Saturday, August 27, 2005

PerNikaHan

Sebuah pernikahan mengikat dua orang dengan dua karakter yang berbeda. Karena itulah keduanya harus bisa saling mengerti, meski di sela itu semua, perselisihan bisa menyeruak.
Pernikahan menyatukan dua individu yang berbeda. Tapi jangan pernah menjadi satu jiwa, karena masing-masing memiliki karakteristik yang tak sama. Jangan pernah menjadi seperti pasanganmu, namun jadilah dirimu sendiri. Karena itulah seninya menikah....

Ya begitulah yang bisa aku rasakan setelah menikah dengan Yahya. Banyak hal yang bisa menjadikan kita satu. Namun ada juga hal lain yang menjadikan kita berdua sangat berbeda. Banyak prinsip hidup kami yang bertentangan. Namun, selama ini kami berdua mencoba untuk tidak saling berbenturan. Yang kami bisa pegang hanya saling mengerti kondisi kami masing-masing.

Kami berdua adalah orang yang sangat keras. Sejarah yang kami kubur dalam-dalam sebelum kami menikah bukanlah sejarah yang menyenangkan. Kehidupan menempa kami menjadi dua individu yang siap untuk berjuang. Kami memulai keluarga kami mulai dari nol. Kami sama sekali tidak punya apa-apa. Namun, kami senang dan selalu tertawa. Kami berpikir hingga saat ini kami bahagia. Semua permasalahan kami usahakan untuk selalu kami bagi. Berbagi, menurut kami, adalah hal yang selalu menyatukan kami. Meski harus aku akui, sejak aku menikah dengan Yahya, aku jadi individu yang suka menangis. Karena aku masih senang menyimpan segala masalahku sendirian dan itu sering kali mendapatkan protes dari Yahya.

Selama hidupku, aku belum pernah mengenal laki-laki yang bisa mengayomiku seperti Yahya, kecuali ayahku dan kakakku. Dan kini, setelah menikah dengan Yahya, aku merasa hidupku terasa aman. Aku punya tiga laki-laki yang akan selalu menjagaku. Mereka bertiga, memiliki kesamaan sifat, yaitu suka bercanda. Dan yang terpenting, ketiganya sangat menyayangi aku. Hm...indahnya dunia.

Tidak pernah aku merasa rindu yang sedemikian rupa dengan laki-laki lain seperti pada Yahya. Seperti saat dia harus pergi ke Padang selama lima hari, hu...uh...rasanya lama sekali dia pergi. Sampai aku jadi orang yang sama sekali tidak tahan berada di rumah.

Sunday, August 21, 2005

Kawan Lama

Huah....
Lagi-lagi kantuk menyergapku. Aku baru saja berbincang dengan seorang kawan lama. Terasa menyenangkan. Apalagi kawanku itu benar-benar tahu tentang diriku. Tanpa perlu banyak bicara dia sudah tahu kalau aku membutuhkan orang sebagai tempat sampah.

"Mo curhat ya? kenapa? Ada apa dengan suamimu?" dan aku menjawab, "Ngga ada apa-apa, cuma butuh ngobrol ngalor ngidul aja kok. Abis bete ketemunya orang yang sama dari hari ke hari." Maka mulailah kami berbincang.

Saling mentertawakan kondisi masing-masing yang memang sering terjungkir balik. Ada kalanya aku benar-benar ada di bawah dia, baik dari sisi keuangan sampai pacaran. Ada kalanya juga aku bisa mengejeknya, lantaran dia mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kualifikasinya dan juga dengan gaji yang seadanya. Tapi itulah pertemanan kami yang tidak pernah putus sejak tahun 1996.

Kali ini dia mentertawakan aku dengan kehamilanku. Dia bilang aku akan tambah gendut lagi dan dia ngga bisa membayangkan jika usia kandunganku nantinya sembilan bulan. "Takutnya aku ngga ngenalin kamu lagi. soalnya kamu nambah ndut sih...!" Sebal sekali, padahal sejak pertama hamil sampai sekarang aku hanya naik enam kilogram. Jika dibandingkan dengan ibu-ibu lain yang hamil enam bulan, aku ngga seberapa banyak naiknya.

Ngga cuma itu, kawanku yang satu ini juga mentertawakanku yang jadi makin manja sama Yahya. "Kayanya kamu sedang memanfaatkan kehamilanmu untuk ngerjain suamimu ya. Atau kamu emang jadi orang yang ngga tahan banting?"

Rggh...., kesel, tapi tetap saja dia bisa membuatku tertawa terbahak-bahak. Apalagi dia bilang, dia cemburu sama Yahya yang bisa mendapatkanku. "Tahu ngga sih Lo, Aku tuh naksir kamu sejak kuliah dulu, tapi yang ada kamunya malah ketawa-tawa kalau aku ungkapin perasaanku. sekarang malah ada laki-laki lain yang bisa menikahi dan membuahi dirimu. Duh, beruntungnya dia." Hahahaha....Dasar kawanku yang satu itu memang tukang rayu nomor wahid. dulu sebelum dia satu kampus denganku, ceweknya bertebaran di mana-mana, sampai akhirnya aku "mencampakkannya". Patah hatinya belum juga sembuh, begitu ungkapnya kalau aku tanya kenapa dia tidak cari pacar lagi. Dasar Sableng!

Wednesday, August 17, 2005

Yang Bikin Aku Sebel...!!!!

Aku sekarang jadi suka ngantuk. Ngga bisa sedetik pun aku terlepas dari rasa ngantuk yang menurutku sudah sangat menyebalkan itu. Apalagi kalau sudah terserang kantuk aku tidak bisa menolaknya dan aku harus segera merebahkan diri di atas kasur atau paling tidak memejamkan mataku barang sejenak.

aku sempat baca di sebuah buku yang aku lupa judulnya apa, dan di beberapa website, bahwa wanita yang sedang hamil membutuhkan waktu tidur setidaknya 10 jam. dan waktu tidurku sudah melampui itu. aku sampai bingung sendiri. dan parahnya aku sama sekali tidak bisa menolak untuk tidak segera tidur kalau sudah kantuk itu datang. dan memang saran dari buku dan website itu adalah untuk tidak melawan kantuk. sebaiknya sesegera mungkin tidur. wah... seandainya bisa. seandainya aku ibu rumah tangga biasa yang ngga harus ngantor.

tapi untungnya Yahya suka sekali memberi semangat kalau aku sudah mulai mengeluhkan kondisiku. "Loh, bukannya kamu sudah harus mulai merasakan tanggung jawab jadi ibu. kan, memang begitu adanya kalau jadi ibu. lagipula kalau kamu ngga kerja, kasihan sama kepintaran kamu yang ngga dimanfaatkan," begitu katanya setiap kali aku mulai mutung.

Kadang aku kangen dengan kondisi fisikku sebelum hamil. Mo tidur hanya tiga empat jam sehari NO PROBLEM! kerja dari jam delapan pagi sampai jam 12 malam ngga ada masalah. jungkir balik, lompat pagar, berlarian dan kepanasan aku jarang sekali mengeluh. tapi sekarang, mengangkat ember air saja aku sudah merasa ngos-ngosan. dan seringkali kena marah karena aku bandel angkat-angkat barang berat yang notabene tidak diperkenankan ketika sedang hamil.

Hal lain yang aku sebelin pas hamil adalah sering PIPIS.....!!!! Apalagi kalau adik sedang menendang di kandung kemihku. Maka tanpa aku komando sang pipis sudah keluar dari sarangnya dan membuat celana dalamku basah. Duh, bisa jadi sehari aku ganti celana tiga atau empat kali. Weleh....!!!

Sebel yang lain... mmmm ngga bisa bercinta dengan santai ma Yahya. Habisnya dia sering kali merasa kasihan sudah "menyet" adik. Padahal kan ngga masalah. Aku juga jadi sering ngga tega kalau ngeliat mukanya yang juga ngga tega, padahal dia pengen. "aku keder kalau mo ML, abis kasihan ma adik..."

Masih ada lagi, aku jadi orang yang sangat manja. Beda sekali dengan diriku dulu. Semuanya serba harus ada Yahya, kalau ngga aku ngga bakal mau ngerjain. Duh..., sampai-sampai Yahya bilang, tuh adik pasti tukang ngerajuk dan ngerayu. soalnya kamu manja sekali. Padahal dari semua keluhanyang paling aku sebelin adalah aku jadi orang yang super duper manja.