Rekor Menjerit
Jumat, 22 September 2006, adalah hari dimana Theresa memecahkan rekor menjerit. Entah berapa puluh kali, Tere menjerit-jerit dalam sehari. Suara jeritannya melengking hingga tiga oktaf, begitu ibu mertuaku mengomentari.
Rekor jeritan itu diperoleh Tere, lantaran dia ketakutan melihat dokter dan suster yang sejak pagi memeriksanya secara intensif. Ya, sejak dua hari lalu, Tere dirawat di RSCM bagian anak. Hampir setiap jam, suster datang mengambil sampel darah, urine dan menyuntikkan antibiotik lewat lengannya yang mungil.
Ada dua jerit tangis yang menyayat hati waktu dia harus menjalani prosesi diagnosa penyakit. Yang pertama kala dia harus dirotgen. Begitu dibaringkan di meja rotgen, Tere langsung menangis dan berteriak-teriak. Sampai-sampai si perawat yang ada di ruangan rotgen menutup kupingnya. Dan boneka jerapah yang kubawa untuk menenangkannya sama sekali tidak berguna. Yang kedua, kala suster harus mengambil sampel darahnya sekaligus memberikan tes mantuk untuk mengetahui kondisi paru-parunya. Wah, yang ini, super hebat jeritannya. Sampai-sampai ibu mertuaku keluar kamar saking kasihannya sama cucu kesayangannya itu.
Tapi syukurlah, setelah seharian Tere menjerit-jerit, malamnya dia sudah tidak lagi merasa melihat hantu saat suster menyuntiknya lagi. Dia asyik saja tidur-tiduran sambil cengar-cengir ke suster yang menyuntiknya. Mungkin, sudah capek dan sudah merasa tenang karena ditunggui Yahya seharian. Dan yang paling penting, meski kemarin adalah hari yang melelahkan untuknya, Yahya selalu siap menghibur Tere dengan bermain.

1 Comments:
Tere sakit apa bu? balas ya. Udah sembuh kan?
Post a Comment
<< Home