Banyak Kisah
Pagi...
Pagi ini, di hari Sabtu, aku kembali berada di depan komputer di kantorku. Ini adalah hari pertama aku bekerja setelah cuti selama lima bulan. Awal yang menyenangkan, sebab aku bekerja tidak dalam kondisi kantor yang hiruk pikuk seperti di hari Senin.
Ada banyak kisah yang aku lalui dalam lima bulan ini. Sebuah awal dalam kehidupanku harus aku lalui kembali. Kini panggilanku bertambah satu, yaitu ibu. Aku adalah ibu dari Theresa Rezlya. Bayi perempuanku itu lahir 7 November 2005, pukul 12.23, dengan berat badan 2,3 kilogram dan panjang 46 cm. Tere, begitu aku memanggilnya, lahir setelah aku mengalami kontraksi selama 17 jam, dan hanya dengan dua kali mengejan.
Bayi mungilku lucu sekali. Sifatnya banyak menurun dariku. Galak dan suka ngambek, begitu komentar Yahya tentang Tere.
Sekarang setelah hampir lima bulan, Tere harus kutitipkan di rumah ibu mertuaku. Ada rasa enggan meninggalkannya, tapi itu harus kulakukan, karena aku juga merasa sumpek jika berada di rumah terus. Maklum sejak kuliah aku sudah terbiasa kemana-mana dan bekerja.
Hmmm....
Banyak kisah menjadi seorang ibu. Mulanya bahagia, tapi seminggu berselang setelah melahirkan aku merasa sangat stres. Bagaimana tidak, Tere tidak pernah tidur di malam hari. Dia ajak aku begadang padahal aku sudah ngantuk sekali. Beruntung ibuku menungguiku selama satu bulan, jadi pagi harinya beliau yang ganti menjaga Tere. Tapi, aku juga tidak lupa, jasa Yahya yang menyemangatiku dan juga menggantikan popok Tere kalau dia pipis di malam hari. Hanya satu dari sekian banyak tugas yang tidak bisa digantikan orang lain pada satu bulan pertama kelahiran Tere, yakni menyusui.
Ada hal lain yang sempat juga membuatku stres. Satu bulan setelah kelahiran Tere, aku terkena demam berdarah dan typus. Ampun! Aku demam selama empat hari. Suhu tubuhku naik turun tidak karuan. Belum lagi perut yang berasa tidak karu-karuan. Dan ditambah, Tere muntah-muntah lantaran air susuku mengandung obat dan dia tidak bisa minum susu formula. Kian stres-lah aku.
Tapi dari sekian banyak kisah stres itu, ada satu hal yang membuatku senang. Yaitu ketika aku bisa tidur selama satu bulan lebih di kamarku di Surabaya. Di sana aku kembali menjadi seorang anak, untuk kali terakhir, meski aku sudah menyandang status sebagai ibu. Setidaknya aku bisa bersenang-senang sejenak, sebelum kembali ke kehidupan nyataku di Jakarta.
