8
Delapan tahun sudah aku bergelut dengan profesiku sebagai jurnalis. Sejauh ini, aku bukanlah seorang jurnalis yang sukses seperti kawan-kawanku. Kebanyakan dari mereka sudah duduk manis di depan meja. Mulai mendapat kesempatan menjadi redaktur dan juga produser. Aku masih jauh dari itu semua.
Selama delapan tahun aku berkutat dengan narasumber, naskah, foto dan gambar bergerak, masih saja aku belum bisa mendapatkan apa yang kuinginkan. Saat kutapakkan kaki di dunia jurnalisme, aku sama sekali tidak memiliki pemikiran bahwa jurnalisme itu penuh dengan kebohongan. Tidak ada lagi yang benar-benar mewakili rakyat. Semuanya adalah kepentingan bisnis dari pemilik media semata.
Delapan tahun hampir berlalu. Aku mulai menilik kembali perjalananku. Aku kemba bertanya pada diriku sendiri. "Akankah aku akan menjadi seorang jurnalis? Akankah aku bisa menjelaskan semua permasalahan yang ada pada mereka -- orang-orang yang tidak tahu apa-apa?"
Hmmm... sejauh ini, aku sama sekali jauh dari mengerti keinginanku di masa depan.
Tapi, kalau boleh aku jujur, aku sangat ingin bisa melepaskan diri dari name tag jurnalis yang saat ini tersemat di dadaku.
Seperti yang sudah kubilang ke Yahya, "Mamas Sayang, istrimu ini sudah jenuh dengan ketololan bangsa ini. Aku sudah tidak ingin lagi bekerja dan menjadikan semuanya sia-sia. "
Dan Yahya pun bertanya padaku, "Istriku Sayang, apa yang saat ini kamu inginkan?"
Aku pun lantas terdiam sejenak, sebelum akhirnya sembari tersenyum, aku pun menjawab, "Sayang, aku ingin jadi istri, ibu dan penulis yang baik."
Yah, butuh waktu delapan tahun bagiku untuk memaknai kehidupanku sebagai jurnalis.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home