Monday, April 24, 2006

kehidupan ini membuat aku sering kali tersadar bahwa aku masih jauh lebih beruntung dibandingkan dengan orang lain.

di kala fajar baru saja merekah, aku melihat sesosok perempuan yang menggendong bayi mungil dipelukannya. ia kelihatan sangat menyayangi anaknya itu. namun, tak diyana, aku melihat pemandangan yang sama sekali jauh dari perkiraanku. ibu muda itu menyerahkan sang bayi ke tangan orang lain dan menerima sejumlah uang. namun, sebelum pergi si ibu mencium sang bayi dengan penuh kasih. aku hanya bisa terperangah melihat adegan yang ada di hadapanku.

ah, malangnya nasib anak itu. sekecil itu ia harus bekerja menghidupi keluarganya. berbekal tangis, ia mampu mengisi perut ayah, ibu dan saudaranya yang sedang kelaparan.

aku merasa sangat beruntung, bahwa di usiaku yang menginjak kepala tiga ini, orangtuaku masih saja mensuport-ku dengan dana yang tiada habisnya. bahkan mereka sangat mengerti akan kekuranganku dalam hal finansial setelah aku menikah. mereka dengan suka rela mengirimkan uang, meski aku tak meminta.

"kami ingin membantu, karena kami ingin cucu kami sehat dan tak kurang suatu apa pun. jangan merasa rendah diri dengan bantuan kami. dan kalau bisa jangan beritahu suamimu. kami khawatir dia tidak bisa menerima bantuan dari kami."

betapa bijak kedua orangtuaku. dan disini, sekali lagi aku merasa sangat beruntung. lantaran mereka bisa mengerti ego seorang menantu. mereka tidak ingin membuat menantunya merasa tidak dihargai.

Sunday, April 02, 2006

Hambar

Hidup ini kian hambar. Seiring berjalannya waktu, aku sering merasakan bahwa hidup ini kian tak berasa. Seperti sebuah masakan yang terlalu sering ditambahkan air dan dihangatkan sehingga bumbu yang ada di dalamnya tak lagi berasa. Tak ada rasa asin, manis, pedas, dan asam.

Hidup yang kian tak terasa itu membuatku sering harus memeras otak dan tenaga guna membangkitkan semangat yang juga ikut mengendur. Aku merasa seperti berada di ruang hampa udara dan bobotku menjadi ringan seperti kapas. Aku merasa tak berharga ada di dunia ini, lantaran aku merasa tak lagi punya arti.

Kehambaran membuatku semakin merasa ingin dilupakan. Aku ingin meringkuk di sudut kamar mandi, tempatku mendinginkan badan jika aku memiliki sekian banyak masalah. Ya, dalam kamar mandiku, aku tidak lagi merasakan kehampaan. Di dalam kamar mandiku, aku merasa ada sentuhan dingin dan lembut yang membuatku merasa hidup.

Kehambaran ini membuatku merasa seperti tak lagi memiliki jiwa. Ruh yang mengisi badaniahku menguap seperti air di padang gurun. Hilang begitu saja di bawa sang angin. Apa yang membuatku merasa hambar. Sekian banyak bumbu sudah kutambahkan dalam olahan masakanku, namun sekali lagi yang kudapati hanyalah kehampaan yang tak jua kunjung menghilang.

Ah, hidupku kian terasa hambar, karena semuanya hanya begitu-begitu saja. Tak ada yang menyambut tanganku kala aku menginginkan sesuatu yang baru. Orang hanya ingin hidup dalam polanya, pola yang sudah ada sejak lama. Tak ada keinginan untuk melakukan sesuatu yang spontan dan tanpa memikirkan akibatnya. Orang kian enggan mengambil resiko.

Ya, aku tahu, hidupku kian terasa hambar berada di tengah-tengah pola ini. Sebuah pola yang tak ingin dirubah oleh orang yang sedang menjalani kehidupan bersama dengan diriku. Semuanya serba sama. Semuanya tak boleh lagi diganggu gugat oleh siapapun. Maka yang kudapatkan hanya sebuah kehambaran dalam kehidupan ini.