Saturday, November 05, 2005

kenapa harus dengan orang toraja?
tidak bisakah kau mencari laki-laki lain yang sama-sama jawa?
kenapa harus pindah agama?
tidak bisakah kau mencari yang sama-sama katolik?
kenapa kamu mau tinggal dengan mertuamu?
tidak bisakah kau mencari rumah kontrakan sendiri?

RGH......!!!!!
semua pertanyaan yang diajukan padaku di saat silam itu masih saja terngiang di telingaku hingga sekarang. pertanyaan yang diajukan oleh seseorang yang melahirkan aku ke dunia ini. pertanyaan yang hingga saat ini sering kali membuatku menangis di malam hari.

TORAJA...
memang kenapa dengan orang toraja? aku tidak pernah melihat sisi buruknya. apalagi lelaki yang menjadi suamiku saat ini bukan tipe orang yang menjunjung tinggi adat yang dimiliki oleh leluhurnya. baginya, upacara pemakaman yang menelan banyak biaya itu sama halnya dengan buang-buang uang. menurutnya, masih banyak yang butuh uang itu, misalnya anak-anaknya kelak, masih butuh dana untuk sekolah. kalau orang mati, menurutnya, yang penting kita sudah doakan dia, itu saja sudah cukup.

PROTESTAN...
ya, suamiku agamanya protestan. mungkin banyak orang yang menganggap bahwa katolik, agamaku, dengan protestan memiliki banyak kemiripan. namun, sejujurnya ada banyak hal-hal prinsipil yang berbeda di antara kedua agama itu. dan saat ini sejujurnya, aku tidak sedang berpindah agama menjadi seorang protestan. aku adalah seorang katolik tulen. buatku, pindah agama adalah hal yang sangat sulit. apalagi aku mendapatkan agama yang saat ini aku anut melalui perjalanan waktu yang tidak sebentar. aku belajar sendiri, tanpa ada asuhan dari orangtuaku dalam mencari agama. karena itu, meski di mulut aku mengatakan ya, aku mau pindah agama, tetap saja di hatiku aku adalah seorang katolik.

RUMAH...
ah, dari dulu, aku memang tidak senang tinggal dengan mertuaku. dan itu sudah aku ungkapkan pada suamiku. toh, kini aku tidak tinggal dengan mertuaku. dengan semua kekurangan dan kelebihan yang kami berdua miliki, kami berusaha untuk bisa tinggal di kontrakan kami yang mungil. bahkan saat sakit pun aku enggan ditunggui oleh mertuaku. aku lebih memilih untuk tinggal sendiri saja. lebih menyenangkan dan lebih bisa ngapa-ngapain.

dan kini, saat rumah tanggaku yang bahagia sedang berjalan, orang yang melahirkan aku sering berkata, "kasihan kamu nak, kenapa kamu harus menikah dengannya..."

AH ENTAH....
aku harus bilang apa padanya. apa yang aku harus jelaskan padanya. dia sama sekali tidak tahu kehidupanku di sini. dia tidak tahu betapa bahagianya aku hidup bersama dengan lelaki yang sangat menyayangiku. tak pernah ada lelaki seperti suamiku, kecuali ayah dan kakakku. tak ada lelaki yang memperhatikanku sampai detil kecil yang kumiliki. tak ada lelaki yang bisa menerima kekuranganku dengan apa adanya seperti suamiku. tak ada lelaki yang menguatkanku ketika aku sudah bosan dengan kondisi di sekitarku.

Wednesday, November 02, 2005

Cepetan Donk....!!!

Akhir-akhir ini banyak yang bertanya kenapa aku belum cuti, padahal usia kehamilanku akan sembilan bulan minggu depan.

Well, jujur saja, aku sendiri sebenarnya sudah ingin mengambil cuti. Ingin merasakan enaknya tidak kerja. Tapi, kalau dihitung-hitung, kalau cuti itu kuambil sekarang, maka aku tidak akan bisa berlama-lama dengan adik. Tapi, aku sudah merencanakan untuk mengambil cutiku itu minggu depan. Setelah seminggu ini, aku merasa tulang selangkaku sakit jika dipakai berjalan. Dan itu sangat menyiksa. Apalagi kalau aku sedang tidur dan kemudian harus bangun karena ingin pipis, maka aku harus bisa menahan sakit yang amat sangat.

seminggu ini aku jadi sering bertanya, apa adik akan lahir lebih awal dibandingkan dengan perkiraan dokter, yakni tanggal 23 November ini. Tapi, kata Yahya, aku harus yakin bahwa adik akan lahir sesuai dengan perkiraan dokter. Tapi...., sakitnya itu lho yang aku sama sekali tidak tertahankan. Apalagi kalau aku harus kerja dan banyak jalan-jalan. Bukannya malas jalan, tapi seringkali sakit itu tidak bisa tertahankan.

Belum lagi, seminggu lalu, aku harus terbaring di rumah, gara-gara makan mangga. Rgh....! sangat menyebalkan! selama lima hari aku harus berkutat dengan tempat tidur dan kamar mandi. Diare berat dan muntah yang tak tertahankan berkolaborasi menyiksaku tanpa kenal waktu dan lelah. Hasilnya, berat badanku turun hingga empat kilogram. Begitu aku ke dokter kandunganku, aku langsung kena semprot. Katanya, kurang dua kilogram lagi aku harus bedrest dan diinfus. Please...., I don't wanna be like that. Tapi beruntung adik ngga ada masalah.

Setelah hampir memasuki sembilan bulan ini, aku merasa keinginan untuk segera bisa melahirkan kian kuat. Salah satu alasannya adalah rasa sakit yang tiap saat mendera tanpa bisa aku kompromikan. Belum lagi, kesulitan kalau mau membungkuk akibat perut yang gendut. "Bagaimana bisa orang yang gendut menikmati hidupnya. Ngga bisa melihat ke 'bawah', ngga bisa membungkuk, ngga bisa potong kuku jari kaki, napas suka ngos-ngosan."

Keinginan keduaku yang tidak bisa lagi terbendung adalah aku ingin bisa segera diet menurunkan berat badanku yang sudah overweight ini. Biar bisa cepat kembali ke bentuk tubuhku yang dulu, sebelum aku hamil.

Duh, ternyata menunggu kelahiran adik lama juga. Padahal aku sudah tidak sabar ingin segera melihat dia, tidak lagi sakit-sakitan dan bisa cepat kurusin badan.