Air mata ini serasa sudah mengambang di pinggir mata. Kulihat tubuh mungil itu terbaring di sebuah meja kecil. Berselimutkan kain putih, bayi mungil itu seperti sedang tidur nyenyak. Namun, kenyataan berkata lain. Tubuh mungil itu telah beristirahat untuk selamanya.
Ya, akhirnya, malaikat maut mengajak Syafitri binti Mulyadi untuk melanglang ke surga dan meninggalkan sekian banyak permasalahan di dunia ini. Sepeninggal Syafitri, ada yang merasa tak rela. Namun, banyak juga yang berkata memang itu adalah jalan terbaik yang harus dijalani putri ketiga pasangan Mulyadi dan Nuryati itu.
Syafitri, bayi mungil itu lahir 7 Agustus 2006 melalui operasi caesar di Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta Barat. Seperti bayi yang baru lahir, Syafitri sangat lucu. Namun, kelahiran Syafitri yang sudah lama dinantikan tak disambut gembira oleh keluarga. "Gimana ya, saya ini terkejut dan pusing. Saya tidak menyangka kalau anak saya yang diperkirakan kembar oleh dokter ternyata memiliki dua kepala," tutur Mulyadi. Ya, Syafitri memang dilahirkan dengan dua kepala. Ini jauh berbeda dengan diagnosa dokter yang menyatakan bahwa pasangan Mulyadi dan Nuryati akan memiliki sepasang bayi kembar.
Mulyadi dan Nuryati, mulanya sangat gembira dengan kabar tersebut. Apalagi di dalam keluarga keduanya tidak memiliki keturunan kembar. Apalagi ketika sedang mengandung Syafitri, Nuryati tidak pernah mengalami kelainan. Perempuan 30 tahun itu juga rajin memeriksakan kehamilannya ke dokter. Tak hanya itu, Nuryati juga tidak mendapat firasat apapun tentang kelainan yang dimiliki oleh Syafitri. "Nggak pernah mimpi yang aneh-aneh. Semuanya biasa saja," tutur Nuryati.
Namun, menjelang kelahiran putri ketiganya itu, Nuryati sempat bingung. Pasalnya, bayi yang ada di perutnya belum juga ada di posisi siap dilahirkan. Hingga akhirnya, Nuryati memeriksakan diri ke dokter. Menurut dokter, Nuryati disarankan untuk melahirkan dengan cara caesar karena bayi yang akan dilahirkannya kembar. "Saya nurut saja. Karena saya pikir ini demi keselamatan saya dan bayi saya," kata Nuryati.
Begitu selesai operasi, Mulyadi yang menunggui Nuryati, sempat kebingungan. "Saya cuma lihat satu bayi. Saya sempat nanya pada diri sendiri, kemana bayi yang satunya," ungkap laki-laki yang berprofesi sebagai satpam ini. Pertanyaan pria 32 tahun itu baru terjawab saat ia melihat sendiri kondisi Safitri. "Masyalah, saya sampai tidak bisa ngomong. Cuma bisa bilang a..e..a..e.. Kepala ini langsung pening," sambung Mulyadi.
