya, aku bisa membuka perspektifku tentang seorang laki-laki yang sudah menjadi seorang bapak. Mereka tidak hanya mempercayakan pertumbuhan dan perkembangan anaknya pada istri-istri mereka. Kawan-kawanku itu, tidak hanya sibuk mencari materi untuk anak mereka saja.

Mungkin, kalau keempat bapak-bapak baru itu, sempat memperhatikan ekspresiku, maka mereka bioleh mengatakan, "Woi..., bangun. Kamu terpesona ya sama apa yang kami bicarakan." Karena aku memang terpesona dan separuh tidak percaya dengan apa yang aku dengar.

Aku berharap nantinya aku bisa menemukan laki-laki yang tepat untuk menjadi teman, sahabat, suami dan juga bapak untuk anak-anakku. Aku menginginkan laki-laki seperti keempat kawanku itu. Laki-laki yang mau berbagi semuanya dengan istri mereka.

Thursday, January 06, 2005

Hhhhh....

Wah.., minggu ini aku senang sekali, lantaran punya kerjaan sampingan. Aku bekerja sebagai marketing, dan selama satu minggu menerjuni bidang baru ini aku sudah mendapatkan dua klien. Well, bukan klien yang besar, namun itu sebuah keberhasilan tersendiri, karena aku baru menekuninya selama satu minggu. Mudah-mudahan uangnya bisa berguna untuk beli apa saja. Hihihi...

O ya, minggu ini sedang sebal dengan kantor Yahya. Masa satu orang dikasih beban tujuh bidang liputan. Busyet! Coba bayangkan, dia harus meliput bidang otomotif, teknologi, budaya, hiburan, pendidikan, kesehatan daqn lingkungan. Masya Allah -- eh, bener ngga sih tulisannya -- kacau bener tuh kantor. Dan yang paling parah, di desk dia yang sekarang, yakni Kesra -- yang sama sekali ngga mensejahterakan wartawannya -- hanya ada empat orang wartawan. Padahal seharusnya di desk itu, ada sekitar delapan hingga sepuluh wartawan. Gila! Kalau aku, aku akan menolak penugasan yang kata orang Jawa KEBACUT itu.

Yang membuat aku ngga tega, sudah beberapa kali, Yahya ngga tidur gara-gara kebingungan dan ngga punya contact person untuk bidang liputannya. Yach.. namanya juga masih baru, katanya. Dia sepertinya nrimo saja tugas yang diberikan oleh kantornya yang super ngga punya perasaan itu. Dan hari ini, dia kerja mulai jam 12 malam sampai jam 6 sore. Gila! buat apa coba dia sampai segitunya. Bukan apa-apa sih, ngga tega aja ngliat dia lemes dan ngga ada tenaga begitu. Plus dia masih harus ke kantor lagi jam 10 malam ini. Well, can you imagine that?! Kebayang aja sama aku, kalau pas sebulan nanti dia akan sakit lever. Well.. well.. that's not so nice isn't it.

Monday, January 03, 2005

Bosan!

Baru dua hari aku di Jakarta, perasaan bosan sudah begitu tinggi. Malas ada di kontrakan sendirian. Lantaran yang bisa diajak omong cuma satu : TV! Dan itu yang membuatku senewen habis-habisan! Bayangkan saja -- buat mereka yang normal -- pagi berangkat ke kantor, pulang malam. Begitu buka kontrakan yang ada sepi. Ngga ada lagi orang yang bisa diajak bicara. Kayanya hidupku cuma untuk kerja saja. Padahal aku ingin sekali bisa berbincang sejenak dengan orang lain.

Ini sudah berlangsung sekitar dua bulanan setelah aku pindah ke kontrakan di dekat kantor. Kehidupan sosialku sepertinya langsung membeku. Aku tidak mau mengungkit tempat kos-ku yang dulu, tapi menyenangkan saja, pas pulang kantor, meski sudah larut, aku masih bisa mendengar teman-teman satu kos-ku bercanda. Terkadang aku ikut nongkrong sebentar dengan mereka. Lumayan, bisa ketawa dan punya perbincangan di luar pekerjaan.

Nah, berbeda dengan sekarang. Ketika aku sudah capek, aku pulang dan yang aku temui menungguku dengan setia adalah pesawat televisi dan stereo set-ku. Hhhhh....! Semalam, aku ingin sekali teriak. Aku ingin sekali bisa bercerita dengan orang lain, tapi sekali lagi yang aku temui hanyalah pesawat televisiku tersayang.

Ada satu cara yang bisa aku lakukan agar aku bisa tetap tidak merasa kesepian. Yakni, stay di kantor selamanya. sebab dengan demikian, aku tetap akakn bisa berbincang dengan orang lain. Tak hanya itu, aku juga bisa merasa sangat capek, sehingga ketika aku sampai di kontrakanku aku bisa segera tertidur. Tapi sayangnya, cara ini juga ngga banyak membantu. Pasalnya aku sering terbangun dan mendapati diriku sendirian di dalam kamar. Menyedihkan!

Beberapa waktu lalu aku sempat tertawa ketika aku melihat film While You Are Sleeping. Salah satu karakter di situ mengatakan, "I am home for a cat..." my God, kok similar banget dengan aku ya. Hanya saja, "I am home for a television set...." Huahahaha.....

Kadang aku merasa sangat ingin memindahkan Surabaya ke daerah Bogor -- apa mungkin ya. Sehingga, aku bisa pulang ke rumah dan merasa ada seseorang yang menungguku ketika aku pulang. Jadi aku tidak akan pulang ke rumah untuk television set-ku. Yaiks...!

Malam ini aku ingin seklai bisa sepat pulang. Soalnya, kepalaku sakit minta ampun akibat pasukan migren yang menyerang dengan ganas. Tapi sayangnya, aku tidak ingin pulang juga. Karena, sekali lagi, aku tidak ingin merasa kesepian di kontrakan. So, aku mencoba menghabiskan malam ini di depan komputer saja. Biar pun aku harus memicingkan mata untuk melihat tulisan di layar komputer.

Aku juga ounya rencana untuk pergi ke TIM. Biasalah.., aku ingin nonton film, ada film horor -- yang katanya lumayan bagus -- judulnya Grudge. Well, aku ingin banget lihat, tapi aku ngga tahu apakah kepalaku sanggup melihatnya. So... let see what happened to me next!!

VIVA KESEPIAN.....!!!!!

Sunday, January 02, 2005

2005

ini hari pertama aku kerja di tahun 2005. ngga ada sesuatu yang spesial, semuanya biasa saja. aku sedang sibuk mencari pekerjaan baru yang memang bisa pas dengan kondisiku sekarang ini. dan aku sedikit beruntung, karena salah seorang teman sudah menawariku pekerjaan sebagai wire di Reuters.

well, aku langsung saja antusias dengan pekerjaan yang baru ini, meski aku tahu resiko yang aku jalani sangat besar. karena penghasilanku sangat tergantung terhadap pekerjaanku. aku berharap aku bisa survive. kalau jadi, ini adalah bulan terakhirku di Trans TV. well, akhirnya untuk kedua kalinya aku berhenti bekerja di bulan Januari.

o ya, aku juga akhirnya bisa kembali ke Surabaya dan bekerja di sana. Aku sudah bicarakan hal ini dengan Yahya, dan dia sudah setuju dengan keputusanku ini. hanya dia tetap ingin aku bisa kembali tinggal di Jakarta.