Aku Bahagia
Meski berkali-kali menguap dan sulit berkonsentrasi, namun hatiku terasa segar. Lelah di badan ini rasanya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang sedang menggejolak di dalam diriku. Ada kehangatan yang bisa menghilangkan udara dingin menusuk dari AC di kantorku.
Aku merasa sedang berada dalam fase memasuki kehidupan baru. Aku memang tidak lagi bisa berkarya dengan baik di kantor. Tapi aku memiliki kehidupan rumah tangga yang sangat menyenangkan belakangan ini. Tak bisa kupungkiri, segala sesuatunya mulai berjalan dengan perencanaan. Aku dan Yahya sering kali berdiskusi sebelum mengambil keputusan, meskipun itu adalah sesuatu yang kecil.
Kami berusaha sebisa mungkin untuk saling melengkapi. Meski harus aku akui, aku sering kali menuntut padanya. Dan dia sering protes karena aku menuntut hal yang dia tidak bisa lakukan. Ya, kadang aku juga sadar bahwa dia tidak bisa melakukan hal yang aku ingin dia lakukan seperti caraku. Maka, yang bisa aku lakukan adalah mengatakan pada diriku sendiri bahwa setiap orang pasti punya cara sendiri dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.
Kebahagiaanku yang lainnya adalah Theresa. Dia sekarang makin lucu. Sebagai seorang ibu, aku merasa bangga bisa melihat langkah pertamanya. Jarang ada ibu yang melihat anaknya melangkahkan kakinya sendiri. Langkah pertama itu buatku adalah uji nyali untuk sang anak. Dan aku sudah melihat Theresa menguji nyalinya sendiri. Dia tidak takut akan jatuh dan terantuk.
Theresa juga sudah bisa memanggil aku Ma, dalam arti sesungguhunya! Bukan Ma karena dia memang hanya bisa mengucapkan suku kata itu. Tapi dia sudah tahu arti Ma itu adalah ibu. Waktu aku tengokin dia kemarin, dia lengket banget sama aku. Theresa tidak mau dipedang orang lain. Mulai dari mandi, ganti celana sampai maem, semuanya aku. Kalau orang lain, dia pasti akan jadi rewel. Wah....itu sangat menyenangkan buatku. Karena meski kami tinggal berjauhan tapi dia sudah memahami dan memiliki kedekatan denganku.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home