Monday, September 18, 2006

Perempuan Perkasa

Menjadi seorang perempuan itu bukan sesuatu yang mudah. Aku tidak sedang membeda-bedakan gender. Tetapi inilah yang sedang aku rasakan sejak aku menikah.

Saat aku masih sendiri, aku tidak pernah terlalu memikirkan orang lain. Yang penting mereka happy aku juga happy. Yang penting orang tidak ganggu aku maka aku juga tidak akan ganggu mereka. Cuma begitu hidup yang kujalani selama 28 tahun.

Di saat usiaku memasuki 29 tahun, mulailah aku berperan ganda -- mungkin juga lebih dari ganda. Saat aku mulai masuk dalam pernikahan, maka peranku sebagai seorang istri harus mulai kumainkan. Seumur hidup aku tidak pernah nyetrikain baju orang lain, kecuali ibu, ayah dan kakakku, itu pun karena permintaan mereka dan jumlahnya tidak banyak. Namun, begitu aku menikah dengan Yahya, otomatis, segala tugas ibu rumah tangga harus aku lakukan. Mulai dari memasak yang mulanya hobi sekarang jadi sebuah keharusan. Lalu menyiapkan baju Yahya saat dia mau berangkat kerja. Mencuci baju-- hmmm... -- untuk urusan yang satu ini aku sedikit beruntung karena Yahya membelikan aku mesin cuci. Well, seabreg pekerjaan rumah harus aku jalani bagitu aku jadi istri Yahya.

Tak hanya secara fisik, aku juga harus bisa memberikan yang terbaik secara psikis. Seperti saat Yahya sedang ada dalam kondisi tidak semangat dalam bekerja. Aku harus bisa memberikan semangat juang padanya. Meski harus kuakui sering juga aku merasa capek, namun aku harus tetap bisa tersenyum di hadapan suami tercintaku itu.

Tak lama berselang setelah menikah, maka tugas berikutnya sebagai perempuan sudah menanti yakni menjadi ibu untuk Theresa. Ya ampun, untuk yang satu ini aku sampai menangis menjalaninya. Ternyata berat sekali dan dibutuhkan mental baja. Bagaimana tidak, di bulan-bulan pertama kehidupan si unyilku itu, dia tidak pernah tidur di malam hari. Dan mau tak mau, sengantuk apapun, aku harus bangun untuk menyusuinya. Itu satu-satunya tugas yang tidak bisa digantikan oleh siapapun di dunia ini.

Tidak cuma itu, sekarang, setelah 10 bulan berjalan, segala sesuatu yang berkaitan dengan Theresa, hanya aku yang tahu. Mulai dari susu, bubur, makanan, baju, dan cara memandikan sampai perkembangan sekecil apapun yang dialami Theresa. Tidak ada seorang pun yang memiliki pengetahuan sebanyak itu di rumah. Masing-masing orang hanya mendapat bagian-bagian kecil dari semua keahlianku mengurus Theresa.

Sebagai perempuan, di dalam rumah tanggaku, aku tidak diharuskan untuk bekerja. Namun, aku senang bekerja. Karena dengan bekerja, aku tidak merasa jenuh dan sering ngomel-ngomel. Selain itu, kata Yahya, ada baiknya aku tetap bekerja. "Coba bayangkan, kalau kamu tidak bekerja dan aku tiba-tiba tidak lagi ada di sisimu, apa yang bisa kamu perbuat? Siapa yang akan membantu kamu? Dan siapa yang akan membesarkan Tere?" Tiga pertanyaan yang menurutku sangat membantu membangkitkan semangatku. Sebab, aku sering melihat perempuan-perempuan yang tidak bisa melakukan apa-apa saat ditinggal oleh suaminya.

Ya, jadi perempuan itu bukan hal yang mudah. Kita harus siap mental. Kita harus punya beragam cara untuk membangkitkan gairah kita menjadi perempuan perkasa.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home