Saturday, September 30, 2006

Puasa...
Sudah empat kali puasa ini aku berada di Jakarta. Itu berarti empat kali lebaran pula aku tidak berkumpul dengan sanak saudara. Meski aku non muslim, tapi aku senang bisa kumpul dengan sepupu-sepupuku yang memang akan sangat jarang aku temui di hari biasa.

Aku memang memilih untuk tidak pulang ke Surabaya setiap kali Lebaran datang. Alasannya cuma satu, ogah sibuk mencari tiket yang memang susah dicari meskipun sudah mencoba memesan jauh-jauh hari. Selain itu, tiket untuk ke Surabaya harganya bisa selangit, terakhir yang aku tahu harganya sudah mencapai angka Rp 800 ribu. GILA! itu kan sama dengan harga tiket PP di hari biasa.

Aku senang berada di Jakarta di saat Lebaran karena aku bisa menikmati suasana lengang ibukota yang jarang terjadi. Aku selalu menyempatkan jalan-jalan keliling kota saat Lebaran. Enak, tidak macet dan tidak ada hiruk pikuk sopir-sopir yang suka memencet bel dengan semena-mena.

Tapi dengan berada di Jakarta saat Lebaran, aku harus masak sendiri. Bagaimana tidak, wong tidak ada orang jualan sama sekali. Kalaupun ada belum tentu rasanya enak.

Ngomong-ngomong Lebaran di Jakarta, aku jadi ingat Lebaran pertamaku di Jakarta. Aku sengaja menyisihkan uang untuk nginap di hotel selama lima hari. Nggak sendirian tentunya. Aku ajak kawan-kawanku yang sama-sama non muslim dan yang harus stay di Jakarta karena tugas. Kami berempat saweran agar tidak merasa kesepian di tempat kos masing-masing. Wah..., saat itu aku merasa seperti orang kaya. Wong begitu pulang kantor aku langsung pergi ke hotel dan bermalam di sana. Cuma biar sedikit ngirit, aku dan kawan-kawanku sengaja bawa bekal yang dibeli di supermarket. Seperti susu, buah dan roti.

Saat lebaran kedua, aku harus tugas di kantor. Tugasnya cuma tiga jam. Tapi aku dapat penggantian uang masuk kerja selama hari raya. Lumayanlah.... Buat nambah tabungan dan untuk beli oleh-oleh waktu Natalan.

Kali ketiga lebaran di Jakarta, aku harus berjuang mati-matian. Saat itu aku sedang hamil Theresa. Waktu itu, aku sedang dalam kondisi susah tidur dan saat sudah mengantuk aku malah harus ke kantor. Kebayang saja, aku harus menahan kantuk yang teramat saat bertugas. Dan lima hari setelah Lebaran, Theresa pun untuk kali pertama menghirup oksigen di bumi ini.

Lebaran kali ini, sepertinya aku tidak akan punya cerita yang seru. Semuanya berjalan seperti biasa saja. Tapi ada satu hal yang ingin aku lakukan. Entah kenapa, aku ingin sekali bisa berlebaran dengan Nenekku yang sudah sepuh. Aku kangen sama beliau.

Saturday, September 23, 2006

Rekor Menjerit

Jumat, 22 September 2006, adalah hari dimana Theresa memecahkan rekor menjerit. Entah berapa puluh kali, Tere menjerit-jerit dalam sehari. Suara jeritannya melengking hingga tiga oktaf, begitu ibu mertuaku mengomentari.

Rekor jeritan itu diperoleh Tere, lantaran dia ketakutan melihat dokter dan suster yang sejak pagi memeriksanya secara intensif. Ya, sejak dua hari lalu, Tere dirawat di RSCM bagian anak. Hampir setiap jam, suster datang mengambil sampel darah, urine dan menyuntikkan antibiotik lewat lengannya yang mungil.

Ada dua jerit tangis yang menyayat hati waktu dia harus menjalani prosesi diagnosa penyakit. Yang pertama kala dia harus dirotgen. Begitu dibaringkan di meja rotgen, Tere langsung menangis dan berteriak-teriak. Sampai-sampai si perawat yang ada di ruangan rotgen menutup kupingnya. Dan boneka jerapah yang kubawa untuk menenangkannya sama sekali tidak berguna. Yang kedua, kala suster harus mengambil sampel darahnya sekaligus memberikan tes mantuk untuk mengetahui kondisi paru-parunya. Wah, yang ini, super hebat jeritannya. Sampai-sampai ibu mertuaku keluar kamar saking kasihannya sama cucu kesayangannya itu.

Tapi syukurlah, setelah seharian Tere menjerit-jerit, malamnya dia sudah tidak lagi merasa melihat hantu saat suster menyuntiknya lagi. Dia asyik saja tidur-tiduran sambil cengar-cengir ke suster yang menyuntiknya. Mungkin, sudah capek dan sudah merasa tenang karena ditunggui Yahya seharian. Dan yang paling penting, meski kemarin adalah hari yang melelahkan untuknya, Yahya selalu siap menghibur Tere dengan bermain.

Monday, September 18, 2006

Perempuan Perkasa

Menjadi seorang perempuan itu bukan sesuatu yang mudah. Aku tidak sedang membeda-bedakan gender. Tetapi inilah yang sedang aku rasakan sejak aku menikah.

Saat aku masih sendiri, aku tidak pernah terlalu memikirkan orang lain. Yang penting mereka happy aku juga happy. Yang penting orang tidak ganggu aku maka aku juga tidak akan ganggu mereka. Cuma begitu hidup yang kujalani selama 28 tahun.

Di saat usiaku memasuki 29 tahun, mulailah aku berperan ganda -- mungkin juga lebih dari ganda. Saat aku mulai masuk dalam pernikahan, maka peranku sebagai seorang istri harus mulai kumainkan. Seumur hidup aku tidak pernah nyetrikain baju orang lain, kecuali ibu, ayah dan kakakku, itu pun karena permintaan mereka dan jumlahnya tidak banyak. Namun, begitu aku menikah dengan Yahya, otomatis, segala tugas ibu rumah tangga harus aku lakukan. Mulai dari memasak yang mulanya hobi sekarang jadi sebuah keharusan. Lalu menyiapkan baju Yahya saat dia mau berangkat kerja. Mencuci baju-- hmmm... -- untuk urusan yang satu ini aku sedikit beruntung karena Yahya membelikan aku mesin cuci. Well, seabreg pekerjaan rumah harus aku jalani bagitu aku jadi istri Yahya.

Tak hanya secara fisik, aku juga harus bisa memberikan yang terbaik secara psikis. Seperti saat Yahya sedang ada dalam kondisi tidak semangat dalam bekerja. Aku harus bisa memberikan semangat juang padanya. Meski harus kuakui sering juga aku merasa capek, namun aku harus tetap bisa tersenyum di hadapan suami tercintaku itu.

Tak lama berselang setelah menikah, maka tugas berikutnya sebagai perempuan sudah menanti yakni menjadi ibu untuk Theresa. Ya ampun, untuk yang satu ini aku sampai menangis menjalaninya. Ternyata berat sekali dan dibutuhkan mental baja. Bagaimana tidak, di bulan-bulan pertama kehidupan si unyilku itu, dia tidak pernah tidur di malam hari. Dan mau tak mau, sengantuk apapun, aku harus bangun untuk menyusuinya. Itu satu-satunya tugas yang tidak bisa digantikan oleh siapapun di dunia ini.

Tidak cuma itu, sekarang, setelah 10 bulan berjalan, segala sesuatu yang berkaitan dengan Theresa, hanya aku yang tahu. Mulai dari susu, bubur, makanan, baju, dan cara memandikan sampai perkembangan sekecil apapun yang dialami Theresa. Tidak ada seorang pun yang memiliki pengetahuan sebanyak itu di rumah. Masing-masing orang hanya mendapat bagian-bagian kecil dari semua keahlianku mengurus Theresa.

Sebagai perempuan, di dalam rumah tanggaku, aku tidak diharuskan untuk bekerja. Namun, aku senang bekerja. Karena dengan bekerja, aku tidak merasa jenuh dan sering ngomel-ngomel. Selain itu, kata Yahya, ada baiknya aku tetap bekerja. "Coba bayangkan, kalau kamu tidak bekerja dan aku tiba-tiba tidak lagi ada di sisimu, apa yang bisa kamu perbuat? Siapa yang akan membantu kamu? Dan siapa yang akan membesarkan Tere?" Tiga pertanyaan yang menurutku sangat membantu membangkitkan semangatku. Sebab, aku sering melihat perempuan-perempuan yang tidak bisa melakukan apa-apa saat ditinggal oleh suaminya.

Ya, jadi perempuan itu bukan hal yang mudah. Kita harus siap mental. Kita harus punya beragam cara untuk membangkitkan gairah kita menjadi perempuan perkasa.

Friday, September 15, 2006

Tewasnya Sang Penjuang

Di tengah kesibukan menjadi production assistant alias PA, tiba-tiba HP-ku berbunyi. Dan masuklah sebuah sms dari Yahya. begitu membacanya aku langsung tertawa terbahak-bahak.

"Telah mati sang pejuang MICKY MOUSE. Dipastikan, pendekar berbadan gelap ini mati akibat pukulan benda tumpul di kepalanya. Seluruh negeri pengerat diwajibkan mengibarkan kolor setengah tiang. Pelaku tunggal sudah mengamankan diri dengan mandi malam. Demikian breaking news."

Hahahaha.... akhirnya tikus besar yang membuatku terjingkat-jingkat. Entah dari mana saudara Micky Mouse sang tikus yang baik karya Walt Disney itu berasal. Aku tidak berani masuk ke kontrakanku. Aku langsung menelepon Yahya dengan histeris. Mengabarkan penyusup berbadan hitam yang menyerang rumah mungilku itu. Ah, ada-ada saja.

Sebetulnya, firasat jelek sudah ada sejak pertama kali membuka pintu rumah. Sebuah foto yang biasanya nangkring di atas televisi-ku tergeletak di lantai dalam posisi tertelungkup. Belum lagi ada bungkus roti yang semula berada di dalam bak sampah teronggok begitu saja di dekat rak buku. Ah, ternyata aku tak perlu menyelidiki siapa pelaku kerusuhan itu. Sebab, sang pejuang berbulu hitam itu langsung melompat keluar dari bawah box Theresa. Dan saking kagetnya aku pun ikut melompat dan berteriak. "AAAHHHHH......!!!!! KAMPRET!"

Monday, September 04, 2006

SeMaNGaT

Aku butuh kehangatan agar aku bisa bekerja dan kembali memiliki semangat hidup.
Thank's God, hal itu kini kembali aku miliki. Meski aku harus kehilangan tempat untuk belajar menjadi seorang kameraman yang bagus. Tapi, setelah aku berpikir ulang, tempat yang ideal untuk belajar menjadi "gila" sebaiknya tidak dekat dengan orang-orang yang lebih mementingkan diri sendiri.

Saat ini aku kembali lagi bekerja dengan penuh semangat. Berbeda dengan sebelumnya, dimana aku sama sekali tidak memiliki apa pun. Selama enam tahun aku bekerja menjadi seorang jurnalis baru kali ini aku sama sekali tidak bisa menyesuaikan diri. Sulit sekali aku bisa bekerja sama dengan orang lain. Bahkan aku tidak bisa mengeluarkan ide-ide liarku yang sering kali muncul. Hasilnya, liputanku yang jumlahnya hanya sedikit itu jadi tidak maksimal.

Tapi, kini, keadaan sudah mulai berubah. Aku kembali memperbaiki perfoma kerjaku. Apalagi Yahya sangat mendukungku. Tiap kali aku bekerja, tak lupa dia mengirimkan sms yang mengingatkan aku untuk minum yang banyak dan jangan lupa makan. Mungkin buat sebagian orang itu hanya basa-basi, tapi untukku itu adalah dukungan yang menyenangkan.

Tak hanya semangat kerjaku yang kembali muncul, tetapi juga ide-ide liputan yang keluar dengan liar. Entah dari mana datangnya, tapi ide dan informasi sering datang bertubi-tubi. Dan itu sangat menyenangkan.