PerNikaHan
Sebuah pernikahan mengikat dua orang dengan dua karakter yang berbeda. Karena itulah keduanya harus bisa saling mengerti, meski di sela itu semua, perselisihan bisa menyeruak.
Pernikahan menyatukan dua individu yang berbeda. Tapi jangan pernah menjadi satu jiwa, karena masing-masing memiliki karakteristik yang tak sama. Jangan pernah menjadi seperti pasanganmu, namun jadilah dirimu sendiri. Karena itulah seninya menikah....
Ya begitulah yang bisa aku rasakan setelah menikah dengan Yahya. Banyak hal yang bisa menjadikan kita satu. Namun ada juga hal lain yang menjadikan kita berdua sangat berbeda. Banyak prinsip hidup kami yang bertentangan. Namun, selama ini kami berdua mencoba untuk tidak saling berbenturan. Yang kami bisa pegang hanya saling mengerti kondisi kami masing-masing.
Kami berdua adalah orang yang sangat keras. Sejarah yang kami kubur dalam-dalam sebelum kami menikah bukanlah sejarah yang menyenangkan. Kehidupan menempa kami menjadi dua individu yang siap untuk berjuang. Kami memulai keluarga kami mulai dari nol. Kami sama sekali tidak punya apa-apa. Namun, kami senang dan selalu tertawa. Kami berpikir hingga saat ini kami bahagia. Semua permasalahan kami usahakan untuk selalu kami bagi. Berbagi, menurut kami, adalah hal yang selalu menyatukan kami. Meski harus aku akui, sejak aku menikah dengan Yahya, aku jadi individu yang suka menangis. Karena aku masih senang menyimpan segala masalahku sendirian dan itu sering kali mendapatkan protes dari Yahya.
Selama hidupku, aku belum pernah mengenal laki-laki yang bisa mengayomiku seperti Yahya, kecuali ayahku dan kakakku. Dan kini, setelah menikah dengan Yahya, aku merasa hidupku terasa aman. Aku punya tiga laki-laki yang akan selalu menjagaku. Mereka bertiga, memiliki kesamaan sifat, yaitu suka bercanda. Dan yang terpenting, ketiganya sangat menyayangi aku. Hm...indahnya dunia.
Tidak pernah aku merasa rindu yang sedemikian rupa dengan laki-laki lain seperti pada Yahya. Seperti saat dia harus pergi ke Padang selama lima hari, hu...uh...rasanya lama sekali dia pergi. Sampai aku jadi orang yang sama sekali tidak tahan berada di rumah.
