Isohku Sayang Isohku Malang
Matahari siang itu bersinar terik. Tawa canda anak-anak desa terdengar di sela-sela gemerisik bambu. Seorang gadis cilik berusia tujuh tahun sedang asyik bermain sendiri, dialah Siti Kholisoh. Isoh, begitu dia dipanggil, begitu energik dan ceria. Isoh tidak peduli dengan benjolan di wajahnya yang membuat rupanya menjadi tidak lagi cantik.
Sejak dilahirkan ke dunia, tujuh tahun silam, Isoh sudah memiliki benjolan di wajah dan kepalanya. Menurut Basri sang ayah, benjolan itu ada akibat kelalaiannya saat Purwana, ibu Isoh, sedang mengandung Isoh. Saat Ana, panggilan Purwana, sedang hamil delapan bulan, Basri menampar seekor monyet. "Saya lupa waktu itu, dan baru ingat saat sampai di rumah dan lihat istri saya sedang hamil. Nyesel juga waktu itu," ungkap Basri.
Setelah kejadian itu, warga kampung Cibangke Tangerang ini, hanya bisa berdoa supaya anak yang dikandung istrinya tidak apa-apa. Namun, kehendak Tuhan berkata lain. Saat Ana melahirkan, ternyata bayinya memiliki benjolan di wajah dan kepalanya. Basri pun lantas ingat kejadian yang dialaminya sebulan silam. Begitu bayi Isoh dibawa pulang, bapak empat anak itu berusaha menghilangkan benjolan di wajah putri bungsunya itu. "Pipinya saya lem pakai isolasi sampai tiga hari. Tapi, ternyata nggak ada perubahan," kata Basri.
Seiring berjalannya waktu, benjolan di wajah Isoh kian membesar. Bahkan mulut sebelah kanannya tak bisa menutup. "Isoh ingin cantik." tutur Isoh. Meski keinginan Isoh untuk berparah ayu begitu dalam, namun kedua orangtuanya tak bisa memenuhinya. Mereka tak memiliki cukup biaya untuk pengobatan Isoh. "Bagaimana ya, sehari dapat 20 ribu saja sudah untung," ujar Basri yang bekerja sebagai buruh tani itu. Karena itulah, Basri dan Ana tidak pernah membawa Isoh memeriksakan benjolan di wajahnya itu. "Ya, sudah kami kan tidak bisa melakukan apa-apa lagi," lanjut Basri.
Memiliki anak berwajah aneh seperti Isoh sering kali membuat Basri malu. Karena itulah, Basri tidak menyekolahkan Isoh. "Saya malu dengan keadaannya. Malu kalau ada orang nanya dia anak siapa, pasti orang akan jawab, itu anaknya Basri," kata Basri. Padahal di bulan Juliini, kala anak-anak mulai masuk sekolah, Isoh hanya mampu memandang pasrah. Isoh memiliki satu mimpi, yakin bersekolah. "Isoh ingin bisa baca," ujar Isoh dengan mata menerawang. (aqnes dhevie)

0 Comments:
Post a Comment
<< Home