kehidupan ini membuat aku sering kali tersadar bahwa aku masih jauh lebih beruntung dibandingkan dengan orang lain.
di kala fajar baru saja merekah, aku melihat sesosok perempuan yang menggendong bayi mungil dipelukannya. ia kelihatan sangat menyayangi anaknya itu. namun, tak diyana, aku melihat pemandangan yang sama sekali jauh dari perkiraanku. ibu muda itu menyerahkan sang bayi ke tangan orang lain dan menerima sejumlah uang. namun, sebelum pergi si ibu mencium sang bayi dengan penuh kasih. aku hanya bisa terperangah melihat adegan yang ada di hadapanku.
ah, malangnya nasib anak itu. sekecil itu ia harus bekerja menghidupi keluarganya. berbekal tangis, ia mampu mengisi perut ayah, ibu dan saudaranya yang sedang kelaparan.
aku merasa sangat beruntung, bahwa di usiaku yang menginjak kepala tiga ini, orangtuaku masih saja mensuport-ku dengan dana yang tiada habisnya. bahkan mereka sangat mengerti akan kekuranganku dalam hal finansial setelah aku menikah. mereka dengan suka rela mengirimkan uang, meski aku tak meminta.
"kami ingin membantu, karena kami ingin cucu kami sehat dan tak kurang suatu apa pun. jangan merasa rendah diri dengan bantuan kami. dan kalau bisa jangan beritahu suamimu. kami khawatir dia tidak bisa menerima bantuan dari kami."
betapa bijak kedua orangtuaku. dan disini, sekali lagi aku merasa sangat beruntung. lantaran mereka bisa mengerti ego seorang menantu. mereka tidak ingin membuat menantunya merasa tidak dihargai.
