Saturday, October 14, 2006

Aku sedang melangkah pergi
Aku sedang kembali mencari mimpi
Aku sedang berjuang lagi
Akankah aku akan dapati semua keinginan diri?

Aku ingin hunjamkan pisau belati
Biar terbang semua mimpi
Biar pergi semua nyeri
Dan yang aku jumpai hanya kepasrahan dalam hati

Rgh....
Aku lelah
Aku gundah
Aku mau terbang
Menembus awan lalu menghilang

**********************************************

Malam mulai merayap pergi. Suhu udara di dalam ruangan ini mulai menusuk tulang. Entah berapa derajat celcius yang terset di dalam pendingin ruangan di kantorku. Mungkin juga suhu ini menjadi kian dingin lantaran kantorku hanya berisi segelintir orang.

Malam sudah mulai menghilang. Meski begitu, mentari masih belum mau menampakkan diri. Rekan-rekanku sedang asyik menikmati makan sahur masing-masing. Aku, aku asyik duduk di depan layar komputer yang bisa kujajah hingga berjam-jam hari ini.

Ada perasaan lelah yang amat dalam diriku belakangan ini. Saat ini aku ingin sekali bisa pergi dari Jakarta. Meninggalkan kepenatan ini meski hanya sejenak. Menikmati indahnya dedaunan di pegunungan. Tapi apa daya, aku tidak memiliki wewenang untuk mendapatkan liburan seperti yang aku inginkan.

Kalau ingin kembali melihat kebelakang, kehidupanku selama dua tahun ini aku rasakan sangatlah berat. Dalam pekerjaan, aku tidak sedang dalam perfoma terbaikku. Ada saja kendala yang harus aku lalui dalam merintis karirku. Padahala sebelumnya, aku dikenal dengan orang yang tidak pernah bisa pulang cepat. Aku senang berlama-lama di kantor. Namun, dua tahun belakangan, aku tidak bisa melakukan itu. Semuanya menjadi berubah sama sekali.

Kondisi di rumah, tidak kalah menyedihkan. Kondisi Theresa yang belakangan ini tidak bagus, membuatku kian tidak mampu berpikir dengan baik. Tapi, aku tidak lantas menyalahkan kondisi Theresa. Toh, kalau dia sakit, itu juga bukan maunya. Siapa juga yang mau sakit.

Well..., kalau dipikir-pikir, semua masalah yang ada selama dua tahun ini, pemecahannya tidak bisa dari dalam diriku sendiri. Dan itu sering membuatku uring-uringan. Aku ingin semuanya bisa berjalan dengan baik.

Yang bisa aku lakukan saat ini hanya berpasrah diri saja. Bagaimana tidak, sekuat-kuatnya aku berusaha, tetap saja semua penyelesaiannya ada di luar kemampuanku. Ya, semoga saja Tuhan masih berbaik hati padaku. Semoga saja kondisi ini bisa cepat kulalui, dan aku bisa berada dalam kondisi terbaikku lagi.

Friday, October 13, 2006

Sdang Berpasrah

Malam ini aku menyempatkan diri duduk sendiri di dalam keremangan. Aku menakupkan kedua tanganku dan mulailah aku meelakukan ritual yang sudah sekian waktu kutinggalkan. Dalam keremangan itu, aku memanggil Bapaku.

"Bapa, ke dalam tanganMu aku berserah. Aku berterimakasih atas segala rahmat yang telah Kau berikan saat ini. Bimbing aku Bapa, karena saat ini aku sedang dalam masa yang penuh dengan pencobaan. Buatlah sebuah penyelesaian atas kehendakMu, dan beri aku selalu ketabahan dan kemauan untuk menerima segala penyelesaian atas namaMu. Amen."

Sudah lama aku mencoba untuk berpikir dengan menggunakan logika dalam menyelesaikan semua persoalan yang sedang aku alami. Tapi nyatanya aku tidak bisa mendapatkan penyelesaian yang memuaskan. Segala daya upaya malah kian memperuwet permasalahan yang ada. Dan, kini kembali aku harus memasrahkan diri pada yang kuasa. Karena percaya atau tidak segala yang aku miliki saat ini ada karena kuasaNya.

Sunday, October 01, 2006

Fasilitas Bagi yang Berpuasa

Saat ini muslim di Indonesia sedang berpuasa. Bulan penuh berkah begitu umat muslim menyebut bulan Ramadhan. Tapi buat aku--bukan lantaran aku non muslim-- berpuasa di saat Ramadhan sama sekali tidak ada tantangannya. Banyak fasilitas yang diberikan oleh pemerintah bagi muslim di Indonesia di saat mereka sedang berpuasa. Sebut saja peraturan rumah makan, depot atau warung yang buka di siang hari harus ditutup dengan gorden, untuk menghormati mereka yang berpuasa. Kenapa yang mau makan harus bersembunyi dari orang yang berpuasa? Biarkan saja mereka melihat orang makan atau minum dengan enak. Itu kan bisa menguji setebal apa keimanan terhadap agama yang dipeluk. Kalau ngiler lantas ikut makan dan minum itu artinya memang tidak niat puasa.

Tidak cuma itu, pemerintah juga melarang pub, karaoke dan diskotik buka di saat bulan Ramadhan. Buatku, sekali lagi, pemerintah tidak perlu begitu. Toh, kalau pun tempat-tempat hiburan malam itu dilarang buka, kemaksiatan atau kejahatan tetap bisa terjadi kok. Lagi pula, sekali lagi, itu juga sebuah tantangan bagi umat muslim yang berpuasa untuk menahan hawa nafsu.

Coba bayangkan saja, kalau mereka tahu orang Katholik juga berpuasa. Saat aku puasa selama 40 hari menjelang Paskah, aku tidak memberitahukan kepada umum. Ada seorang kawan yang bertanya padaku, kenapa aku tidak makan daging. Dia bertanya lantaran selama satu minggu aku makan bersamanya, aku selalu menukarkan dagingku dengan tempe miliknya. Aku hanya menjawab, "Hehehe...lagi nyoba jadi vegetarian."

Pernah suatu kali, saat aku puasa, seorang kawan mengajakku pergi "minum". Saat itu aku menolak. Mulanya dia pikir karena aku lagi ngga mood. Tapi setelah beberapa kali tawaran kutolak, sang kawan ini mulai curiga. "Kamu sudah ngga suka lagi JackD?" Saat itu, aku cuma bilang, aku sakit dan dokter sarankan aku untuk banyak-banyak minum air putih dan tidak boleh minum soda dan alkohol.

Itu baru makanan dan minuman. Bagaimana dengan yang lainnya? Well, aku juga harus menjaga mulutku agar aku tidak sering ngomongin orang sementara orang-orang di sekitarku sering membicarakan orang lain yang memang jadi pain in the ass. Aku tentu saja tidak bisa bilang, "Jangan ajak aku ngomongin dia dong. Aku kan lagi puasa."

Ada Apa Sayang

Sayang kenapa kamu jadi orang yang suka marah-marah?
Sayang kenapa kita tidak bisa nikmati waktu berduaan kita yang sangat sempit ini?
Sayang, aku ingin kalau kita berduaan, kita bisa bermesraan.
Sayang, kenapa kamu hanya bisa tersenyum di depan kawan-kawanmu?
Sayang, kenapa kamu sering berikan muka masammu itu padaku?
Sayang, aku ingin bisa nikmati keceriaanmu saat aku sedang memelukmu.

Entah kenapa aku jadi sering uring-uringan belakangan ini. Kalau kata Yahya, ada kemungkinan karena aku sering masuk malam. Jadi otakku sudah capek disuruh kerja di saat orang lain sedang terlelap. Belum lagi alat pendingin di kantor yang distel pada posisi maksimum. "Kali otakmu jadi beku karena kelamaan kena AC ya sayang..." kata Yahya.

Aku sendiri sedang tidak tahu sebab aku jadi uring-uringan. Kemungkinan karena pelepasan hormon bulanan. Dan lucunya, sering kali kalau ngambekku muncul dan aku marah tanpa sebab, aku tiba-tiba berpikir kalau aku sedang bulanan. Tapi, aku tidak mau mengungkapkan ke Yahya penyebab uring-uringanku itu. Dasar, mau menang sendiri ya...!!!

Saat ini, aku dan Yahya sudah berjanji untuk tidak saling cemberut dan bermuka masam. "Kita harus bisa saling senyum dan memaafkan. Dengan begitu kita bisa merasa senang berada di rumah meski kita tidak punya uang," ujar Yahya.