Tuesday, August 22, 2006

Air mata ini serasa sudah mengambang di pinggir mata. Kulihat tubuh mungil itu terbaring di sebuah meja kecil. Berselimutkan kain putih, bayi mungil itu seperti sedang tidur nyenyak. Namun, kenyataan berkata lain. Tubuh mungil itu telah beristirahat untuk selamanya.

Ya, akhirnya, malaikat maut mengajak Syafitri binti Mulyadi untuk melanglang ke surga dan meninggalkan sekian banyak permasalahan di dunia ini. Sepeninggal Syafitri, ada yang merasa tak rela. Namun, banyak juga yang berkata memang itu adalah jalan terbaik yang harus dijalani putri ketiga pasangan Mulyadi dan Nuryati itu.

Syafitri, bayi mungil itu lahir 7 Agustus 2006 melalui operasi caesar di Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta Barat. Seperti bayi yang baru lahir, Syafitri sangat lucu. Namun, kelahiran Syafitri yang sudah lama dinantikan tak disambut gembira oleh keluarga. "Gimana ya, saya ini terkejut dan pusing. Saya tidak menyangka kalau anak saya yang diperkirakan kembar oleh dokter ternyata memiliki dua kepala," tutur Mulyadi. Ya, Syafitri memang dilahirkan dengan dua kepala. Ini jauh berbeda dengan diagnosa dokter yang menyatakan bahwa pasangan Mulyadi dan Nuryati akan memiliki sepasang bayi kembar.

Mulyadi dan Nuryati, mulanya sangat gembira dengan kabar tersebut. Apalagi di dalam keluarga keduanya tidak memiliki keturunan kembar. Apalagi ketika sedang mengandung Syafitri, Nuryati tidak pernah mengalami kelainan. Perempuan 30 tahun itu juga rajin memeriksakan kehamilannya ke dokter. Tak hanya itu, Nuryati juga tidak mendapat firasat apapun tentang kelainan yang dimiliki oleh Syafitri. "Nggak pernah mimpi yang aneh-aneh. Semuanya biasa saja," tutur Nuryati.

Namun, menjelang kelahiran putri ketiganya itu, Nuryati sempat bingung. Pasalnya, bayi yang ada di perutnya belum juga ada di posisi siap dilahirkan. Hingga akhirnya, Nuryati memeriksakan diri ke dokter. Menurut dokter, Nuryati disarankan untuk melahirkan dengan cara caesar karena bayi yang akan dilahirkannya kembar. "Saya nurut saja. Karena saya pikir ini demi keselamatan saya dan bayi saya," kata Nuryati.

Begitu selesai operasi, Mulyadi yang menunggui Nuryati, sempat kebingungan. "Saya cuma lihat satu bayi. Saya sempat nanya pada diri sendiri, kemana bayi yang satunya," ungkap laki-laki yang berprofesi sebagai satpam ini. Pertanyaan pria 32 tahun itu baru terjawab saat ia melihat sendiri kondisi Safitri. "Masyalah, saya sampai tidak bisa ngomong. Cuma bisa bilang a..e..a..e.. Kepala ini langsung pening," sambung Mulyadi.

Friday, August 18, 2006

Diantara Pilihan

Setiap manusia pasti pernah mengalami berada di persimpangan. Mungkin tak hanya sekali dalam hidupnya. Demikian halnya aku saat ini. Kepala ini rasanya berat sekali dan dada ini sesak sekali. Serasa hentakan nafas terdalam pun tak mampu melegakan kekosongan di dalam jiwaku. Bahkan obat sakit kepala paling manjur yang biasa aku minum kala kepalaku terasa sangat berat sama sekali tidak membuat aku bisa lega. Rgh....

Hari ini di saat aku menuliskan cerita ini, aku merasa kekosongan yang amat. Aku sedang berusaha menghilangkan rasa rinduku pada Theresa. Si Unyilku itu, bulan depan harus berpisah denganku demi untuk aku. Aku sedih dan menangis semalaman. Yahya hanya bisa memelukku. "Sayang, kami berdua rela melakukan ini untuk kamu. Semuanya untuk karirmu. Kamu harus ingat itu. Jangan pernah kamu menangisi keputusan yang sudah kita ambil. Sayang, ini hanya akan berlangsung sementara, tidak untuk selamanya." Begitu Yahya berusaha meredam sedihku yang amat.

Ya, aku sedang ada dalam persimpangan antara Theresa dan pekerjaanku. Aku berada dalam kondisi aku sangat ingin bisa menjangkau keduanya. Aku sangat ingin merengkuh dengan kedua tanganku. Namun, sayaang, pelukanku tak selebar yang kukira. Aku harus merelakan salah satunya. Tapi..., tetap saja aku merasa tak ingin bekerja lagi untuk sementara waktu. Aku hanya ingin bisa bertemu dengan Theresa sampai dia bisa benar-benar ditinggal.

Rgh... Ini adalah minggu terberat dalam hidupku. Semuanya memerlukan diriku dengan perfoma yang terbaik. Tapi aku sama sekali tidak bisa memberikannya. Aku..aku hanya bisa terdiam kala diantara pilihan itu aku gagal. Aku sama sekali tak bisa memeluk mesra Theresa. Aku sama sekali tak mampu berkarya. Rgh.... Kesal, sedih, kecewa. Tapi aku tidak bisa menyalahkan siapa pun untuk keadaan ini. Aku hanya bisa memperbaiki apa yang sudah rusak.

Baru kali ini aku menangis meraung-raung.
Baru kali ini aku tak berkutik.
Baru kali ini aku tak mampu berkata.
Baru kali ini aku tak bisa berpikir.
Rgh.......

Friday, August 04, 2006

Dimana Kalian Berdua.....!!!!

Ah....
Sendiri itu sepi
Sendiri itu tak berkawan
Sendiri itu.....


Saat ini jarum jam menunjuk ke angka 12 siang. Aku dengan terkantuk-kantuk berada di kantorku yang selalu sepi di akhir pekan. Hanya ada segelintir orang di ruangan yang dingin karena AC selalu digeber abis. Aku masih saja menguap berkali-kali. Kantuk ini terus menerus menyerangku dan memaksaku tidak bisa tenang menunggu email dari produserku. Beruntung di samping kananku ada Yunus kawan sesama campers yang nangkring di kantor karena mau njagain editing. Jadilah suasana tak menjadi sepi, lantaran Yunus AFI begitu kami memanggilnya, suka sekali menyanyi.

Sudah empat hari ini aku sama sekali tidak melihat si Unyil. Kangen juga sama dia. Kangen lihat ketawanya dan dengar kalau dia nangis. Tapi, pekerjaan memaksaku untuk tidak bisa menengoknya. Duh, kangen sekali aku sama dia. Rencananya nanti sore aku akan menengoknya dan nanti malam aku akan tidur bareng si Unyil yang suka merengek manja kalau ibunya ada. Duh... Mama kangen sekali sama kamu. Nanti malam kita ngerumpi lagi ya....

Kadang aku sangat ingin setiap hari bisa bareng sama si Unyil. Tapi, pada kenyataannya, masih agak sulit. Kadang aku sangat capek setelah bekerja dan tidak ingin diganggu. Dan kalau aku paksakan, aku kasihan si Unyil, karena aku jadi malas bangun di tengah malam untuk buatin susu. Pernah beberapa kali aku ngga bangun padahal dia sudah nangis jejeritan lantaran haus. Maafin Mama ya sayang....

Oya, sekarang si Unyil sudah pintar tepuk tangan. Tiap kali dinyanyikan tepuk tangan suka-suka dan Puk Ami-ami dia pasti langsung tepuk tangan sambil nyengir memperlihatkan dua gigi bawahnya. Ya ampun lucu banget.... Si Unyil juga sudah kuat duduk lama-lama. Dia paling senang nonton tivi dan di foto. Tiap kali tanganku memegang kamera maka dia akan berpose meskipun posenya pose bengong. Yang paling menggelikan kalau eyang dan pakpuhnya di Surabaya telepon, si Unyil pasti dengan seksama memperhatikan ponsel yang aku genggam. "ugh...ugh...", begitu dia menyapa eyang dan pakpuhnya sembari tangannya berusaha merebut ponsel dari tanganku.

Si Unyil itu termasuk bayi yang malas belajar jalan. Tiap kali diajari berdiri, dia angkat kakinya tinggi-tinggi supaya tidak kakinya tidak menapak di lantai atau kursi. Tapi, dia paling senang jalan-jalan. Si Unyil punya supir pribadi, yaitu Om Harun. Om Harunnya, senang banget menggendong si Unyil, makanya aku memanggilnya supir pribadi. Aku jadi kangen banget ngeliat si Unyil.

Ah..., kangen ini ngga cuma menghinggapiku karena tidak bisa ketemu si Unyil, tapi juga karena aku tidak bisa bertemu dengan Yahya. Sudah dua hari ini dia tugas ke Bali. Ada undangan dari Yamaha untuk ikut touring motor Yupiter MX keliling Bali. Ah...Menyenangkan, kalau saja aku ikut. Semalam aku ngiri banget sama dia. Waktu kutelepon, dia sedang jalan-jalan menikmati pasir pantai dan ombak di kuta sembari melihat bule-bule yang mabok. Rgh...! Sementara aku masih harus berkutat dengan pekerjaanku hingga jam satu malam. Lantas pulang ke rumahku yang sepi karena aku hanya sendirian.

Duh... aku benar-benar kangen sama kalian berdua.

Tuesday, August 01, 2006

Politik Kantor

"Digosipin pacaran dengan orang yang sudah beristri dan memiliki anak satu. Ih, nyebelin banget!"
"Belum lagi aku dipanggil atasan gara-gara peristiwa yang ngga jelas njuntrungannya itu. Emangnya aku ngga bisa menempatkan diri!"

Dua malam yang lalu seorang kolega di kantor meneleponku dan curhat. Rasa dongkol terdengar jelas dario nada bicaranya. Waktu itu aku mengatakan padanya, tenang saja. Ngga perlu terlalu panik dan jutek, toh orang yang ngomong itu hanya ingin dia yang dilihat.

Kantorku, adalah tempat kerja yang menurut banyak orang sangat nyaman. Bisa libur kapanpun kita mau, asal pekerjaan beres. Bisa nyantai dan ngobrol bareng bahkan saling ejek dengan atasan sesuka hati. Tapi tetap saja, ini namanya kantor yang mau tak mau pasti ada penjilat di dalamnya, dan itu sudah rahasia umum.

Meski begitu aku tidak terlalu menganggap serius dengan segala politik kantor yang menyebalkan itu. Karena selama aku bekerja di kantorku ini, aku tidak pernah merasa stres yang amat sangat seperti di kantor lamaku. "belum ada apa-apanya".

Kalau mau jujur, di kantorku yang sebelumnya, politik penjilatan bahkan lebih kejam dibandingkan di kantorku sekarang. Bahkan yang paling menyesakkan dada, aku pernah disebut kebun binatang -- saking banyaknya nama binatang yang terlontar dari mulut redakturku-- di depan ratusan orang sekantor. Saat itu aku malu dan ingin nangis, tapi untuk menutupi itu, aku hanya diam dan cengar-cengir. Sesampainya di rumah, aku langsung ngoceh panjang lebar cerita pada ayahku. Jutekku ngga ketulungan saat itu.

Hal itu harus kualami selama dua setengah tahun aku bekerja di perusahaan koran terbesar kedua di Indonesia. Dan selama itu juga, aku berusaha dengan keukeuh mempertahankan pekerjaanku, karena penghasilan yang lumayan besar. Tapi toh, akhirnya aku hengkang juga karena parno dengan bos-ku si tukang kebun binatang itu.

Nah, di kantorku yang sekarang ini, politik kebun binatang itu sudah ngga ada lagi. Yang ada adalah politik power syndrome. Banyak yang baru jadi assistant producer di kantorku. Termasuk di programku ada dua orang ass-prod baru. Dan yang satu sudah bisa kubaca merupakan penjilat kelas wahid. Sehingga jauh-jauh hari aku sudah jaga jarak dari dirinya. Aku malas berurusan dengan orang macam itu. Meski setelah jaga jarakpun ternyata aku masih juga terimbas.

Aku tidak tahu harus berbuat apa biar orang yang sedang kena power syndrome itu sadar bahwa dia tidak tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aku. Tapi aku sudah menemukan cara yang jitu untuk menyiasati kelicikannya itu.