miracle
Ya ampun...! Jam dua pagi aku ngeluyur pergi ke kantor yang jaraknya cuma 1,5 kilo dari rumah. Ngga bisa tidur lagi. Dan biasanya, ngeluyur ke kantor adalah obat yang manjur untuk mencari kantuk. Setelah bermain games lewat yahoo selama satu atau dua jam, maka rasa bosan muncul dan aku langsung ngacir balik ke rumah.
kenapa aku ngga bisa tidur?
well, jawabannya panjang dan waduh kayaknya aku ngga bisa banyak omong.
sejak kecil aku punya "gift" dari Tuhan yang tidak pernah aku asah. Namun demikian, hingga sekarang terkadang dia muncul dengan sendirinya. Dan sering kali kemunculannya berkaitan dengan kehidupan terutama keputusan terbesar dalam hidupku.
beberapa waktu lalu, ketika aku pulang ke surabaya, tiba-tiba saja bakat terpendamku itu muncul. dan aku jadi ketakutan setengah mati akan hal itu. permasalahannya itu semua berhubungan dengan Yahya. menurut apa yang bisa aku lihat, aku dan dia akan berpisah. rasanya aku tak ingin kembali ke jakarta sewaktu mengetahui hal itu. rasa rinduku yang begitu besar setelah tak bertemu dengan Yahya selama lima hari, HILANG!
Sejak di bandara Juanda, aku merasa enggan melangkahkan kakiku menuju pintu boarding. Setelah berciuman dengan ibu dan kakakku, aku langsung melangkah dan tidak lagi mau melambaikan tangan kepada mereka berdua, seperti yang biasanya aku lakukan. Ada perasaan kosong yang amat di setiap jengkal langkahku kala itu.
Begitu berada di dalam pesawat, yang kuinginkan hanyalah menghentikan waktu. Atau kalau memungkinkan aku bisa memutar waktu itu kembali ke saat di mana aku belum melihat masa depanku. Ketika pesawat bersiap untuk lepas landas, perasaan tak ingin berada di Surabaya atau di Jakarta kian besar. Bahkan kekosongan di dalam diriku makin membumbung. Tidak ada lagi rasa rindu dan sayang pada Yahya. Aku berusaha menghapus rasa itu dalam sekejab. O my God, I hate it!
selama tiga hari aku sama sekali tidak ada niatan untuk kerja. jika aku bertemu dengan Yahya, ada perasaan bersalah yang aku tidak tahu datang dari mana. SEDIH! Aku sangat sedih, dan Yahya tahu itu, karena aku memberitahu dia tentang apa yang sudah aku lihat. Kami berdua berpelukan lama sekali setelah aku bercerita sambil sesenggukan. Ya, aku memang lemah, kalau sudah berhadapan dengan Yahya. Ngga ada Aqnes yang begitu tabah dan kuat. Yang ada hanyalah seorang anak kecil yang ingin dipeluk dan disayang.
Dua malam lalu, aku terbangun dari tidur. Di keremangan, aku lihat Yahya terbaring dengan tenang. Aku bangunkan dia. "Mamas..., mau temenin aku doa ngga?" Tiba-tiba saja, kerinduan akan Bapa itu datang. Dan Yahya dengan sepenuh hati mau menemani aku untuk berdoa. Dalam doa itu aku hanya minta satu hal yaitu keajaiban atas diriku.
Sejak lama aku tahu, Bapa sudah atur alur hidupku. Aku tidak akan bisa menghindar dari apa yang sudah Dia rencanakan atas diriku. Karena itulah, maka aku hanya meminta agar Bapa mau memberikan keajaiban atas diriku dan Yahya. "Dear Father, today I only ask You one thing, MIRACLE, Amen.
