Adil vs Tidak Adil
"Ya Tuhan.. kenapa aku selalu kau tempatkan dalam keadaan ini. Aku sudah berusaha keras untuk hidupku. Aku sudah mencoba untuk bisa survive. Tapi apa yang Kau berikan padaku, KETIDAKADILAN! Kamu adalah yang maha segalanya, dan apakah maha ketidakadilanmu itu harus aku alami Tuhan....!!"
Itu adalah sepenggal keluh kesah seorang perupa di Jakarta. Laki-laki paruh baya itu, sengaja memilih menjadi perupa lantaran hanya itulah satu-satunya keahlian yang dia miliki. Sementara dia harus menghidupi dua orang anaknya. Maka, suatu kali dia mengeluh tentang keadaannya lantaran sudah tak lagi mampu berpikir jernih. Beruntung dia tidak pernah berpikir untuk melakukan pencurian atau menggarong orang untuk mendapatkan uang.
Aku, aku mungkin tak terlalu mengenal perupa itu. Aku hanya mendengarkan keluh kesahnya di seberang tempat dia duduk. Namun, aku juga sempat mengalami masa seperti dia, merasakan bahwa Tuhan sama sekali tidak adil dalam kehidupan ini. Tak hanya dalam kehidupanku tetapi dalam kehidupan orang lain.
Suatu kali, di tahun 2002, aku pernah meliput seorang bocah berusia enam tahun yang buta, tuli, bisu dan lumpuh. Penderitaan itu masih belum seberapa, anak laki-laki yang berkulit kuning langsat itu, tak pernah diinginkan oleh kedua orangtuanya. Dia diserahkan kepada seorang Mami (perawatnya itu adalah banci), ketika dia barus berusia satu minggu.
Aku masih ingat ketika aku datang ke rumah di kawasan Wonokromo, Surabaya, di tengah hujan, lantas masuk ke dalam rumah seukuran 3x6 meter. Aku melihat sang bocah -- aku lupa namanya -- sedang berbaring sambil memegang sisir warna merah. Aku tertegun melihat dia. Sejenak aku kehilangan kata-kata. Aku hanya membayangkan betapa merananya dia, lantaran tak bisa melakukan apa-apa. Hanya berbaring dan memainkan sisir kesayangannya -- begitu kata Mami.
Seminggu setelah pertemuanku itu, bantuan dana berdatangan ke rumah Mami. Dia berterimakasih padaku karena aku berhasil membuat kelegaan ekonomi baginya. Namun, dua hari berselang, kebahagiaan itu tiba-tiba saja hilang. Sekali lagi aku dibuat terhenyak oleh kenyataan. Volume otak bocah laki-laki itu, ternyata makin lama makin mengecil. Dan itu membuat kemampuan organ tubuhnya kian melemah.
Malam hari setelah aku mengetahui hal itu dari Mami, aku langsung merutuk-rutuk. Aku merasa Tuhan sangat tidak adil kepada bocah itu. Aku tidak pernah bisa mengetahui maksud-Nya menciptakan bocah laki-laki itu. Tapi, aku berharap bahwa dibalik ketidakadilan Tuhan terhadap anak itu, Dia sudah menciptakan orang-orang yang berhati mulia.
Dalam perjalanan waktu dua tahun setelah aku meliput sang bocah, sering aku memikirkan nasibnya saat ini. Sebab, aku sudah tak lagi bisa berkomunikasi dengan Mami. Kadang, ketika aku pulang ke Surabaya, aku sempatkan lewat di depan rumah itu. Menoleh sejenak ketika melintasi rumah itu, dan berharap jika bocah laki-laki itu sudah tiada, dia akan menerima keadilan yang tak didapatkannya di dunia fana.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home