Tuesday, July 18, 2006

Isohku Sayang Isohku Malang

Matahari siang itu bersinar terik. Tawa canda anak-anak desa terdengar di sela-sela gemerisik bambu. Seorang gadis cilik berusia tujuh tahun sedang asyik bermain sendiri, dialah Siti Kholisoh. Isoh, begitu dia dipanggil, begitu energik dan ceria. Isoh tidak peduli dengan benjolan di wajahnya yang membuat rupanya menjadi tidak lagi cantik.

Sejak dilahirkan ke dunia, tujuh tahun silam, Isoh sudah memiliki benjolan di wajah dan kepalanya. Menurut Basri sang ayah, benjolan itu ada akibat kelalaiannya saat Purwana, ibu Isoh, sedang mengandung Isoh. Saat Ana, panggilan Purwana, sedang hamil delapan bulan, Basri menampar seekor monyet. "Saya lupa waktu itu, dan baru ingat saat sampai di rumah dan lihat istri saya sedang hamil. Nyesel juga waktu itu," ungkap Basri.

Setelah kejadian itu, warga kampung Cibangke Tangerang ini, hanya bisa berdoa supaya anak yang dikandung istrinya tidak apa-apa. Namun, kehendak Tuhan berkata lain. Saat Ana melahirkan, ternyata bayinya memiliki benjolan di wajah dan kepalanya. Basri pun lantas ingat kejadian yang dialaminya sebulan silam. Begitu bayi Isoh dibawa pulang, bapak empat anak itu berusaha menghilangkan benjolan di wajah putri bungsunya itu. "Pipinya saya lem pakai isolasi sampai tiga hari. Tapi, ternyata nggak ada perubahan," kata Basri.

Seiring berjalannya waktu, benjolan di wajah Isoh kian membesar. Bahkan mulut sebelah kanannya tak bisa menutup. "Isoh ingin cantik." tutur Isoh. Meski keinginan Isoh untuk berparah ayu begitu dalam, namun kedua orangtuanya tak bisa memenuhinya. Mereka tak memiliki cukup biaya untuk pengobatan Isoh. "Bagaimana ya, sehari dapat 20 ribu saja sudah untung," ujar Basri yang bekerja sebagai buruh tani itu. Karena itulah, Basri dan Ana tidak pernah membawa Isoh memeriksakan benjolan di wajahnya itu. "Ya, sudah kami kan tidak bisa melakukan apa-apa lagi," lanjut Basri.

Memiliki anak berwajah aneh seperti Isoh sering kali membuat Basri malu. Karena itulah, Basri tidak menyekolahkan Isoh. "Saya malu dengan keadaannya. Malu kalau ada orang nanya dia anak siapa, pasti orang akan jawab, itu anaknya Basri," kata Basri. Padahal di bulan Juliini, kala anak-anak mulai masuk sekolah, Isoh hanya mampu memandang pasrah. Isoh memiliki satu mimpi, yakin bersekolah. "Isoh ingin bisa baca," ujar Isoh dengan mata menerawang. (aqnes dhevie)

Saturday, July 01, 2006

Tahun Kedua

Usia Pernikahanku sudah hampir memasuki tahun ke dua. Tapi nyatanya, masih sering terjadi pertengkaran di antara aku dan Yahya. Meski bukan sesuatu yang besar, tapi aku sering merasa tidak nyaman dengan kondisi itu. Kebanyakan pertengkaran itu dimulai karena aku tidak bisa menerima kondisi keluarga Yahya yang mau tak mau menuntutku untuk lebih mengerti mereka.

Sebetulnya, aku kasihan dengan Yahya. Dia harus bisa menjembatani antara aku dengan keluarganya. Dia harus bekerja keras agar aku tidak meledak setiap kali keluarganya bermasalah. Aku sendiri tidak bisa mengerti dan tak habis pikir melihat saudara-saudara Yahya yang tidak bisa mandiri, padahal usia mereka jauh di atasku. Mereka masih saja berlindung di bawah ketiak ibu Yahya, yang hingga saat ini aku juluki wonder woman.

Bayangkan saja, hingga usianya 71 tahun, Mama--begitu aku memanggil mertuaku, masih harus mengingatkan anak-anaknya untuk tidak tidur terlalu larut. Tidak hanya itu, Mama juga masih harus memenuhi kebutuhan anak bungsunya yang tidak mau bekerja lantaran dia hanya menginginkan pekerjaan yang berkelas dengan gaji yang tinggi tanpa mau tahu kemampuannya.

Aku sendiri, di tahun keduaku masuk ke dalam keluarga Yahya, masih belum juga bisa menerima semua yang ada dengan baik. Aku merasa sangat tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Terlalu sulit untuk bisa kumengerti. Apalagi ketika aku sedang berada di rumah Yahya aku harus menjadi anak yang patuh pada ibunya. Aku harus mengikuti semua aturan dan tata cara yang sudah ditentukan oleh sang wonder woman. Padahal sejak kecil aku sudah dididik untuk bisa belajar melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginanku.

Di tahun kedua pernikahanku ini, akan ada banyak perubahan yang terjadi. Saat ini kami berdua sedang merencanakan untuk bisa hidup dengan lebih layak. Kami sedang berencana untuk memperbaiki semua kesalahan yang sudah kami lakukan dan memberikan yang terbaik untuk Theresa. Mulai menabung, bekerja dengan lebih keras, dan berusaha untuk membeli rumah agar setiap kali kami pulang kantor kami bisa benar-benar stay at home dan tidak lagi pergi kemana-mana seperti saat ini. Sekarang, setiap kali pulang kantor, kami masih memiliki satu kewajiban, yakni menengok Theresa yang kami titipkan di rumah Mama. Hhhh... itu sangat melelahkan dan menyita waktu.

Semoga di tahun kedua ini, kami bisa menjadi orang tua yang baik dan bisa menjadi pasangan yang saling mendukung satu dengan yang lain. Amen!