bapak-bapak baru
"Gua kemarin telpon lu, tapi ngga lu angkat. ya udah gua telpon aja Rizky-- Rizky Amron," kata Mas Bagyo pada Rizky.
"Wah, sori bos, kemarin HP-nya kutinggal di kamar. Aku sedang di luar sama anak dan istriku. Emang ada apa bos," jawab Rizky.
"Anakku sakit, kena radang. Tapi untung Rizky kasih tahu kalau aku bisa bawa di ke Hermina -- RSIA Hermina. Duh, panas tinggi, takut banget aku, apalagi pas malam tahun baru. kan ngga ada dokter yang buka."
"Sekarang gimana kondisinya. Dah baikkan belum? Wah, gawat juga tuh, baru dua bulan kan Mas?"
"Iya, makanya aku takut banget kalau terjadi apa-apa. Tapi untung, sekarang sudah mendingan. eh, ngomong-ngomong anakmu sudah berapa bulan Riz?"
"Lima bulaln jalan. Dia sudah bisa tengkurap dan sekarang sudah tahu bapaknya lho. Kalau aku panggil dia sudah tahu."
Begitulah sepenggal percakapan yang kuikuti kala aku sedang duduk bersama dengan empat kawan yang baru beberapa bulan menjadi Bapak. Aku mendengar ada nada kegelisahan dan kekhawatiran di dalam nada suara mereka, saat anak pertamanya sakit. Aku juga mendengar nada bangga dan bahagia kala sang anak sudah bisa melakukan sesuatu, terutama ketika sang anak mulai mengenali bapak-bapak mereka.
Perbincangan yang mereka lakukan tak hanya terputus dengan perkembangan yang dialami oleh anak-anak mereka saat ini. NAmun, mereka juga sudah membicarakan lokasi yang tepat untuk membesarkan anak-anak mereka. Ada kekhawatiran dalam diri mereka masing-masing jika nanti anaknya tidak bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang baik.
"Kalau aku memilih Bogor untuk membesarkan anakku. Makanya sekarang aku sedang menyicil rumah di sana," kata Mas Didit, "Aku rasa Jakarta kurang bagus sebagai tempat mendidik anak. Apalagi melihat lingkungannya saat ini. Wah, aku rasa ngga bagus untuk dijadikan tempat bertumbuhkembang anak-anak," sambungnya lagi.
My God..., aku sebagai satu-satunya perempuan disitu merasa kagum dengan mereka, bapak-bapak baru. Sebab, mereka sudah memikirkan apa yang terbaik buat anak-anaknya, meski mereka sendiri tak tahu apa yang akan dihadapi nantinya. Setidaknya, aku bisa membuka perspektifku tentang seorang laki-laki yang sudah menjadi seorang bapak. Mereka tidak hanya mempercayakan pertumbuhan dan perkembangan anaknya pada istri-istri mereka. Kawan-kawanku itu, tidak hanya sibuk mencari materi untuk anak mereka saja.
Mungkin, kalau keempat bapak-bapak baru itu, sempat memperhatikan ekspresiku, maka mereka bioleh mengatakan, "Woi..., bangun. Kamu terpesona ya sama apa yang kami bicarakan." Karena aku memang terpesona dan separuh tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
Aku berharap nantinya aku bisa menemukan laki-laki yang tepat untuk menjadi teman, sahabat, suami dan juga bapak untuk anak-anakku. Aku menginginkan laki-laki seperti keempat kawanku itu. Laki-laki yang mau berbagi semuanya dengan istri mereka.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home