Friday, December 01, 2006

hampir menyerah

aku sudah tidak lagi punya apa-apa dalam hidupku. saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah menjalani apa yang ada hingga ajal menjemputku kelak.

kembali ke jakarta...
hanya ada satu tujuanku kembali ke kota yang penuh hiruk pikuk ini, suamiku. aku berharap ketika aku kembali ke ibukota ini, aku bisa sekali lagi membangun mimpi bersamanya. namun nyatanya, keinginan itu pupus sudah. aku sama sekali tidak lagi memiliki ikatan apapun dengan semua roda kehidupan di jakarta ini. sekarang semua yang kumiliki ada di surabaya. di kota kelahiranku itu, ada rama, ibu, mas anton dan theresa. mereka orang-orang yang sangat mencintai aku. dan saat ini, kehidupan yang aku jalani hanyalah untuk mereka. aku sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk kembali merajut mimpi bersama yahya. semuanya sepertinya lenyap dalam sekejap.

entahlah, mungkin aku yang terlalu banyak menuntut. mungkin juga aku yang tidak bisa mengalah dan mengerti kondisi suamiku itu. tapi di atas semuanya itu, seharusnya dia bisa melihat sebanyak apa aku sudah berkorban untuk dirinya.

aku jadi teringat ketika seseorang mengatakan padaku bahwa jika aku hidup dengan yahya, maka aku harus jadi perempuan yang tangguh. "apakah kamu sanggup. dan jika kamu sanggup, sampai seberapa lama?" saat itu, aku menjawab, "aku sanggup hidup dengan dia selamanya. aku hanya ingin dipisahkan oleh maut." namun, pada kenyataannya, saat ini aku sudah hampir menyerah. aku sudah hampir pasrah dengan kenyataan yang harus aku hadapi. dan aku sering berpikir bahwa mungkin memang sebaiknya aku dan yahya hidup terpisah. aku dengan segala urusanku sendiri. dia dengan segala urusannya.

aku sudah hampir tidak peduli dengan janjiku di depan altar dua tahun silam. buat apa kami disatukan jika memang kami tidak pernah berjodoh. meski akhirnya kami berdua memiliki theresa yang lucu.