Politik Kantor
"Digosipin pacaran dengan orang yang sudah beristri dan memiliki anak satu. Ih, nyebelin banget!"
"Belum lagi aku dipanggil atasan gara-gara peristiwa yang ngga jelas njuntrungannya itu. Emangnya aku ngga bisa menempatkan diri!"
Dua malam yang lalu seorang kolega di kantor meneleponku dan curhat. Rasa dongkol terdengar jelas dario nada bicaranya. Waktu itu aku mengatakan padanya, tenang saja. Ngga perlu terlalu panik dan jutek, toh orang yang ngomong itu hanya ingin dia yang dilihat.
Kantorku, adalah tempat kerja yang menurut banyak orang sangat nyaman. Bisa libur kapanpun kita mau, asal pekerjaan beres. Bisa nyantai dan ngobrol bareng bahkan saling ejek dengan atasan sesuka hati. Tapi tetap saja, ini namanya kantor yang mau tak mau pasti ada penjilat di dalamnya, dan itu sudah rahasia umum.
Meski begitu aku tidak terlalu menganggap serius dengan segala politik kantor yang menyebalkan itu. Karena selama aku bekerja di kantorku ini, aku tidak pernah merasa stres yang amat sangat seperti di kantor lamaku. "belum ada apa-apanya".
Kalau mau jujur, di kantorku yang sebelumnya, politik penjilatan bahkan lebih kejam dibandingkan di kantorku sekarang. Bahkan yang paling menyesakkan dada, aku pernah disebut kebun binatang -- saking banyaknya nama binatang yang terlontar dari mulut redakturku-- di depan ratusan orang sekantor. Saat itu aku malu dan ingin nangis, tapi untuk menutupi itu, aku hanya diam dan cengar-cengir. Sesampainya di rumah, aku langsung ngoceh panjang lebar cerita pada ayahku. Jutekku ngga ketulungan saat itu.
Hal itu harus kualami selama dua setengah tahun aku bekerja di perusahaan koran terbesar kedua di Indonesia. Dan selama itu juga, aku berusaha dengan keukeuh mempertahankan pekerjaanku, karena penghasilan yang lumayan besar. Tapi toh, akhirnya aku hengkang juga karena parno dengan bos-ku si tukang kebun binatang itu.
Nah, di kantorku yang sekarang ini, politik kebun binatang itu sudah ngga ada lagi. Yang ada adalah politik power syndrome. Banyak yang baru jadi assistant producer di kantorku. Termasuk di programku ada dua orang ass-prod baru. Dan yang satu sudah bisa kubaca merupakan penjilat kelas wahid. Sehingga jauh-jauh hari aku sudah jaga jarak dari dirinya. Aku malas berurusan dengan orang macam itu. Meski setelah jaga jarakpun ternyata aku masih juga terimbas.
Aku tidak tahu harus berbuat apa biar orang yang sedang kena power syndrome itu sadar bahwa dia tidak tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aku. Tapi aku sudah menemukan cara yang jitu untuk menyiasati kelicikannya itu.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home