Sunday, April 02, 2006

Hambar

Hidup ini kian hambar. Seiring berjalannya waktu, aku sering merasakan bahwa hidup ini kian tak berasa. Seperti sebuah masakan yang terlalu sering ditambahkan air dan dihangatkan sehingga bumbu yang ada di dalamnya tak lagi berasa. Tak ada rasa asin, manis, pedas, dan asam.

Hidup yang kian tak terasa itu membuatku sering harus memeras otak dan tenaga guna membangkitkan semangat yang juga ikut mengendur. Aku merasa seperti berada di ruang hampa udara dan bobotku menjadi ringan seperti kapas. Aku merasa tak berharga ada di dunia ini, lantaran aku merasa tak lagi punya arti.

Kehambaran membuatku semakin merasa ingin dilupakan. Aku ingin meringkuk di sudut kamar mandi, tempatku mendinginkan badan jika aku memiliki sekian banyak masalah. Ya, dalam kamar mandiku, aku tidak lagi merasakan kehampaan. Di dalam kamar mandiku, aku merasa ada sentuhan dingin dan lembut yang membuatku merasa hidup.

Kehambaran ini membuatku merasa seperti tak lagi memiliki jiwa. Ruh yang mengisi badaniahku menguap seperti air di padang gurun. Hilang begitu saja di bawa sang angin. Apa yang membuatku merasa hambar. Sekian banyak bumbu sudah kutambahkan dalam olahan masakanku, namun sekali lagi yang kudapati hanyalah kehampaan yang tak jua kunjung menghilang.

Ah, hidupku kian terasa hambar, karena semuanya hanya begitu-begitu saja. Tak ada yang menyambut tanganku kala aku menginginkan sesuatu yang baru. Orang hanya ingin hidup dalam polanya, pola yang sudah ada sejak lama. Tak ada keinginan untuk melakukan sesuatu yang spontan dan tanpa memikirkan akibatnya. Orang kian enggan mengambil resiko.

Ya, aku tahu, hidupku kian terasa hambar berada di tengah-tengah pola ini. Sebuah pola yang tak ingin dirubah oleh orang yang sedang menjalani kehidupan bersama dengan diriku. Semuanya serba sama. Semuanya tak boleh lagi diganggu gugat oleh siapapun. Maka yang kudapatkan hanya sebuah kehambaran dalam kehidupan ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home