Sunday, October 31, 2004

PinDahan!

Setelah mencicil berbenah dan mengepak barang selama tiga hari, akhirnya aku pindah kos juga. Lebih deket dengan kantor dan aku bisa terima tamu kapan saja aku mau. Selain itu aku tidak perlu kebingungan dengan teman satu kos yang super resek. Tapi dia bukanlah alasanku untuk pindah dari kos yang lama di kawasan Kebayoran itu. Aku pindah lantaran ingin bisa bertemu dengan Yahya setiap saat kami bisa. Pasalnya, kita berdua serng tak punya waktu yang bersamaan di siang hari. Karena itulah, pindah kami pikir merupakan salah satu alternatif yang harus dicoba.

Dan hari ini setelah bekerja semalaman aku harus pulang ke kontrakan baruku yang masih belum kubenahi sama sekali. Walah....

So, God please help me....

Wednesday, October 27, 2004

aYo S'Mangats [lah...!!]

"Ayo semangat dong!"

Begitu kataku setiap hari pada diriku sendiri. Bukannya apa-apa, aku merasa belakangan ini semangatku untuk bekerja cenderung menurun. Bukan lantaran bulan ini adalah bulan puasa sehingga aku pun jadi agak ogah-ogahan. Karena aku sendiri tidak menjalankan puasa.

Aku merasa jenuh dengan kondisi kantorku. Merasa jenuh dengan suasana keseharian yang rutin aku jalani. Setiap hari pergi ke kantor, tugas hanya di depan komputer dan menterjemahkan berita. Sesekali aku masih liputan, namun tetap saja aku merasakan titik kejenuhan yang amat.

Belum lagi suasana di kos-kosan -- yang selalu keanalogikan sebagai rumahku -- itu saat ini sedang tidak menyenangkan. Aku merasa suntuk dengan kawan-kawanku satu kos. Merasa sangat malas untuk bertemu dengan mereka dalam keseharian. Tapi, dibalik itu semua, aku juga sedang malas untuk berada di dalam kamar seharian dan sendirian. Bahkan membaca yang juga merupakan salah satu hobiku pun tak lagi aku jalani.

Yang saat ini aku inginkan adalah bisa pergi ke sebuah tempat dan menyendiri. Kalau tidak demikian, aku senang bisa pergi sebuah daerah dan berpetualang di sana. Entahlah, aku hanya ingin menjadi seorang asing bagi siapa saja yang aku temui. Aku sedang ingin menjadi diriku sendiri di antara orang-orang yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Sehingga aku bebas berekspresi tanpa takut akan ada orang yang mengkritikku.

Terkadang aku ingin sekali lagi menjadi diriku kala masih mahasiswa. Di mana aku sama sekali tidak pernah mempedulikan orang-orang disekitarku. Waktu di mana aku bebas berekspresi tanpa ada perasaann bahwa apa yang aku lakukan merupakan sebuah ketidakwajaran.

Namun, di sinilah saat ini aku berada. Di atas titik jenuh, di mana sebuah semangat membara bisa hilang sedemikian rupa tanpa aku bisa mencari kemana gerangan dia bersembunyi. Maka, yang bisa aku lakukan saat ini, hanya mencoba menyemangati diriku sendiri. Jika tidak maka semangat itu akan segera hilang musnah bagai ditelan bumi dan menguap ke atas awan.

So...., AYO SMANGATS DONGS....!!!!

Monday, October 25, 2004

Poligami No, Kawin Kontrak Yes!

Sebuah judul di cover majalah yang membuat aku tersenyum. Aku tak sempat membaca artikel yang dimuat di majalah itu. Namun, aku memiliki bayangan tersendiri jika memang para perempuan lebih memilih untuk melakukan kawin kontrak.

Pembicaraan kawin kontrak dan poligami pernah kubahas dengan seorang kawan. Dia mengatakan, "Wah, kalau aku sih mendingan kawin kontrak saja. Sudah ketahuan pasal-pasalnya yang kita bisa buat sendiri dengan persetujuan dari kedua belah pihak. LAgi pula lebih menguntungkan dari sisi materi. Kalau poligami, yang untung lakinya doang, soalnya dia boleh ambil apa saja punya kita. Iya kalau nikahnya resmi, kalau dibawah tangan?"

Buat aku pribadi, keduanya, baik poligami maupun kawin kontrak tidak ada yang aku setujui. Keduanya tidak bisa menaikkan derajat dan martabat perempuan. Selain itu, poligami dan kawin kontrak sudah mengaburkan kesakralan nilai sebuah institusi bernama pernikahan. Apalagi buatku, sebuah pernikahan itu harus dijalani hanya satu kali satu orang. Institusi itu hanya bisa dibubarkan oleh kematian bukannya perceraian.

Saturday, October 23, 2004

ampun, saya bener2 kapoks...!!!

Kejadiannya dua hari lalu. Tapi terasanya sampai sekarang. Aduh, ampun deh, aku kapok, se-kapok-kapoknya.

Malam ini aku tidak bisa bekerja dengan tenang dan enak. Pasalnya, perutku terasa teriris-iris. Pedihnya minta ampun. Gara-garanya, dua hari lalu aku marah dan sedih pada Yahya. Entah, kenapa hari itu aku jadi rada gila. Padahal, biasanya aku santai saja meski ada kemarahan yang menyeruak.

Aku ada janji dengannya untuk pergi ke Carefour, mau beli kulkas, kompor, kasur dan pertetekbengekan untuk rumah kami. Eh, tahunya aku lupa. Kebetulan, dua hari lalu aku libur dan aku lagi bener pengen nonton. Jadilah aku bilang sama dia kalau aku akan pergi nonton sendirian. Ternyata dia ngga suka aku pergi sendiri, pinginnya dia ikutan juga. Proteslah dia padaku. Dan sekali lagi aku merasa sangat bersalah lantaran aku sudah lupa janji dan inginnya pergi sendiri.

Walah, entah setan mana yang ada di dalam otakku, maka aku ambil saja persediaan Jack Daniels di dalam almari yang tinggal separoh. Biasanya, aku hanya minum kalau aku tidak bisa tidur. Dan kali ini aku benar-benar ingin tidur seharian dan tidak mau peduli dengan perasaan bersalahku. Maka, tandaslah, setengah botol Jack Daniels, pindah ke dalam perutku. Tak seberapa lama, mulailah aku merasa tak sadarkan diri hingga aku memutuskan untuk tidur.

Entah jam berapa, aku tiba-tiba merasa ada yang membangunkan aku. Kepalaku langsung terasa sangat amat ringan. Dan ketika aku usahakan untuk mengangkatnya, yang terjadi adalah jackpot...! Semalaman aku jackpot berkali-kali. Gila, baru kali ini aku mabok sampai muntah-muntah. Biasanya ngga pernah seperti itu. Yang paling parah, aku merasakan sakit perut yang amat sangat lantaran kontraksi yang tiada hentinya. Man..., aku ngga mau mabok sampai seperti itu lagi. Capek dan menguras energi. Selain itu, aku juga ngga mau merasakan sakit perut seperti saat ini.

Tuesday, October 19, 2004

[kuCOBA!] mengerti dia

Ketakutanku bisa mengerti tentang Yahya dan hubungan yang aku punya dengannya benar-benar terjadi. Aku yang terbiasa sendirian dan tidak pernah mendiskusikan keputusan yang aku ambil, sering terkejut akan protes-protes Yahya. Dia sering bertanya kepadaku, "Kamu anggap aku ini apamu? Kenapa kamu sering mengambil keputusan sendiri tanpa terlebih dahulu bertanya atau setidaknya mendiskusikannya denganku."

Tidak mudah buatku bisa mengerti dan memahami adanya sebuah hubungan. Apalagi sejak kecil aku dididik untuk tidak terlalu bergantung terhadap orang lain. Aku juga dibiasakan untuk berpikir cepat dalam mengambil keputusan. Aku terbiasa berpikir untuk diriku sendiri, yang tanpa aku sadari itu masih kubawa ketika aku sudah melangkah ke arah yang serius dengan Yahya.

Aku berusaha untuk bisa mengerti dan memahami orang lain, terutama dengan Yahya yang selalu memperhatikan aku. Namun, sekeras apapun aku berusaha, nyatanya kebiasaanku untuk berpikir cepat tanpa second opinion itu, sering kali membuat kami berdua bersitegang.

Aku tidak ingin menyusahkan dia. Aku juga tidak ingin hubungan yang aku punyai dengan Yahya kandas di tengah jalan lantaran kesalahan yang sering aku lakukan. Ya.. inilah proses yang aku harus lalui dengannya. Sebuah proses yang tidak mudah dan penuh dengan liku.

Aku seringkali tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Lantaran segala yang diungkapkannya memang benar adanya. Aku memang masih sering memikirkan diriku sendiri. Ada rasa takut kehilangan hak-hakku sebagai individu. Aku tahu itu sebuah konsekuensi dalam menjalin hubungan, namun tetap saja, aku merasa sangat ingin tidak dikekang olehnya. SELFISH!

Monday, October 18, 2004

Rinduku.......!

Kembali bekerja setelah liburan selama satu minggu. Ternyata tak ada tugas yang menantiku. Lemas rasanya badan, lantaran aku berharap bisa kembali bekerja dengan tenaga penuh. But, hey, that's live. kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di kemudian hari.

Liburan selama satu minggu banyak menyimpan kenangan. Dengan waktu yang sedemikian mepet, aku harus bisa berkunjung ke banyak lokasi. Yang ada akhirnya adalah rindu yang tak kesampaian. Aku hanya bisa berkunjung dan menjumpai orang-orang yang aku rindukan hanya dalam hitungan jam. Tak sempat aku berbincang dan mencurahkan isi di kepala dan hatiku. Padahal banyak hal yang aku ingin sampaikan kepada orang-orang itu.

Anyway, toh aku sempat berziarah ke makam kakekku yang sudah lebih dari satu tahun tak kukunjungi. Senang sekali rasanya bisa pergi ke tempat kakekku berbaring untuk selamanya. Meski selama ini, kami juga sering bertemu dan berbincang di dalam mimpi. Tapi bisa menaburkan kembang setaman di atas pusara beliau memang satu hal yang sangat aku rindukan.

Satu hal lagi yang membuatku puas, aku sempat berjumpa dengan nenekku yang cantik. Aku sayang sekali pada beliau. Dan aku selalu berusaha untuk berkunjung ketika aku pulang. Aku berharap dia bisa melihat pernikahanku tahun depan.

so, saat ini, ketika aku kembali lagi ke kantor, ternyata aku sudah merindukan setumpuk pekerjaan yang tak juga kelihatan batang hidungnya. Sebal!

Saturday, October 09, 2004

[Libur Telah Tiba]

Besok aku pulang.
Sudah siapkan segala keperluan.
Sudah siapkan daftar menu yang harus kumakan di rumah.
Nyam..., mamiku pun sudah bersiap memasakkan makanan kesukaanku.

Aku merasa sangat tidak sabar untuk segera pulang. Ingin sekali ketemu dengan ayah dan ibuku. Apalagi kami akan mendiskusikan rencanaku ke depan. Belum lagi aku akan segera bisa joint ke perusahaan baru ayahku. Not bad, untuk sampingan.

Dua malam lalu aku sempat berbincang di telepon dengan mami. Becanda dengannya dan merencanakan apa saja yang akan aku lakukan di rumah selama seminggu. Wah..., wah..., ternyata agenda lliburan yang lumayan padat. Pergi ke rumah nenek di sebuah kota bernama Trenggalek, ziarah ke makam kakek, plesiran dengan kakakku dam juga mau ikutan megengan untuk selamatan dua kakekku dan seorang nenekku yang sudah meninggal. Biasalah, itu adalah kebiasaan orang jawa menjelang bulan puasa tiba.

Thursday, October 07, 2004

GiLa KeRJa

Kembali lagi. Kegilaanku untuk stay di kantor sampai pagi menjelang, kumat lagi. Sepertinya sedang enggan untuk stay di kos-kosan yang lebih sering kusebut rumah itu. Padahal saat ini, aku sedang sakit, biasalah, sedikit batuk lantaran radang tenggorakan yang menjadi penyakit langgananku.

Aku sedang menikmati kantorku yang seringkali sepi di malam hari. Aku sedang menikmati kesibukan segelintir orang yang sedang pusing mengyiapkan materi untuk reportase malam dan reportase pagi. Bahkan aku tidak segan ikut serta dengan mereka. Entah, sepertinya saat ini aku sedang bersemangat. Ada keasyikan tersendiri di dalam suasana stres itu. Ada tekanan yang bisa membuat adrenalinku naik.

Dulu, sewaktu aku masih bekerja untuk raksasa pers bernama Jawa Pos, aku selalu seperti orang gila. Bagaimana tidak, hampir tiap hari redaktur meneriakiku. Wah, kalau bukan orang gila macam aku, pasti sudah banyak yang kabur. Untunglah, otakku rada sedeng alias edan, jadinya, omelan dan juga makian mereka tak pernah bisa aku dengarkan dengan baik. Maklum, omongan mereka tidak pernah bisa masuk ke telinga kananku, sehingga tak perlu aku memasukkannya ke memoriku.

Sekarang, ketika kerja di trans tv, tak ada tekanan yang bisa membuat aku bekerja dengan kecepatan yang luar biasa. Maka ketika aku berada di kantor dan melihat rekan-rekanku sedang sibuk menyiapkan tayangan reportase, aku merasa tak ada salahnya ikut bergabung. Demikian juga, ketika aku dipercaya menjadi VJ, banyak yang bilang, kurang kerjaan. But, hey, itulah aku, aku suka tantangan. Aku tidak peduli dengan mereka, inilah aku yang selalu gila kerja.

Tuesday, October 05, 2004

P-A

05.23
depan komputer NPD
di samping buku Toto-chan yang sedang kubaca
di sebelah pesawat telepon yang menggoda

Selamat Pagi Jakarta...!!!!

Mataku masih belum terpicing sejak semalam. Tubuhku juga belum sempat terkulai lemas di atas tempat tidurku yang nyaman. Huah... aku menguap lebar-lebar, mencoba memasukkan oksigen ke dalam paru-paruku. Kantuk yang menyergapku sejak semalam masih saja bertahan. Padahal sudah kuusir dengan beberapa cangkir kopi pahit dan kental. Hmmm..., beginilah nasibku ketika harus bertugas menjadi PA -- production assitant.

Begadang semalam, padahal banyak orang yang sudah asyik dengan mimpi-mimpinya. Mondar-mamndir ke sana kemari menuruti semua perintah yang diberikan oleh produser. Dan mana kala kantuk mulai menyerang sekitar pukul 02.00, mulailah para produser memerintah kembali untuk segera menambah kekurangan berita yang ada. Akhirnya, aku harus membuat berita yang diambil dari stasiun televisi asing. Susah sekali bekerja jika kantuk sudah menyeruak muncul dan membuat mata terbebani dengan beban seberat 5 ton.

Huah.... aku kembali lagi menguap. Punggung dan pinggangku sudah capek. Aku ingin sekali pulang, tapi mana bisa. Nanti pukul 11.00 aku musti liputan. Mending kalau liputan dengan kawan, hari ini aku jadi VJ -- video journalist-- yang harus melakukan pekerjaan reporter dan juga campers. Hmmm, susah tapi aku juga senang. So, sekarang adalah saat yang tepat untuk menggelar alas tidurku di atas karpet kantor. Aku ingin merebahkan punggungku yang tulangnya serasa ingin copot.

Selamat pagi Jakarta...
Biarkan aku istirahat sejenak sebelum aku melihat wajahmu nan cantik!

Monday, October 04, 2004

DeJaVu

03 oktober 2003
20.30
Stasiun Gambir, Jakarta

Gerbong kereta api Argo Anggrek perlahan mulai bergerak. Seorang laki-laki bernama Anton, berada di gerbong kereta api itu. dia saat ini sedang berdiri di pintu sembari melihat keluar. Tangannya memegang erat tanganku yang berjalan semakin cepat seiring laju kereta api.
"Aku akan datang lagi. Ingat, aku sangat mencintaimu. Aku akan bertanggungjawab terhadap dirimu hingga kita tua nanti."
Aku mengangguk dalam-dalam. "I love you....," ucapku sebelum kereta api itu benar-benar memacu geraknya.
"Februari sayang, ingat Februari tahun depan aku akan meminangmu," seru Anton. Suaranya ditingkah derak ban kereta dengan rel, namun aku bisa membaca gerak bibirnya.

Setahun kini telah berlalu. Banyak peristiwa yang aku lalui dalam setahun itu. Hubunganku dengannya yang merupakan tujuanku, bubar di tengah jalan. Hubunganku dengannya dilanda badai ketika kami sama-sama berada dalam krisis. Dia harus kehilangan kedua orangtuanya. Sedang aku, terhenyak oleh kenyataan bahwa aku harus memulai kembali tinggal di Jakarta, sementara aku sudah menyiapkan diri untuk kembali tinggal di Surabaya. Maka, kehidupan kami pun jadi pasang surut. Rasa cinta yang ada di dalam hati kami masing-masing terpaksa kami kubur. Lantaran, keluarga besarnya menganggap aku tak layak menjadi istrinya.

"Kenapa harus dia sih? dia itu tidak bisa menjadi orang timur. Dia terlalu spontan, tidak bisa menata diri sendiri. Dia tidak bisa menghargai kamu sebagai laki-laki...." Masih banyak lagi perkataan keluarganya yang membuat harga diriku tersinggung. Mereka tidak pernah tahu, enam tahun yang telah aku lalui bersamanya. Aku selalu setia mendampinginya di masa-masa krisisnya. Aku tak pernah segan memberikan apa yang kupunya untuknya. Semuanya! Sayang, semua itu harus pupus di tengah jalan.

Kini aku sedang menikmati apa yang kupunya. Aku menikmati rancangan yang diberikan penguasa jagad raya ini terhadapku.

03 Oktober 2004
08.30
Stasiun Gambir

Seorang laki-laki sedang duduk di atas koper di halte suttle bus stasiun gambir. Dia memandang ke arah penjual nasi yang menggelar dagangan di depan laki-laki itu. Aku melangkah mendekati laki-laki yang bernama Anton itu. Dia memandang ke arahku, antara tersenyum dan tertegun. Aku berjalan ringan ke arahnya.
"Pagi...., bagaimana perjalananmu? Capek ya, sudah makan pagi atau belum?" ujarku sembari menyalami tangannya.
"Kamu tidak pernah berubah. Tetap riang dan semangat ya. Aku senang bisa melihatmu tertawa," lantas dia memelukku erat-erat, sambungnya,"Aku juga minta maaf atas apa yang dilakukan oleh keluargaku kepadamu. Mereka tidak berhak memberikan stempel itu kepadamu. Aku senang, akhirnya kamu bisa menemukan laki-lakimu. Orang yang selama ini kamu cari dan tidak bisa kamu temukan di dalam diriku. Maafkan aku yang tidak bisa membelamu di depan mereka semua." Lantas dia memelukku erat-erat. "Aku tak bisa melepaskanmu, tapi aku akan berusaha untuk bisa menerima yang ada saat ini. Berikan aku kesempatan ketiga seperti saat kamu memberikannya satu taun yang lalu," sambungnya.
"Aku tidak bisa memberimu kesempatan untuk ketiga kalinya. Aku sudah memutuskan, meski aku sempat berharap, untuk pergi meninggalkanmu. Aku sudah bukan lagi milikmu. Maafkan aku."

Friday, October 01, 2004

TepaTi JanJi

"aku janji akan pulang bulan depan bu...," begitu kataku bulan agustus lalu. itu berarti bulan september aku sudah harus berada di Surabaya, bersua dengan ayah, ibu serta kakakku. namun, nyatanya, hingga tutup bulan aku masih saja stuck di jakarta.

saat ini, aku merasa rindu pada mereka, apalagi ayahku sudah sering bertanya kapan aku akan pulang. dia akan menagih cerita tentang pacar baruku yang rencananya juga akan ikut pulang ke Surabaya. Ayahku masih schock ketika menndengar aku dan pacarku sudah merencakan pernikahan. "walah, itu kan terlalu cepat. apalagi kalian baru saja kenal. bahkan belum ada satu bulan jadian," ujar ayahku suatu kali di telepon. Ayahku nan funky ternyata bisa juga terkejut dengan kenyataan bahwa aku yang selama ini dianggapnya sebagai gadis cilik tiba-tiba memutuskan untuk berumah tangga.

Nah, hari ini, aku sudah menelepon rumah. aku bilang ke ibu bahwa aku akan tepati janji untuk pulang bulan ini, sebelum aku dipindahkan ke program baru. I'm gonna be home!!!!