Sunday, March 06, 2005

Better

Things going to be better now a days
I don't know if it is a miracle or not
I hope everything going well in the future
There nothing I can do with everything that happened in my live
I try to accept everything eventhough it's hard to understand
---------------

Apakah aku adalah orang yang bisa menerima segala kejadian yang harus aku alami? Jawabnya: Kadang-kadang! Sering juga di suatu saat aku merutuk dan tidak bisa menerima dengan lapang dada, terutama jika aku sedang menginginkan sesuatu dan berusaha meraih, lantas aku gagal. Maka, dengan amat sangat aku akan memprotes apa yang aku dapatkan. Apakah itu manusiawi? Jawabnya: Mungkin?!

Saat ini aku sedang berusaha untuk mengatur emosiku. Selama satu tahun lebih, aku masih belum bisa mengatasi emosi yang meledak-ledak ketika amarah hinggap. Aku merasa sangat tidak bisa mengendalikan diri, jika ada seseorang yang membuat emosiku terbakar.

Semuanya berawal setahun lalu. Saat aku harus kehilangan seseorang yang aku sayangi. Itulah kali pertama aku merasakan panas yang menjalar dari tulang ekor menuju ke tengkukku. Aku hanya bisa menggeretakkan gigi kala itu. Air mata pun tak bisa aku keluarkan. Kosong! Kekosongan yang amat langsung menyergapku saat itu. berbulan kemudian , aku masih tetap diam dan tak bisa mengungkapkan rasa sedih dan marahku pada siapapun. Aku tidak mau terlihat cengeng bagi orang-orang di sekitarku, terutama orangtuaku.

Ya, kejadian yang menyakitkan. Dan kini, aku sedang berusaha bangkit dan menjalani hariku lagi. Mengatur emosi yang meledak-ledak. Meski sering kali aku merasa gagal lantaran aku akhirnya membanting barang-barangku hingga hancur berantakan. Meski terkadang aku berteriak di balik bantal apakku. Meski berkali-kali aku menangis sesenggukan ketika aku merasa kecewa. Aku sedang berusaha menyembuhkan luka dan trauma yang ada.

Banyak hal yang sama sekali tidak pernah aku alami sebelumnya, kini harus aku tanggung akibat rasa marah yang selalu aku pendam itu. Aku merasa tubuhku kian fragile seperti keramik. Ketika aku merasa kecewa, maka perutku langsung protes keras, padahal sebelumnya, itu hanya terjadi pada situasi yang benar-benar membuatku stres.

dibalik itu semua, aku merasa sangat beruntung memiliki Yahya. Dia telaten membantu aku bangkit. Berkali-kali dia mendorong aku untuk selalu waspada dan selalu memeluku erat jika aku mulail tidak bisa mengontrol diri. Dia "mengamankanku".

0 Comments:

Post a Comment

<< Home