Puasa...
Sudah empat kali puasa ini aku berada di Jakarta. Itu berarti empat kali lebaran pula aku tidak berkumpul dengan sanak saudara. Meski aku non muslim, tapi aku senang bisa kumpul dengan sepupu-sepupuku yang memang akan sangat jarang aku temui di hari biasa.
Aku memang memilih untuk tidak pulang ke Surabaya setiap kali Lebaran datang. Alasannya cuma satu, ogah sibuk mencari tiket yang memang susah dicari meskipun sudah mencoba memesan jauh-jauh hari. Selain itu, tiket untuk ke Surabaya harganya bisa selangit, terakhir yang aku tahu harganya sudah mencapai angka Rp 800 ribu. GILA! itu kan sama dengan harga tiket PP di hari biasa.
Aku senang berada di Jakarta di saat Lebaran karena aku bisa menikmati suasana lengang ibukota yang jarang terjadi. Aku selalu menyempatkan jalan-jalan keliling kota saat Lebaran. Enak, tidak macet dan tidak ada hiruk pikuk sopir-sopir yang suka memencet bel dengan semena-mena.
Tapi dengan berada di Jakarta saat Lebaran, aku harus masak sendiri. Bagaimana tidak, wong tidak ada orang jualan sama sekali. Kalaupun ada belum tentu rasanya enak.
Ngomong-ngomong Lebaran di Jakarta, aku jadi ingat Lebaran pertamaku di Jakarta. Aku sengaja menyisihkan uang untuk nginap di hotel selama lima hari. Nggak sendirian tentunya. Aku ajak kawan-kawanku yang sama-sama non muslim dan yang harus stay di Jakarta karena tugas. Kami berempat saweran agar tidak merasa kesepian di tempat kos masing-masing. Wah..., saat itu aku merasa seperti orang kaya. Wong begitu pulang kantor aku langsung pergi ke hotel dan bermalam di sana. Cuma biar sedikit ngirit, aku dan kawan-kawanku sengaja bawa bekal yang dibeli di supermarket. Seperti susu, buah dan roti.
Saat lebaran kedua, aku harus tugas di kantor. Tugasnya cuma tiga jam. Tapi aku dapat penggantian uang masuk kerja selama hari raya. Lumayanlah.... Buat nambah tabungan dan untuk beli oleh-oleh waktu Natalan.
Kali ketiga lebaran di Jakarta, aku harus berjuang mati-matian. Saat itu aku sedang hamil Theresa. Waktu itu, aku sedang dalam kondisi susah tidur dan saat sudah mengantuk aku malah harus ke kantor. Kebayang saja, aku harus menahan kantuk yang teramat saat bertugas. Dan lima hari setelah Lebaran, Theresa pun untuk kali pertama menghirup oksigen di bumi ini.
Lebaran kali ini, sepertinya aku tidak akan punya cerita yang seru. Semuanya berjalan seperti biasa saja. Tapi ada satu hal yang ingin aku lakukan. Entah kenapa, aku ingin sekali bisa berlebaran dengan Nenekku yang sudah sepuh. Aku kangen sama beliau.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home